Liputan6.com, Paris - Serangan pembakaran terjadii di konsulat Rusia di Marseille, Paris pada Senin (24/2/22025). Dua peneliti Prancis kemudian mengaku melakukan serangan tersebut.
"Dua warga negara Prancis yang bekerja di badan penelitian negara utama Prancis telah mengakui bertanggung jawab atas serangan pembakaran pada hari Senin (24/2) di konsulat Rusia di Marseille," kata jaksa penuntut pada hari Rabu (26/2).
Advertisement
"Dua warga negara Prancis yang melemparkan alat peledak ke konsulat Rusia di Marseille dipekerjakan oleh Pusat Riset Ilmiah Nasional (CNRS)," kantor kejaksaan umum mengatakan kepada AFP Selasa (25/2) malam.
Advertisement
Menurut informasi, satu orang adalah seorang insinyur dan yang lainnya seorang ahli kimia. Mereka telah mengakui melakukan serangan itu.Tiga botol plastik dilemparkan ke taman konsulat dan dua di antaranya meledak pada peringatan tiga tahun invasi Rusia ke Ukraina pada hari Senin (24/2). Botol-botol itu berisi campuran nitrogen dan zat kimia lainnya.
Sejauh ini tidak ada yang terluka dan tiada kerusakan yang dilaporkan.
Adapun CNRS yang mempekerjakan dua pelaku serangan pembakaran, adalah lembaga penelitian di berbagai bidang termasuk biologi, matematika, dan kimia. Organisasi tersebut mempekerjakan peneliti dari bekas Uni Soviet, di antara negara-negara lainnya.
Moskow menyebut insiden itu sebagai "serangan teroris", sementara pemerintah Prancis mengutuk "setiap pelanggaran keamanan kompleks diplomatik".
Surat kabar La Provence melaporkan bahwa kedua pria itu, yang berusia empat puluhan dan lima puluhan, diidentifikasi selama protes pro-Ukraina di depan balai kota Marseille pada hari Senin (24/2).
Sejatinya pihak kedutaan Besar Rusia di Paris mengatakan telah meminta otoritas Prancis sebelum insiden tersebut untuk memperketat keamanan di sekitar misi diplomatik Rusia di Prancis "mengingat kemungkinan provokasi".
"Meskipun demikian, serangan semacam itu terjadi," kata kedutaan dalam sebuah pernyataan yang diunggah di akun Telegramnya pekan ini.
Komite Investigasi Rusia, yang menyelidiki kejahatan besar, mengatakan pada hari Selasa (25/2) bahwa mereka telah meluncurkan penyelidikan atas insiden tersebut. "Permintaan internasional untuk bantuan hukum sedang dipersiapkan," kata penyelidik Rusia dalam sebuah pernyataan.