Kasus Corona COVID-19 di AS Meledak, tapi Angka Kematian Datar

Perbedaan angka kematian dan kasus baru Virus Corona (COVID-19) di AS sangat mencolok.

oleh Tommy K. Rony diperbarui 07 Jul 2020, 19:25 WIB
Diterbitkan 07 Jul 2020, 19:25 WIB
Perayaan Kemerdekaan AS pada 4 Juli 2020 di Gedung Putih.
Perayaan Kemerdekaan AS pada 4 Juli 2020 di Gedung Putih. Dok: Twitter @realdonaldtrump

Liputan6.com, Washington, D.C. - Jumlah kasus Virus Corona (COVID-19) di AS masih mengalami lonjakan tinggi. Setelah menurun pada Mei lalu, kasus di AS mendadak kembali meledak sejak bulan lalu.

Berdasarkan data Johns Hopkins University, Selasa (7/7/2020), kasus di AS sudah menyentuh 2,9 juta. Dari jumlah itu ada 130 ribu pasien yang meninggal dan 924 ribu pasien sembuh.

Presiden AS Donald Trump mengklaim bahwa kasus di AS tinggi karena 40 juta orang sudah dites. Ia juga mengklaim bahwa tingkat kematian di AS akibat corona merupakan yang terendah di dunia.

"Tingkat kematian Virus China di AS adalah yang terendah di dunia! Juga, kematian di AS sedang menurun, 10 kali berkurang ketimbang saat puncak pandemi," ujar Presiden Trump via Twitter, Selasa (7/7/2020).

Klaim Trump terkait angka kematian terendah tidaklah tepat, akan tetapi angka kematian di AS memang melandai. Puncak kematian di AS sudah berlalu pada April lalu dengan hampir 5.000 kematian.

Pada grafik dari Our World in Data, tampak garis merah (kasus baru) naik tajam di AS, sementara garis biru (kasus kematian) tetap melandai.

Kasus harian Virus Corona (COVID-19) meroket, tetapi angka kematian tampak rendah. Dok: Our World in Data

Hingga kini, kasus corona COVID-19 di AS masih yang tertinggi di dunia. Pemerintahan Trump menolak untuk menerapkan tindakan lockdown dan cenderung fokus ke perekonomian.

Donald Trump juga meminta agar sekolah kembali dibuka pada tahun ajaran baru pada musim gugur mendatang.

* Follow Official WhatsApp Channel Liputan6.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini:


Ilmuwan Sebut Corona COVID-19 Menyebar Via Udara, Pedoman Virus WHO Dikaji Ulang

FOTO: Kasus COVID-19 Dunia Tembus 10 Juta, 500 Ribu Orang Meninggal
Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus saat konferensi pers daring dari Swiss dilihat di Brussel, Belgia, Senin (29/6/2020). Virus corona COVID-19 telah menginfeksi lebih dari 10 juta orang di seluruh dunia, lebih dari 500 ribu di antaranya meninggal dunia. (Xinhua/Zhang Cheng)

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sedang meninjau sebuah laporan yang mendesaknya untuk memperbarui pedoman terkait Virus Corona COVID-19, setelah lebih dari 200 ilmuwan dalam sepucuk surat kepada badan kesehatan, menguraikan bukti bahwa virus itu dapat menyebar dalam partikel-partikel kecil di udara.

Mengutip Channel News Asia, WHO mengatakan SARS-CoV-2, virus yang menyebabkan Virus Corona COVID-19, menyebar terutama melalui tetesan kecil yang dikeluarkan dari hidung dan mulut orang yang terinfeks,i yang dengan cepat tenggelam ke tanah.

Tetapi dalam sebuah surat terbuka kepada badan yang bermarkas di Jenewa, yang diterbitkan pada Senin 6 Juli dalam jurnal Clinical Infectious Diseases, 239 ilmuwan di 32 negara menguraikan bukti bahwa mereka mengatakan menunjukkan partikel virus mengambang dapat menginfeksi orang yang menghirupnya.

Karena partikel-partikel yang lebih kecil itu dapat bertahan lama di udara, para ilmuwan mendesak WHO untuk memperbarui panduannya.

"Kami mengetahui artikel itu dan sedang meninjau isinya dengan para ahli teknis kami," kata juru bicara WHO, Tarik Jasarevic dalam sebuah email. 

Lanjutkan Membaca ↓

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya