Tragis, 6 Bayi Meninggal Akibat Kedinginan di Gaza

Di antara bayi-bayi yang meninggal terdapat yang berusia satu hingga dua hari dengan bobot tubuh antara 1,7 hingga 2 kg.

oleh Khairisa Ferida Diperbarui 26 Feb 2025, 07:08 WIB
Diterbitkan 26 Feb 2025, 07:08 WIB
Bayi Prematur Gaza
Petugas medis mempersiapkan bayi prematur untuk dibawa ke Mesir setelah mereka dievakuasi dari Rumah Sakit Al Shifa di Kota Gaza ke rumah sakit di Rafah, Jalur Gaza, Senin (20/11/2023). Layanan penyelamatan Bulan Sabit Merah Palestina mengatakan mereka mengevakuasi 28 bayi prematur melintasi perbatasan Mesir dalam sebuah operasi yang diselenggarakan dengan badan-badan PBB. (AP Photo/Fatima Shbair)... Selengkapnya

Liputan6.com, Gaza - Setidaknya enam bayi meninggal dalam dua minggu terakhir di Jalur Gaza akibat cuaca dingin, kurangnya tempat berlindung, dan pemanas yang memadai.

Dokter-dokter di Rumah Sakit Patient's Friends Benevolent Society (PFBS) di Kota Gaza menyatakan mereka merawat sembilan bayi baru lahir yang mengalami komplikasi kesehatan akibat cuaca dingin ekstrem. Dari sembilan bayi, lima di antaranya meninggal dan satu lainnya dalam kondisi kritis. Demikian seperti dikutip dari BBC, Rabu (26/2/2025).

Keluarga seorang bayi perempuan berusia dua bulan juga menyatakan anak mereka meninggal karena kedinginan di dekat kota Khan Younis.

Rumah Sakit PFBS mendesak pengiriman karavan dan bahan bakar segera untuk memperbaiki kondisi sekitar 945.000 warga Palestina yang mengungsi di tenda-tenda dan tempat penampungan sementara.

Hamas sendiri menyebut Israel gagal mengizinkan masuknya tenda, karavan, dan perlengkapan tempat berlindung lainnya dalam jumlah yang disepakati selama gencatan senjata yang dimulai lima minggu lalu. Israel membantahnya.

Sebagian besar dari 2,1 juta penduduk Jalur Gaza telah mengungsi beberapa kali selama perang 16 bulan antara Israel dan Hamas dan hampir 70 persen bangunan di wilayah tersebut diperkirakan rusak atau hancur.

Sistem perawatan kesehatan Jalur Gaza telah runtuh, dengan hanya 18 dari 35 rumah sakit yang berfungsi sebagian dan kekurangan peralatan medis penting.

Menurut situs web meteorologi, suhu malam hari di Jalur Gaza turun di bawah 10 derajat Celsius selama dua minggu terakhir.

"Dalam beberapa minggu terakhir, kami merawat sembilan bayi baru lahir di rumah sakit kami. Mereka datang dengan kondisi yang disebut 'cedera akibat kedinginan' atau hipotermia," kata dokter anak di Rumah Sakit PFBS Samer Lubad kepada Al Jazeera TV.

"Tiga bayi berhasil selamat, dirawat dengan baik, dan telah dipulangkan. Masih ada satu bayi yang dirawat di unit perawatan intensif neonatal (ICU) kami dalam kondisi kritis."

Dia menambahkan, "Kondisi ini terjadi karena cuaca dingin, kurangnya tempat berlindung yang aman, tidak adanya pemanas sentral, dan listrik di Jalur Gaza."

 

Israel Tidak Patuhi Kesepakatan Gencatan Senjata

Bayi Prematur Gaza
Mereka dibawa dengan armada ambulans, dirawat oleh dokter yang memantau inkubator, setelah meninggalkan rumah sakit. (AP Photo/Fatima Shbair)... Selengkapnya

Kepala departemen pediatrik di Rumah Sakit Nasser di Khan Younis menuturkan kepada Associated Press bahwa mereka telah menerima jenazah seorang bayi perempuan berusia dua bulan yang meninggal karena hipotermia pada Selasa.

Sebuah video yang diunggah oleh seorang jurnalis lokal memperlihatkan gadis itu dikuburkan oleh ayah dan pamannya, yang mengatakan dia bernama Sham Yousef al-Shambari.

Sang paman mengisahkan bahwa ibu dari bayi malang itu dalam keadaan sehat dan mendapati putrinya "kaku seperti kayu karena kedinginan" ketika dia mencoba membangunkannya untuk disusui pada malam hari di tenda di daerah al-Mawasi.

Direktur Jenderal Kementerian Kesehatan Jalur Gaza Muneer al-Boursh menyatakan bahwa total 15 anak telah meninggal karena kedinginan sejak awal musim dingin. Dia menuduh Israel gagal mematuhi protokol kemanusiaan, termasuk mengizinkan masuknya peralatan medis, perlengkapan pemanas, tenda, dan karavan sejak gencatan senjata dengan Hamas dimulai pada 19 Januari.

Hamas sebelumnya mengatakan Israel diharuskan mengizinkan masuknya sekitar 300.000 tenda dan 60.000 karavan selama fase pertama kesepakatan gencatan senjata yang berlangsung selama enam minggu.

Badan militer Israel COGAT mengklaim pihaknya berkomitmen dan mematuhi kewajiban untuk mengizinkan masuknya 4.200 truk bantuan kemanusiaan per minggu ke Jalur Gaza, termasuk yang membawa tenda dan perlengkapan tempat tinggal.

"Berdasarkan data yang tersedia bagi kami, ratusan ribu tenda telah memasuki Jalur Gaza sejak perjanjian mulai berlaku," klaim COGAT.

Hal ini terjadi di tengah ketidakpastian mengenai apakah gencatan senjata akan berlanjut, saat fase pertama kesepakatan tersebut akan berakhir.

Pada Minggu (23/2), Israel menunda pembebasan sekitar 600 tahanan Palestina dengan imbalan 10 sandera yang telah diserahkan oleh Hamas, menuduh kelompok itu secara sinis menggunakan sanderanya untuk tujuan propaganda.

Hamas menuduh Israel melakukan pelanggaran "terang-terangan" terhadap kesepakatan gencatan senjata dan menegaskan bahwa pembicaraan tidak langsung tentang langkah selanjutnya, termasuk pada fase kedua kesepakatan, bersyarat pada pembebasan tahanan tersebut.

Perang terbaru di Jalur Gaza meletus pada 7 Oktober 2023 setelah Hamas melancarkan serangan ke Israel, yang mengklaim 1.200 orang tewas dan 251 lainnya disandera. Serangan balasan Israel pada hari yang sama hingga hari ini telah membuat lebih dari 48.000 nyawa warga Palestina melayang.

Lanjutkan Membaca ↓
Loading

Video Pilihan Hari Ini

EnamPlus

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya