Cara Mengatasi Anak Hiperaktif, Ketahui Penyebabnya

Pahami ciri, penyebab, dan cara mengatasi anak hiperaktif beserta kapan harus konsultasi ke profesional. Dapatkan tips efektif untuk membantu anak Anda berkembang optimal!

oleh Ayu Isti Prabandari Diperbarui 27 Feb 2025, 15:20 WIB
Diterbitkan 27 Feb 2025, 15:20 WIB
Hiperaktif
Anak dengan ADHD sulit untuk diam dan mudah gelisah. (Foto: Unsplash/Gabby Orcutt)... Selengkapnya

Liputan6.com, Jakarta Anak hiperaktif, adalah kondisi yang ditandai dengan kesulitan dalam memperhatikan, mengendalikan impuls, dan seringkali disertai hiperaktivitas. Kondisi ini mempengaruhi anak-anak dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari sekolah hingga interaksi sosial. Memahami ciri-ciri, penyebab, dan cara mengatasinya sangat penting bagi orangtua dan guru untuk membantu anak-anak ini berkembang secara optimal.

Banyak orangtua yang merasa kewalahan menghadapi anak hiperaktif. Namun, dengan pendekatan yang tepat, anak-anak hiperaktifdapat belajar untuk mengelola gejala dan menjalani kehidupan yang sukses. Artikel ini akan membahas berbagai strategi untuk mengatasi anak hiperaktif, baik di rumah maupun di sekolah, serta kapan sebaiknya mencari bantuan profesional.

Perlu diingat bahwa setiap anak unik, dan tidak ada solusi tunggal yang cocok untuk semua kasus. Strategi yang efektif akan bergantung pada kepribadian anak, tingkat keparahan, dan lingkungan sekitarnya. Komunikasi yang baik antara orangtua, guru, dan profesional kesehatan mental sangat penting untuk mengembangkan rencana perawatan yang komprehensif dan efektif.

Ciri-Ciri Anak Hiperaktif

Pertama, akan dijelaskan ciri-ciri anak hiperaktif. Anak yang memiliki kecenderungan sifat ini, biasanya dapat dilihat dari tingkah lakunya. Berikut ciri-ciri anak hiperaktif yang bisa diperhatikan:

1. Tidak dapat duduk diam: Anak sering mengalami kesulitan untuk duduk diam dalam waktu yang lama, mereka cenderung gelisah dan selalu bergerak. Mereka mungkin tampak seperti "tidak bisa diam", sering berlari-lari atau memanjat tanpa tujuan yang jelas, bahkan di situasi yang seharusnya menuntut ketenangan. Hal ini dapat mengganggu kegiatan belajar dan interaksi sosial mereka.

2. Sulit menaruh perhatian pada suatu hal: Anak hiperaktif seringkali mengalami kesulitan dalam memperhatikan detail, mereka mudah teralihkan dan sulit untuk berkonsentrasi pada tugas yang sedang dikerjakan. Mereka mungkin sering kehilangan barang-barang pribadi, seperti buku, pensil, atau mainan, karena kurangnya perhatian pada detail dan lingkungan sekitar. Ini membuat mereka sulit menyelesaikan tugas-tugas yang membutuhkan fokus.

3. Impulsif: Anak-anak ini seringkali bertindak impulsif tanpa memikirkan konsekuensinya. Mereka mungkin menyela pembicaraan orang lain, mengambil barang milik orang lain tanpa izin, atau melakukan tindakan agresif tanpa berpikir panjang. Impulsivitas ini dapat menyebabkan masalah dalam hubungan sosial dan akademik.

4. Kesulitan mengontrol emosi: Anak hiperaktif seringkali memiliki kesulitan dalam mengontrol emosi, mereka mudah marah, frustrasi, atau sedih. Mereka mungkin mengalami perubahan suasana hati yang cepat dan ekstrem, yang dapat membuat mereka sulit untuk berinteraksi dengan orang lain. Pengaturan emosi yang buruk ini membutuhkan pendekatan khusus.

5. Kesulitan mengerjakan perintah atau tugas: Mereka sering mengalami kesulitan dalam mengikuti instruksi atau menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan. Anak-anak ini mungkin membutuhkan pengulangan instruksi berulang kali atau bantuan tambahan untuk menyelesaikan tugas-tugas sederhana. Kesulitan ini dapat berdampak negatif pada prestasi akademik mereka.

6. Kesulitan menjalin hubungan sosial: Anak hiperaktif seringkali memiliki kesulitan dalam menjalin hubungan sosial yang sehat. Mereka mungkin sulit bergaul dengan teman sebaya, karena perilaku impulsif dan kesulitan dalam memperhatikan. Hal ini dapat menyebabkan isolasi sosial dan rendahnya rasa percaya diri.

Penyebab Anak Hiperaktif

Setelah mengetahui ciri-ciri anak hiperaktif, selanjutnya akan dijelaskan berbagai faktor penyebabnya:

1. Faktor genetik: Faktor genetik memainkan peran penting dalam perkembangan ADHD. Riset menunjukkan bahwa anak-anak dengan riwayat keluarga ADHD memiliki risiko lebih tinggi untuk mengembangkan kondisi ini. Gen-gen tertentu dapat mempengaruhi perkembangan otak dan neurotransmiter yang berkaitan dengan perhatian dan kontrol impuls.

2. Faktor lingkungan: Faktor lingkungan juga dapat berkontribusi pada perkembangan ADHD. Paparan terhadap racun lingkungan, seperti timbal, selama masa kehamilan atau masa kanak-kanak awal dapat meningkatkan risiko ADHD. Faktor lingkungan lainnya seperti stres, trauma, dan kurangnya stimulasi yang tepat juga dapat berpengaruh.

