Liputan6.com, Jakarta - Pemerintah Indonesia serius untuk mengembangkan energi baru terbarukan (EBT) untuk mendukung target kelistrikan dalam program 35 ribu Mega Watt (MW). Pemerintah mengharapkan dalam lima tahun ke depan sudah ada implementasi dari pengembangan energi baru terbarukan.
Ketua Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI) Rachmat Gobel menyatakan, pengembangan energi baru terbarukan di Indonesia belum menunjukkan kemajuan yang pesat dalam beberapa tahun terakhir. Oleh sebab itu, Presiden Joko Widodo ingin di tahun ini dan tahun mendatang pengembangan energi baru terbarukan harus ditingkatkan.
Alasannya dengan pengembangan energi baru terbarukan bisa menjadi mendukung atau bahkan menjadi pengganti energi fosil yang cadangannya semakin menipis. Kandungan cadangan minyak yang dimiliki Indonesia hanya 0,2 persen dari cadangan minyak dunia. Sedangkan cadangan batu bara Indonesia hanya 0,6 persen dari cadangan dunia.
Jika energi fosil tersebut terus dieksplorasi tanpa ada pendukung dari energi lain, potensi krisis energi akan semakin besar. "Banyak yang kami coba lakukan walau belum maksimal, karena untuk mewujudkan EBT butuh upaya besar dari pemerintah maupun kita semua," kata Rachmat, dalam musyawarah nasional METI ke-6, di Kantor Pusat PLN, Jakarta, Kamis (29/5/2015).
Menurut Rachmat, dalam 5 tahun ke depan pengembangan energi baru terbarukan menjadi salah satu fokus Presiden Joko Widodo. Mantan Gubernur DKI Jakarta itu terus membahas pengembangan energi baru terbarukan dalam rapat kabinet bersama jajarannya. "Walau belum terlihat hasilnya saat ini. Tapi 5 tahun ke depan diharapkan bisa ada hasil yang nyata," ungkapnya.
Pria yang juga menjabat sebagai Menteri Perdagangan tersebut menambahkan, energi baru terbarukan akan mengisi target ketenagalistrikan 35 ribu Mega Watt (MW) yang harus selesai lima tahun. Dengan begitu, pengembangan EBT juga dapat mendorong pertumbuhan ekonomi.
"EBT merupakan program yang harus didorong karena merupakan bagian untuk mewujudkan 35 ribu MW. Jadi fokus pemerintah dalam rencana pembangunannya adalah mendorong pertumbuhan ekonomi," pungkasnya.
Sebelumnya, Ketua Komisi VII DPR RI, Kardaya Warnika mengatakan bahwa Indonesia diperkirakan akan mengalami krisis energi pada 2019 jika tidak segera mengembangkan energi baru terbarukan atau yang biasa disebut dengan energi alternatif.
Ia menilai saat ini sebagian besar pihak yang berkepentingan di Indonesia masih terbuai dengan masa lalu saat negara ini masih memiliki kekayaan energi fosil yang cukup besar. Padahal pada kenyataannya sumber energi fosil seperti minyak dan gas bumi dan batu bara yang dimiliki Indonesia sangat minim.
Dengan semakin sedikitnya sumber energi fosil tersebut, dalam hitungan Kardaya, Indonesia akan mengalami krisis pada 2019 nanti. "Di sisi energi, kita akan defisit. Kalau tidak melakukan trobosan kita akan mengalami krisis," jelasnya. (Pew/Gdn)
Jokowi Fokus Kembangkan Energi Baru Terbarukan
Kandungan cadangan minyak yang dimiliki Indonesia hanya 0,2 persen dari cadangan minyak dunia.
Diperbarui 28 Mei 2015, 13:47 WIBDiterbitkan 28 Mei 2015, 13:47 WIB
Advertisement
Video Pilihan Hari Ini
EnamPlus
powered by
POPULER
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
Berita Terbaru
Seorang Pria Kehilangan Sepeda Motor saat Hendak Hindari Tawuran di Rawamangun
Indonesia Punya PLTS dengan Baterai Raksasa Pertama, di Sini Lokasinya
Tren Baju Ramadan dan Lebaran 2025, Katun Bordir Bolong dan Warna Pastel Paling Diminati
Prabowo Luncurkan Danantara Besok 24 Februari 2025, Simak Jadwalnya
Harga Tiket MRT Jakarta 2025, Tarif Naik Sesuai Jarak Tempuh
Buku Kebaya, Keangggunan Yang Diwariskan Dirilis, Ajak Masyarakat untuk Jaga Warisan Budaya
VIDEO: Markas Judol Jaringan Internasional Digerebek di Batam, Uang Rp13 Miliar Disita
Profil Fahmi Muhammad Hanif, Sosok Pengusaha yang Juga Salah Satu Bupati Termuda di Indonesia
Ini Alasan Hyundai STARGAZER Essential Tech Cocok Buat Dipakai Mudik
Sinopsis Drakor Buried Hearts, Park Hyung Sik Tampilkan Sisi Baru
Kepala OIKN Bakal Bagi-Bagi Lahan IKN Gratis, Menteri ATR/BPN Buka Suara
Ciri-ciri Penyakit Gula Kering: Kenali Tanda, Gejala, dan Komplikasinya