Liputan6.com, Jakarta - Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, utang Apple terkait kewajiban Apple dalam siklus investasi 2020-2023 sebesar USD10 juta telah dibayar pada 16 Desember 2024.
Pembayaran tersebut berhubungan langsung dengan Peraturan Menteri Perindustrian No 29 Tahun 2017, yang mengatur tentang Ketentuan dan Tata Cara Perhitungan Nilai Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) untuk produk telepon seluler, komputer genggam, dan komputer tablet.
Baca Juga
"Utang Apple yang menjadi kewajibannya dalam siklus investasi 2020-2023 senilai 10 juta dolar AS sudah dibayar per 16 Desember 2024," kata Agus dalam konferensi pers media di Kementerian Perindustrian, Rabu (26/2/2025).
Advertisement
Adapun dengan sanksi yang timbul dari peraturan tersebut, Apple memilih memenuhi kewajiban dengan cara yang berbeda. Apple memilih untuk memenuhi sanksi dengan menghadirkan salah satu bagian dari Global Value Chain (GVC) mereka, yakni ICT Luxshare, untuk berinvestasi di Indonesia.
"Sanksi itu kebutuhan untuk Apple membayar sanski itu diakui. Apple membayar sanksinya dengan cara menghadirkan perusahaan yang merupakan bagian dari Global Value Chain (GVC) atau supplier mereka untuk masuk atau menanamkan modal investasi di Indonesia. Dalam hal ini Apple menugaskan ICT Luxshare," ujar Menperin.
ICT Luxshare, yang bertugas memproduksi Airtag, akan melakukan investasi senilai sekitar USD150 juta di Indonesia, tepatnya di Batam.
Nantinya, hasil dari investasi tersebut akan menyuplai 65 persen dari total kebutuhan Airtag global. Artinya, potensi ekspor dari investasi ini diperkirakan akan sangat besar.
"Investasi ICT Luxshare yang akan memproduksi Airtag itu sekitar USD150 juta. Di situ juga disampaikan komitmen bahwa produksi Airtag yang akan dibuat di Indonesia Batam, dia akan menyuplai 65 persen dari kebutuhan Airtag di dunia. Jadi potensi ekspornya cukup tinggi," ujarnya.
Â
Pendirian Lini Produksi di Bandung
Selain investasi di Batam, Apple juga berkomitmen untuk memperluas produksi di Indonesia. Salah satu bagian dari komitmen tersebut adalah pembentukan lini produksi di Long Harmony, sebuah perusahaan yang berlokasi di Bandung, Jawa Barat.
Kata Menperin, Long Harmony akan memproduksi kain mesh yang diperlukan untuk pembuatan Airpods Max. Langkah ini menambah kedalaman integrasi Indonesia ke dalam rantai pasokan global Apple, menciptakan lebih banyak peluang pekerjaan dan memperkuat industri manufaktur dalam negeri.
"Di luar itu juga bagian dari komitmen investasi Apple sedang menyiapkan satu lini produksi di sebuah perusahaan bernama Long Harmony di Bandung, Jawa Barat, yang akan menjadi bagian dari GVC Apple aksesoris, dimana Long Harmony akan memproduksi kain mesh. Kain mesh itu komponen yang dibutuhkan untuk memproduksi Airpod Max," ujar Menperin.
Advertisement
Dampak Positif untuk Ekonomi Indonesia
Menurut Menperin, langkah-langkah ini menunjukkan komitmen Apple terhadap pengembangan ekonomi Indonesia melalui transfer teknologi, peningkatan keterampilan tenaga kerja, dan pemberdayaan industri lokal.
Dalam waktu singkat, Indonesia berhasil menempatkan dua perusahaan yang menjadi bagian dari GVC Apple, yakni ICT Luxshare dan Long Harmony. Hal ini bukan hanya menunjukkan kemajuan besar dalam hubungan ekonomi Indonesia dengan Apple, tetapi juga membuka jalan bagi lebih banyak investasi serupa di masa depan.
"Dalam waktu yang sangat singkat, Indonesia sudah bisa menempatkan dua perusahaan yang menjadi GVC untuk Apple melalui investasi ICT Luxshare di Batam dan juga pembentukan lini produksi baru Long Harmony di Bandung," pungkasnya.
