Serangan Israel di Rumah Sakit Gaza Tewaskan 5 Orang, Termasuk Pemimpin Politik Hamas Ismail Barhoum

Dua pemimpin Hamas tewas selama serangan Israel pada akhir pekan.

Liputan6.com, Gaza - Serangan udara Israel ke sebuah rumah sakit di Jalur Gaza pada Minggu (23/3/2025) menewaskan lima orang, termasuk seorang pemimpin politik Hamas. Demikian menurut keterangan medis Palestina dan Hamas.

Israel mengklaim serangan tersebut menargetkan seorang tokoh kunci dalam kelompok militan tersebut.

Otoritas kesehatan Jalur Gaza menyebutkan bahwa serangan itu menghantam departemen bedah di Rumah Sakit Nasser di Khan Younis. Militer Israel mengaku serangan tersebut dilakukan berdasarkan intelijen yang mendalam dan menggunakan amunisi presisi untuk meminimalkan kerusakan di lokasi.

Hamas mengonfirmasi bahwa seorang anggota kantor politiknya, Ismail Barhoum, tewas dalam serangan itu. Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, mengiyakan bahwa target serangan adalah Barhoum. Demikian seperti dilansir CNA.

Saluran TV Al-Aqsa milik Hamas melaporkan bahwa Barhoum sedang menjalani perawatan di rumah sakit untuk luka-luka yang dideritanya dalam serangan sebelumnya. Israel menuduh Hamas menyembunyikan diri di rumah sakit, sekolah, dan tempat perlindungan secara sistematis, klaim yang dibantah berulang kali oleh kelompok tersebut.

Setelah dua bulan relatif tenang dalam perang, warga Jalur Gaza kembali melarikan diri untuk menyelamatkan nyawa setelah Israel secara efektif mengabaikan gencatan senjata, meluncurkan serangan udara dan darat baru pada Selasa (18/3).

Pemimpin Hamas lainnya, Salah al-Bardaweel, tewas dalam serangan terpisah di Khan Younis. Militer Israel mengonfirmasi bahwa mereka membunuh Bardaweel pada Sabtu (22/3).

Baik Bardaweel maupun Barhoum adalah anggota badan pengambil keputusan Hamas yang beranggotakan 19 orang, yaitu kantor politik. Menurut sumber Hamas, 11 dari mereka telah tewas sejak perang dimulai pada 2023.

 

2 dari 2 halaman

Tel Al-Sultan Dikepung

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada Selasa menyatakan bahwa tujuan serangan terbaru adalah untuk memaksa Hamas menyerahkan sisa sandera.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat (AS) menyatakan Menteri Luar Negeri Marco Rubio telah berbicara dengan Netanyahu untuk menekankan dukungan AS bagi Israel. Mereka membahas operasi militer Israel yang sedang berlangsung di Jalur Gaza, upaya untuk membawa sandera pulang, dan serangan AS terhadap militan Houthi yang didukung Iran di Yaman.

Hamas menuduh Israel melanggar kesepakatan gencatan senjata yang berlaku pada 19 Januari Januari, namun menyatakan mereka masih bersedia menegosiasikan gencatan senjata dan sedang mempelajari proposal dari utusan khusus Donald Trump, Steve Witkoff.

Sementara itu, juru bicara militer Israel Avichay Adraee mengeluarkan peringatan evakuasi untuk warga di lingkungan Tel Al-Sultan di barat Rafah.

Militer Israel menyatakan bahwa pasukan telah mengepung Tel Al-Sultan untuk membongkar "situs infrastruktur teror dan menghilangkan teroris di area tersebut". Militer mengungkapkan bahwda para prajurit mengizinkan evakuasi warga sipil dari zona pertempuran melalui rute yang terorganisir untuk keselamatan mereka.

Puluhan keluarga meninggalkan rumah mereka di Tel Al-Sultan menuju ke utara ke Khan Younis, sebagian berjalan kaki, sementara yang lain membawa barang-barang dan anak-anak mereka dengan gerobak keledai dan becak.

"Ketika gencatan senjata dimulai, kami kembali untuk mendirikan tenda di samping reruntuhan rumah kami, bermimpi bahwa rumah kami akan segera dibangun kembali," kata Abu Khaled, seorang warga Rafah, kepada Reuters melalui aplikasi chat.

"Sekarang kami melarikan diri di bawah tembakan untuk mungkin kesepuluh kalinya, kapan kami akan beristirahat? Kapan akan ada perdamaian di kota ini?"

Layanan Darurat Sipil Palestina menyatakan bahwa 50.000 warga masih terjebak di Rafah setelah mereka dikejutkan oleh serbuan tentara Israel ke wilayah mereka, memperingatkan bahwa nyawa mereka dan tim penyelamat berada dalam risiko.

Pejabat Palestina dan internasional juga memperingatkan tentang risiko krisis kelaparan baru.

"Setiap hari tanpa makanan membawa Gaza lebih dekat ke krisis kelaparan akut. Melarang bantuan adalah hukuman kolektif bagi Gaza: sebagian besar populasinya adalah anak-anak, perempuan, dan pria biasa," tulis kepala badan PBB untuk pengungsi Palestina (UNRWA) Philippe Lazzarini di platform X.

Pada 2 Maret, Israel memblokir masuknya barang ke Jalur Gaza. Penasihat kebijakan luar negeri Netanyahu, Ophir Falk, menuduh Hamas mengambil bantuan untuk kepentingan sendiri, tuduhan yang sebelumnya dibantah oleh Hamas.

EnamPlus