Liputan6.com, Jakarta Gempa bumi menjadi salah satu bencana alam yang tak bisa diprediksi kapan terjadinya. Tak heran jika kasus gempa bumi skala besar sering membuat penyintas trauma. Seperti pria ini, demi keamanan, ia pilih tinggal di dalam gua.
Advertisement
Baca Juga
Advertisement
Ali Bozolan, seorang pria asal Turki, telah tinggal di dalam gua kecil selama dua tahun setelah rumahnya hancur akibat gempa bumi dahsyat yang mengguncang Turki Selatan pada Februari 2023. Gempa berkekuatan 7,8 skala Richter itu merenggut banyak nyawa dan menghancurkan banyak bangunan. Meskipun ia dan keluarganya selamat, trauma yang dialaminya membuatnya takut tinggal di bangunan manapun.
“Saya telah tinggal di sini selama 2 tahun setelah gempa bumi dan saya menemukan kedamaian di gua ini. Gua ini telah ada selama ribuan tahun dan tidak pernah runtuh,” kata Ali Bozoğlan
Meskipun keluarganya tidak tinggal bersamanya, Ali mengaku bahagia dan damai di gua kecilnya. Berikut Liputan6.com merangkum kisahnya melansir dari TGRT Haber, Rabu (26/2/2025).
Kehidupan Sederhana di Dalam Gua
Ali menjalani kehidupan yang sederhana di dalam gua. Ia mencuci pakaian, memasak, dan membersihkan gua untuk menjaga kebersihan tempat tinggalnya. “Saya mencuci piring dan pakaian, membersihkan, dan menyiapkan makanan yang akan saya makan. Saya menjalani kehidupan yang indah di gua,” ungkap Ali Bozolan.
Gua yang menjadi rumahnya terletak di pinggiran kotanya, dan untuk mencapainya, Ali harus mengendarai sepeda motor dan memanjat. Meskipun hidup di gua bukanlah hal yang mudah, ia merasa lebih dekat dengan alam dan jauh dari keramaian kota.
“Saya jauh dari orang lain dan dekat dengan alam,” tambahnya.
Advertisement
Hidup Berdampingan Tikus Hingga Ular
Trauma pasca-gempa yang dialami Ali tidaklah ringan. Ia menghadapi berbagai tantangan, termasuk kehadiran ular dan tikus yang kadang-kadang masuk ke dalam gua. Meskipun demikian, Ali tetap berusaha untuk menjalani hidupnya dengan cara yang positif.
“Banyak tamu datang ke sini. Pasangan dari Gaziantep tinggal dan tidur di gua itu,” ungkap Ali.
Ia juga berencana untuk memasang panel surya agar dapat menyalakan mesin cuci dan kulkasnya, tetapi ia menegaskan bahwa ia tidak akan menukar kenyamanan guanya dengan bangunan buatan manusia.
Tolak Bantuan Pemerintah
Setelah mengetahui tempat tinggal Ali, Gubernur Distrik Defne menawarkan rumah kontainer yang lebih nyaman. Namun, Ali menolak tawaran tersebut dan lebih memilih ketenangan di guanya.
“Saya mulai senang menjauh dari kehidupan kota yang ramai, belajar menghargai kedamaian dan ketenangan gua kecilnya,” katanya.
Ali mengakui bahwa ia menghadapi kritik dari orang-orang yang tidak memahami pilihan hidupnya.
“Orang-orang yang tidak berpendidikan berbicara buruk tentang saya yang tinggal di gua. Karena mereka tidak duduk bersama saya, berbicara dengan saya, dan tidak mengenal saya, mereka memberikan komentar yang berbeda,” jelasnya.
Advertisement
