Ridwan Kamil: Jawa Barat Kehilangan Tanah 30 Hektare dalam 10 Tahun Imbas Perubahan Iklim

Ridwan Kamil cerita, saat dirinya menjabat sebagai Gubernur Jawa Barat ia sempat mendatangi suatu wilayah di Bekasi, di mana salah seorang warga mengaku kehilangan tanah bersertifikat lantaran lenyap tergenang laut.

oleh Natasha Khairunisa Amani Diperbarui 26 Feb 2025, 17:15 WIB
Diterbitkan 26 Feb 2025, 17:15 WIB
Calon Gubernur Jakarta Ridwan Kamil, sempat menghadiri Golkar Institute bertajuk Executive Education Program for Young Political Leaders, pada Jumat 6 Desember 2024.
Calon Gubernur Jakarta Ridwan Kamil, sempat menghadiri Golkar Institute bertajuk Executive Education Program for Young Political Leaders, pada Jumat 6 Desember 2024. (Foto: Tim Media RK).... Selengkapnya

Liputan6.com, Jakarta - Mantan Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil membagikan pengalamannya saat menemukan sejumlah tanah yang telah hilang akibat perubahan iklim. Pria yang akrab disapa Kang Emil itu mencatat, Jawa Barat telah kehilangan 30 hektar tanah dalam 10-15 akibat perubahan iklim.

"Jawa Barat hari ini dalam waktu 10-15 tahun hilang 30 hektar tanah, menjadi laut. Dalam 15 tahun di Bekasi," ungkap Ridwan Kamil dalam Climate Talk Liputan6 yang disiarkan pada Rabu (26/2/2025).

Ridwan Kamil cerita, saat dirinya menjabat sebagai Gubernur Jawa Barat ia sempat mendatangi suatu wilayah di Bekasi, di mana salah seorang warga mengaku kehilangan tanah bersertifikat lantaran lenyap tergenang laut.

" Ini merupakan suatu masalah di depan mata untuk tahun 2075 mengingat mayoritas kota dan kabupaten di Indonesia itu akan seperti ujung Bekasi," ujar dia.

RK menyoroti, salah satu solusi untuk mencegah tanah yang tenggelam adalah dengan membangun bendungan air. Namun hal ini juga tidak terlepas dengan mahalnya biaya yang dibutuhkan untuk menghadirkan fasilitas tersebut.

"Berapa biayanya buat bikin bendungan dari Jakarta sampai Surabaya? sekitar 800 triliun. Itu merupakan harga yang cukup mahal supaya kota-kota dan kabupaten di Sumatera hingga Jawa tidak tenggelam. Jadi sangat mahal," jelasnya.

Karena itu, RK pun mendorong masyarakat untuk mulai menekan risiko perubahan iklim dengan langkah kecil. Salah satunya, mempelajari dan mencari informasi terkait cara-cara menghitung penggunaan karbon dalam kehidupan sehari-hari.

"Contoh kecil, adalah bagaimana saya ingin carbon trading ini tidak melulu dijalankan bursa korporasi. (Contoh) gampang misal ketika event yang jumlah pesertanya 100 (orang) meregister dirinya untuk mengkalkulasi (penggunaan karbon masing-masing)," imbuh Ridwan Kamil.

 

Makin Memburuk, Indonesia Berisiko Hadapi Dampak Perubahan Iklim

Jaga Kawasan Pesisir, Pertamina Tanam Ribuan Bibit Mangrove di Pantai Tiris Indramayu
Anggota Kelompok Tani Hutan Rapi Jaya Putra menanam bibit mangrove di Pantai Tiris, Pabean Ilir, Pasekan, Indramayu, Jawa Barat, Senin (7/10/2024). (Liputan6.com/Angga Yuniar)... Selengkapnya

Indonesia menghadapi ancaman serius dari perubahan iklim, sebagaimana ditunjukkan oleh data dari Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Sejak 1981 hingga 2018, terjadi peningkatan suhu sebesar 0,03 derajat C per tahun. Disertai kenaikan permukaan air laut sebesar 0,8-1,2 cm per tahun. Catatan ini disinyalir hadi ancaman signifikan, mengingat 65 persen penduduk Indonesia tinggal di wilayah pesisir.

Direktur Konservasi Energi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Hendra Gunawan mengatakan, data-data tersebut menegaskan perubahan iklim bukan lagi ancaman di masa depan. Melainkan tantangan yang sudah terjadi dan akan terus memburuk tanpa langkah mitigasi yang tepat.

"Kalau kita lihat dari Global Climate Risk Index, ini indeks kerentanan suatu negara terhadap dampak perubahan iklim, Indonesia menduduki peringkat ke-14. Jadi negara kita cukup rentan terhadap perubahan iklim. Sebagai negara kepulauan, Indonesia memang sangat rentan terhadap risiko dan dampak perubahan iklim," ungkapnya dalam keterangan tertulis, Sabtu (14/9/2024).

Hendra juga mengungkit catatan World Energy Council, Indonesia memiliki lima variasi sumber energi. Untuk menghadapi tantangan ini, Indonesia harus seimbang dalam menjaga energy security, energy equity, dan keberlanjutan lingkungan.

"Saat ini, kita berada di peringkat 58 dari 126 negara. Ini menunjukkan bahwa kita masih berada di papan tengah, sehingga perlu ada upaya untuk memperbaiki posisi ini agar indeks kita semakin baik," lanjut Hendra.

 

Komitmen Indonesia

Turap bambu di kawasan Pelabuhan Marunda
Sejumlah pekerja tampak memasang turap bambu yang menjadi penangkal abrasi di pesisir pantai kawasan Pelabuhan Marunda Center Terminal (MCT) Jurong Port JV, Tarumajaya, Bekasi, Jawa Barat (23/6/2023). (merdeka.com/Imam Buhori)... Selengkapnya

Indonesia sebagai bagian dari komunitas global telah berkomitmen pada berbagai upaya mitigasi perubahan iklim. Salah satunya melalui Paris Agreement dengan komitmen menjaga kenaikan suhu global tidak melebihi 2 derajat C, dan diupayakan hingga kurang dari 1,5 derajat C.

"Selain meratifikasi Paris Agreement, Indonesia juga memiliki komitmen nasional seperti Enhanced NDC (E-NDC) dan target Net-Zero Emission (NZE)," imbuh Hendra.

Menurut dia, efisiensi energi juga merupakan langkah penting dalam upaya mitigasi perubahan iklim. Langkah efisiensi energi yang dapat diambil termasuk manajemen energi, peningkatan efisiensi peralatan rumah tangga, penggunaan Penerangan Jalan Umum (PJU) hemat energi, serta adopsi kendaraan listrik.

"Kita punya amanah untuk menurunkan emisi pada 2030 sebesar 358 juta ton setara karbon. Langkah pertama yang bisa kita lakukan adalah efisiensi energi dengan target 37 persen. Jadi, jangan lupakan pentingnya efisiensi energi," pungkas Hendra.

 

Lanjutkan Membaca ↓
Loading

Video Pilihan Hari Ini

EnamPlus

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya