Liputan6.com, Tokyo - Sejarah mencatat peristiwa pembajakan pesawat oleh kelompok "Yodo-go" yang terjadi 55 tahun lalu, tepatnya pada 31 Maret 1970. Saat itu, sembilan anggota "KYOSANDO SEKIGUNHA" atau Faksi Tentara Merah dari Liga Komunis membajak Japan Airlines Flight 351 dalam penerbangan dari Tokyo menuju Fukuoka. Mereka bersenjata pedang samurai, pipa baja, dan bom, serta menuntut agar pesawat yang dikenal sebagai "Yodo-go" itu diterbangkan ke Korea Utara. Saat dibajak, pesawat tersebut membawa 129 orang, terdiri dari 122 penumpang dan tujuh awak.
Setelah sempat membebaskan sebagian sandera di Bandara Fukuoka dan beberapa lainnya di Bandara Kimpo, Korea Selatan, pesawat akhirnya mendarat di Bandara Mirim, Korea Utara, pada 3 April 1970. Di sana, para pembajak menyerahkan diri kepada otoritas setempat.
Dalam laporan yang dimuat di NPA.go.jp dan dikutip pada Senin (31/3/2025), kepolisian menyatakan bahwa para pembajak "Yodo-go" telah dimasukkan dalam daftar pencarian orang internasional melalui Interpol. Upaya pencarian membuahkan hasil pada Mei 1988, ketika salah satu pelaku yang menggunakan paspor ilegal berhasil ditangkap di Jepang.
Advertisement
Selain itu, Yoshimi Tanaka pernah ditangkap oleh otoritas Thailand dan kemudian diserahkan kepada kepolisian Jepang pada Maret 2000. Sementara itu, dua pembajak lainnya, termasuk pemimpinnya, Takamaro Tamiya, telah dipastikan meninggal dunia di Korea Utara. Pada saat itu, masih ada lima anggota yang diduga menetap di negara tersebut, yaitu Takahiro Konishi, Shiro Akagi, Kimihiro Uomoto (nama asli: Abe), Moriaki Wakabayashi, dan Takeshi Okamoto. Namun, salah satu di antaranya sempat dikabarkan meninggal dunia, meski belum ada konfirmasi resmi.
Pada dekade 1980-an, enam perempuan asal Jepang diketahui berhubungan dengan agen Korea Utara di Eropa. Demi membatasi aktivitas mereka di luar negeri dan mencegah aksi terorisme, Kementerian Luar Negeri Jepang memerintahkan mereka untuk menyerahkan paspor pada Agustus 1988.
Pada 1992, diketahui bahwa seluruh perempuan tersebut adalah istri dari para pembajak "Yodo-go" salah satunya bahkan merupakan mantan istri. Polisi memasukkan lima di antara mereka ke dalam daftar pencarian orang internasional karena diduga melanggar Undang-Undang Paspor, kecuali sang mantan istri.
Upaya Kepulangan Kelompok Yodo-go ke Jepang
Kelompok "Yodo-go" terus menyuarakan pandangannya melalui berbagai media dari Korea Utara, termasuk publikasi organisasi dan internet. Mereka menjadikan kepulangan ke Jepang sebagai prioritas utama.
Dalam publikasi organisasi, para pembajak "Yodo-go" mendesak adanya kesepakatan yang memungkinkan mereka kembali ke Jepang lebih cepat. Pada Juni 2004, mereka mengirim surat kepada otoritas Korea Utara untuk meminta bantuan dalam proses pemulangan. Otoritas Korea Utara pun menegaskan bahwa mereka tidak akan menghalangi kepulangan para pembajak ke Jepang.
Terkait istri para pembajak dan anggota kelompok lainnya, hingga tahun 2003, tiga orang telah kembali ke Jepang dan langsung ditangkap. Salah satunya adalah Tamiko Uomoto, yang saat itu masuk dalam daftar pencarian orang internasional karena dugaan pelanggaran Undang-Undang Paspor serta pemalsuan dokumen pribadi. Ia akhirnya ditangkap pada Februari 2004 setelah kembali ke Jepang. Pada Oktober 2004, Kyoko Tanaka, yang juga termasuk dalam daftar buronan internasional dengan kasus serupa, turut ditangkap setelah kembali ke Jepang. Hingga saat itu, sebanyak 17 anak mereka telah kembali ke Jepang.
Pada Maret 2002, mantan istri salah satu pembajak "Yodo-go" mengungkapkan kesaksiannya. Ia mengaku menerima perintah dari Takamaro Tamiya, pemimpin kelompok tersebut, yang mengikuti instruksi Presiden Korea Utara saat itu, Kim Il-Sung, untuk "mewujudkan revolusi lintas generasi."
Ia juga mengaku telah menipu dan membawa Keiko Arimoto, seorang mahasiswi di London pada 1983, untuk diperkenalkan kepada Kim Yu-Chol dari Partai Pekerja Korea serta Kimihiro Uomoto di Kopenhagen, Denmark. Dari sana, Arimoto kemudian dibawa ke Korea Utara.
Berdasarkan hasil investigasi, kepolisian menyimpulkan bahwa kelompok "Yodo-go" terlibat dalam penculikan warga negara Jepang atas arahan Partai Pekerja Korea, sebagai bagian dari upaya revolusi Jepang berdasarkan doktrin Kim Il-Sung.
Pada September 2002, polisi Jepang mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap Kimihiro Uomoto atas dugaan keterlibatan dalam penculikan Keiko Arimoto dengan tujuan pernikahan. Ia pun dimasukkan dalam daftar pencarian orang internasional.
Advertisement
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5362279/original/049979300_1758858871-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran__75_.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5467828/original/082603300_1767931632-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-01-09T101432.478.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4015087/original/087048800_1651832587-TMII-6.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5468514/original/086681500_1767954322-bpkh_haji_-_klaim.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5177135/original/069268600_1743152294-0302_03.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5177136/original/071082500_1743152294-0302_01.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/1409540/original/032500600_1479454815-korea_utara.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/1411723/original/069752100_1479709693-Jepang.jpg)