Liputan6.com, Jakarta Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, salah satu penyebab utama Nilai tukar Rupiah mengalami pelemahan dalam beberapa waktu terakhir adalah meningkatnya kekhawatiran terkait arah perang dagang yang diperkirakan akan berlanjut pada pekan depan.
Ketidakpastian ini mendorong investor untuk mencari perlindungan dengan membeli Dolar AS sebelum libur panjang, sehingga menyebabkan tekanan terhadap nilai tukar Rupiah.
Baca Juga
"Pelemahan nilai tukar Rupiah pada hari ini, salah satunya disebabkan oleh berlanjutnya kekhawatiran terkait arah perang dagang pada pekan depan, sehingga investor mengantisipasi risiko tersebut dengan melakukan pembelian Dolar AS sebelum libur panjang," kata Josua kepada Liputan6.com, Kamis (27/3/2025).
Advertisement
Selain faktor eksternal tersebut, pelemahan Rupiah juga dipicu oleh tren penurunan harga komoditas ekspor utama Indonesia dalam satu minggu terakhir.
Komoditas seperti crude palm oil (CPO), batu bara, dan nikel mengalami koreksi harga yang cukup signifikan. Penurunan harga ini berpotensi memperlebar defisit transaksi berjalan Indonesia tahun ini. Dengan semakin memburuknya neraca perdagangan, pasar memproyeksikan nilai tukar Rupiah akan mengalami depresiasi lebih lanjut.
"Selain dari sisi perang dagang, depresiasi nilai tukar Rupiah juga disebabkan oleh tren penurunan harga komoditas ekspor utama Indonesia, seperti CPO, batu bara, serta nikel dalam 1 minggu terakhir," ujarnya.
Penguatan Dolar AS dan Dampaknya ke Rupiah
Di sisi lain, penguatan Dolar AS terhadap mayoritas mata uang global juga menjadi faktor yang memperberat tekanan terhadap Rupiah. Penguatan ini didorong oleh kombinasi beberapa faktor, seperti antisipasi perang dagang.
Investor global cenderung mengalihkan investasinya ke aset yang lebih aman (safe haven) seperti Dolar AS untuk mengurangi risiko akibat ketidakpastian perdagangan global.
Â
Libur Panjang
Kemudian, menjelang libur panjang, dalam kondisi seperti ini, investor dan pelaku pasar lebih memilih untuk memegang mata uang kuat seperti Dolar AS guna menghindari risiko volatilitas pasar yang bisa terjadi selama libur panjang.
Kombinasi faktor ini membuat permintaan terhadap Dolar AS meningkat, yang pada akhirnya memberikan tekanan lebih lanjut terhadap Rupiah.
"Penguatan dollar AS terhadap mata uang global didorong oleh antisipasi perang dagang dan menjelang libur panjang," ujar Josua.
Â
Â
Advertisement
Respons Bank Indonesia dan Proyeksi Pergerakan Rupiah
Kata Josua, untuk menjaga stabilitas nilai tukar, Bank Indonesia (BI) diperkirakan akan melakukan intervensi di pasar uang melalui berbagai instrumen kebijakan moneter. Langkah ini bertujuan untuk menahan tekanan terhadap Rupiah agar tidak mengalami depresiasi lebih dalam.
"BI juga diperkirakan akan memprioritaskan stabilitas nilai tukar Rupiah melalui kebijakan intervensi di pasar uang," uajrnya.
Seiring dengan kondisi yang ada, nilai tukar Rupiah diperkirakan akan bergerak dalam kisaran Rp 16.500 – 16.650 per Dolar AS dalam jangka pendek.
Namun, prospek jangka menengah dan panjang masih bergantung pada perkembangan kondisi ekonomi global serta respons kebijakan yang diambil oleh Bank Indonesia dan pemerintah.
"Secara umum, kami melihat Rupiah berpotensi bergerak di kisaran IDR16.500-16.650 per Dolar AS dalam jangka pendek," pungkasnya.
