Liputan6.com, Nwe York - Sejarah mencatat momen kematian Anthony Lewis, jurnalis pemenang dua penghargaan Pulitzer yang selama tiga dekade menulis kolom di The New York Times dengan mengusung isu-isu liberal.
Anthony Lewis meninggal dunia pada Senin, 25 Maret 2013. Ia berpulang di usia 85 tahun. Seorang juru bicara pengadilan mengkonfirmasi kabar duka tersebut.
Mengutip dari laman The Guardian Selasa (25/3/2025), diketahui bahwa sang jurnalis pernah menikah dengan Margaret Marshall, mantan Ketua Mahkamah Agung Massachusetts. Marshall pensiun pada 2010 untuk menghabiskan lebih banyak waktu bersama suaminya setelah Lewis didiagnosis menderita penyakit Parkinson.
Advertisement
Dalam obituarinya, Lewis tercatat sebagai kolumnis di The New York Times selama 32 tahun, mengangkat isu-isu penting seperti kebebasan berpendapat, hak asasi manusia, dan hukum konstitusi. Ia memenangkan Pulitzer pertamanya pada 1955 berkat liputannya yang membela seorang pegawai sipil Angkatan Laut AS yang keliru dituduh sebagai simpatisan komunis. Pulitzer kedua diraihnya pada 1963 atas liputan mengenai Mahkamah Agung AS.
Pada 1964, ia menerbitkan buku berjudul Gideon's Trumpet, yang mengisahkan perjuangan seorang pencuri kecil-kecilan dalam mendapatkan hak pembelaan hukum hingga melahirkan keputusan penting Mahkamah Agung.
Lewis dikenal sebagai pembela kesopanan, penghormatan terhadap hukum, dan akal sehat dalam menghadapi gelombang fundamentalisme agama serta nasionalisme ekstrem. Kolom-kolomnya kerap mengkritik Perang Vietnam, skandal Watergate, apartheid di Afrika Selatan, serta pemukiman Israel di Tepi Barat dan Gaza.
Tulisan terakhirnya dalam kolom Abroad at Home terbit pada 15 Desember 2001. Dalam artikel tersebut, ia memperingatkan agar AS tidak mengorbankan kebebasan sipil akibat ketakutan berlebihan pasca-serangan teroris 11 September.
"Pertanyaan sulitnya adalah apakah komitmen kita terhadap hukum akan bertahan di tengah rasa rentan yang melanda kita semua setelah 11 September," tulisnya. "Mudah untuk menoleransi perbedaan pendapat saat kita merasa aman."
Gail Collins, yang saat itu menjabat sebagai editor halaman opini The New York Times, menyebut Lewis sebagai sosok inspiratif.
"Keberanian, kejernihan dalam menulis, serta komitmennya terhadap hak asasi manusia dan kebebasan sipil adalah hal yang melegenda," kata Collins. "Ia juga salah satu orang paling baik yang pernah saya kenal."
Gideon's Trumpet menjadi bacaan klasik dalam dunia hukum. Buku ini mengisahkan perjuangan Clarence Earl Gideon, yang kasusnya memicu terbentuknya sistem pembela umum di seluruh negeri. Dalam putusan Gideon v. Wainwright, Mahkamah Agung menetapkan bahwa terdakwa dalam kasus pidana berhak mendapat pengacara, bahkan jika mereka tidak mampu membayarnya.
Buku tersebut kemudian diadaptasi menjadi film televisi yang dibintangi Henry Fonda.
Pembela Kaum Tertindas dan Pejuang Kebebasan Berpendapat
Pembelaan terhadap kaum tertindas menjadi ciri khas Lewis. Ia memenangkan Pulitzer pertamanya di usia 28 tahun berkat serangkaian artikel di Washington Daily News yang membuktikan bahwa seorang pegawai sipil Angkatan Laut AS tidak bersalah atas tuduhan menjadi ancaman keamanan dalam era McCarthy.
Lewis menyoroti kisah Abraham Chasanow, seorang pria kelas menengah yang apatis terhadap politik, tetapi justru diteror oleh program loyalitas-keamanan pemerintah AS pada 1950-an. Tuduhan tak berdasar dari informan anonim menyebut Chasanow sebagai simpatisan komunis radikal. Angkatan Laut AS kemudian meminta maaf kepadanya.
Sebagai pendukung kebebasan berpendapat, Lewis menulis buku berjudul Freedom for the Thought That We Hate: A Biography of the First Amendment pada 2008. Buku ini mengupas bagaimana undang-undang sejak Sedition Act 1798 telah membatasi kebebasan berekspresi.
"Kita perlu merayakan dan memahami kebebasan unik yang kita miliki kebebasan berpendapat dan pers," kata Lewis dalam wawancara dengan The New York Times pada 2007. "Saya tidak yakin bahwa kita benar-benar memahami hak tersebut."
Topik kebebasan berekspresi juga dibahas dalam bukunya tahun 1991, Make No Law: The Sullivan Case and the First Amendment, yang mengulas putusan Mahkamah Agung AS pada 1964 yang melindungi organisasi media dari sebagian tuntutan pencemaran nama baik.
Joseph Anthony Lewis lahir di New York City pada 27 Maret 1927. Ayahnya adalah direktur sebuah perusahaan tekstil, sementara ibunya mengelola taman kanak-kanak. Ia menempuh pendidikan di sekolah elit Horace Mann School di Bronx dan lulus dari Harvard College pada 1948.
Lewis bergabung dengan The New York Times pada 1948 dan menghabiskan sebagian besar kariernya di sana, kecuali saat bekerja di Washington Daily News dari 1952 hingga 1955.
Pada 1950-an, ia mengambil studi hukum selama setahun di Harvard agar dapat meliput Mahkamah Agung untuk The New York Times. Ia juga sempat menjabat sebagai kepala biro London surat kabar tersebut dari 1965 hingga 1972. Pada 1969, ia mulai menulis kolom Abroad at Home dari London, lalu pindah ke Boston pada 1972.
Pada 1984, Lewis menikah dengan Marshall, yang pada 1996 diangkat menjadi hakim Mahkamah Agung Massachusetts. Tiga tahun kemudian, ia menjadi ketua hakim dan menulis putusan pengadilan pada 2003 yang melegalkan pernikahan sesama jenis di Massachusetts. Ketika mengumumkan pensiunnya pada 2010, Marshall mengatakan bahwa ia ingin menghabiskan lebih banyak waktu bersama suaminya.
"Agar saya dan Tony bisa menikmati waktu-waktu terakhir kami bersama," ujar Marshall.
Advertisement
