Liputan6.com, Doha - Qatar Airways dalam pernyataannya pada Rabu (26/2) mengatakan bahwa seorang penumpang wanita meninggal di tengah penerbangan dan ditempatkan di sebelah pasangan asal Australia.
Pihak maskapai menyebut bahwa tinjauan internal telah menemukan awaknya "bertindak cepat, tepat, dan profesional" ketika mereka meletakkan jenazah seorang wanita yang meninggal di tengah penerbangan di sebelah pasangan Australia.
Advertisement
Maskapai penerbangan tersebut mengeluarkan pernyataan kepada BBC pada hari Jumat (28/2) setelah pasangan tersebut mengatakan kepada Channel Nine Australia bahwa mereka trauma oleh pengalaman dalam penerbangan dari Melbourne ke Doha. Qatar Airways telah meminta maaf dalam pernyataan sebelumnya atas "ketidaknyamanan atau tekanan yang mungkin ditimbulkan oleh insiden ini".
Advertisement
Insiden tersebut memicu perdebatan mengenai prosedur penanganan kematian di dalam pesawat.
Mitchell Ring dan Jennifer Colin, yang sedang bepergian ke Venesia untuk berlibur, mengatakan awak kabin telah meletakkan jenazah wanita itu, yang ditutupi selimut, di sebelah Ring selama empat jam terakhir dari penerbangan selama 14 jam.
Awak kabin mengalami kesulitan memindahkan jenazahnya melalui lorong ke bagian kelas bisnis karena "dia adalah wanita yang cukup besar", kata Ring.
Mereka kemudian meminta Tuan Ring untuk pindah dan menempatkan wanita itu di kursi yang didudukinya. Sementara Nyonya Colin diundang oleh penumpang lain untuk duduk di sebelahnya di seberang lorong, Tn. Ring mengatakan staf pesawat tidak menawarkan untuk memindahkannya ke tempat lain meskipun ada kursi kosong di sekitarnya.
Qatar Airways mengatakan pada hari Jumat (28/2) bahwa penanganan kru atas kematian wanita itu "sesuai dengan pelatihan dan praktik standar industri".
"Penumpang ditempatkan di kursi lain, dan seorang kru duduk sepanjang waktu bersama penumpang yang meninggal selama penerbangan hingga mendarat di Doha," kata pihak maskapai dalam pernyataannya. "Merupakan kenyataan yang tidak menguntungkan bahwa kematian yang tidak terduga terkadang terjadi di dalam pesawat di seluruh industri penerbangan dan kru kami sangat terlatih untuk menangani situasi ini dengan rasa hormat dan martabat sebanyak mungkin."
Maskapai penerbangan juga mengatakan bahwa mereka telah menawarkan dukungan dan kompensasi kepada keluarga almarhum dan penumpang lain yang "secara langsung terkena dampak" oleh insiden tersebut.
"Kami benar-benar memahami bahwa kami tidak dapat meminta pertanggungjawaban maskapai atas kematian wanita malang itu, tetapi tentunya setelah itu harus ada protokol untuk menjaga para pelanggan di dalam pesawat," kata Colin dalam wawancara yang disiarkan di televisi dengan Channel 9.
Saat pesawat mendarat, Tn. Ring mengatakan para penumpang diminta untuk tetap tinggal sementara staf medis dan polisi naik ke pesawat. Petugas ambulans kemudian mulai menarik selimut dari wanita itu dan dia melihat wajahnya, katanya.
"Saya tidak percaya mereka menyuruh kami untuk tetap tinggal," katanya, seraya menambahkan bahwa dia pikir mereka akan membiarkan para penumpang pergi sebelum staf medis tiba.
Barry Eustance, mantan kapten Virgin Atlantic, sebelumnya mengatakan kepada BBC bahwa menurut pengalamannya "awak pesawat biasanya akan mencoba mengisolasi jenazah, sehingga tidak ada penumpang yang terpapar jenazah dan sebaliknya, demi rasa hormat dan privasi tetapi juga demi alasan medis".
Menurut pedoman oleh Asosiasi Transportasi Udara Internasional tentang penanganan kematian di dalam pesawat, orang yang meninggal harus dipindahkan ke kursi, sebaiknya kursi yang hanya ada sedikit penumpang di dekatnya, dan ditutupi dengan selimut atau kantong jenazah hingga ke leher. Jenazah juga dapat dipindahkan ke area lain yang tidak menghalangi lorong atau pintu keluar. Setelah mendarat, asosiasi menyarankan agar penumpang lain turun sebelum jenazah ditangani oleh otoritas setempat.
Â
Penanganan Jenazah di Dalam Pesawat Qatar Airways Jadi Sorotan
Meninggalnya seeorang penumpang Qatar Airways elama penerbangan baru-baru ini, menimbulkan pertanyaan serius tentang protokol penanganan jenazah di pesawat. Kejadian ini, yang memaksa jenazah diletakkan dekat penumpang lain hingga pesawat mendarat, menyebabkan trauma bagi pasangan yang duduk di sebelahnya. Insiden ini terjadi di mana, kapan, dan mengapa belum dijelaskan secara detail oleh pihak maskapai, namun bagaimana hal ini ditangani menjadi sorotan utama. Qatar Airways telah meminta maaf atas insiden tersebut dan kejadian ini mengungkap kurangnya transparansi dan protokol yang jelas dalam situasi seperti ini.
Protokol penangangan Qatar Airways yang jadi sorotan.
Â
Sejumlah sumber menyebut bahwa insiden Qatar Airways menjadi studi kasus penting dalam penanganan kematian penumpang di udara. Kurangnya transparansi dari maskapai mengenai detail kejadian menimbulkan kekhawatiran publik. Kejadian ini seharusnya mendorong maskapai penerbangan lain untuk meninjau dan meningkatkan protokol mereka. Sementara pasangan yang mengalami trauma akibat kejadian ini seharusnya mendapatkan dukungan dan kompensasi yang layak.
Kejadian ini juga menyoroti pentingnya pelatihan bagi awak kabin dalam menghadapi situasi darurat medis, termasuk kematian penumpang. Pelatihan yang memadai akan membantu awak kabin untuk bertindak dengan tenang, efisien, dan penuh empati dalam situasi yang sulit ini. Protokol yang jelas juga harus mencakup bagaimana jenazah ditangani dengan hormat dan bagaimana penumpang lain diinformasikan dengan bijak.
Selain itu, perlu adanya diskusi publik tentang bagaimana mengkomunikasikan kejadian tersebut kepada penumpang lain. Menjaga ketenangan penumpang lain sangat penting, namun transparansi yang seimbang juga perlu dipertimbangkan. Mencari keseimbangan antara menjaga privasi dan memberikan informasi yang cukup kepada penumpang lain merupakan tantangan yang harus diatasi.
Advertisement