3. Ketidakseimbangan senyawa pada otak: Ketidakseimbangan neurokimia dalam otak dapat menyebabkan gejala ADHD. Neurotransmiter seperti dopamin dan norepinefrin berperan penting dalam mengatur perhatian, fokus, dan kontrol impuls. Ketidakseimbangan neurokimia ini dapat mengganggu fungsi otak dan menyebabkan gejala ADHD.

4. Kerusakan otak: Kerusakan otak selama masa perkembangan juga dapat menjadi penyebab ADHD. Cedera kepala, infeksi otak, atau kondisi medis tertentu dapat mempengaruhi perkembangan otak dan meningkatkan risiko ADHD. Kerusakan otak dapat mengganggu fungsi area otak yang bertanggung jawab atas perhatian dan kontrol impuls.

5. Faktor prenatal: Faktor prenatal, seperti paparan alkohol atau tembakau selama kehamilan, dapat meningkatkan risiko ADHD pada anak. Paparan zat-zat berbahaya ini dapat mengganggu perkembangan otak dan mempengaruhi fungsi neurologis anak. Penting bagi ibu hamil untuk menghindari kebiasaan buruk ini.

6. Faktor psikososial: Faktor psikososial, seperti stres keluarga, ketidakstabilan rumah tangga, atau kurangnya dukungan sosial, dapat memperburuk gejala ADHD. Lingkungan yang tidak mendukung dapat membuat anak lebih sulit untuk mengelola gejala ADHD mereka. Dukungan keluarga dan lingkungan yang positif sangat penting.

7. Kekurangan nutrisi: Beberapa penelitian juga menunjukkan hubungan antara kekurangan nutrisi tertentu dan peningkatan risiko ADHD. Kekurangan zat besi, asam lemak omega-3, atau vitamin tertentu dapat mempengaruhi fungsi otak dan meningkatkan gejala ADHD. Penting untuk memastikan anak mendapatkan nutrisi yang seimbang.

Cara Mengatasi Anak Hiperaktif

Selain mengetahui ciri-ciri dan faktor penyebab, orang tua juga perlu memahami bagaimana cara mengatasi atau menghadapi anak diperaktif dengan baik dan bijak, sebagai berikut:

1. Ciptakan lingkungan yang terstruktur dan konsisten. Rutinitas harian yang jelas dan teratur dapat membantu anak merasa aman dan terprediksi. Jadwal visual dapat membantu anak memahami apa yang akan terjadi selanjutnya dan mengurangi kecemasan.

2. Minimalisir gangguan dan stimulasi berlebihan. Lingkungan yang tenang dan terorganisir akan membantu anak fokus. Kurangi suara bising, mainan yang berserakan, dan stimulasi visual yang berlebihan. Buatlah ruang belajar yang nyaman dan tenang.

3. Berikan instruksi yang jelas, singkat, dan spesifik. Hindari instruksi yang panjang dan rumit. Berikan satu instruksi pada satu waktu, dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami. Ulangi instruksi jika diperlukan.

4. Berikan pujian dan pengakuan atas perilaku positif. Berikan hadiah atau pujian atas perilaku positif, sekecil apapun. Ini akan memotivasi anak untuk mengulangi perilaku tersebut. Fokus pada perilaku positif daripada perilaku negatif.

5. Ajarkan strategi mengatur diri. Ajarkan teknik relaksasi seperti pernapasan dalam, meditasi, atau yoga untuk membantu anak menenangkan diri ketika merasa frustrasi atau gelisah. Latih anak untuk mengenali dan mengelola emosinya.

6. Pastikan anak mendapatkan cukup tidur dan nutrisi seimbang. Kurang tidur dan pola makan yang buruk dapat memperburuk gejala ADHD. Pastikan anak mendapatkan cukup tidur dan makan makanan bergizi. Konsultasikan dengan ahli gizi jika diperlukan.

7. Libatkan anak dalam aktivitas fisik terstruktur. Olahraga teratur dapat membantu membakar energi berlebih dan meningkatkan fokus. Pilih aktivitas yang disukai anak, seperti berenang, bersepeda, atau bermain bola.

Tanda Anak Hiperaktif Membutuhkan Penanganan Profesional

Setelah mengetahui cara mengatasi anak hiperaktif, selanjutnya perlu dipahami tanda-tanda apa saja yang bisa diperhatikan, ketika anak hiperaktif membutuhkan penanganan profesional lebih serius, sebagai berikut:

1. Jika anak menunjukkan gejala ADHD yang signifikan dan mengganggu kehidupan sehari-hari, seperti kesulitan belajar, masalah perilaku yang serius, atau kesulitan dalam bersosialisasi, maka konsultasi dengan profesional sangat dianjurkan. Gejala-gejala ini dapat berdampak negatif pada perkembangan anak secara keseluruhan.

2. Jika strategi pengelolaan di rumah dan sekolah tidak membuahkan hasil yang signifikan, maka perlu dipertimbangkan untuk mencari bantuan profesional. Profesional kesehatan mental dapat memberikan evaluasi yang komprehensif dan merekomendasikan perawatan yang tepat. Jangan ragu untuk meminta bantuan.

3. Jika anak mengalami masalah emosi yang serius, seperti depresi, kecemasan, atau gangguan suasana hati lainnya, maka konsultasi dengan psikolog atau psikiater sangat penting. Kondisi kesehatan mental ini seringkali menyertai ADHD dan memerlukan penanganan khusus. Perawatan yang komprehensif sangat penting.

4. Jika anak menunjukkan perilaku yang membahayakan diri sendiri atau orang lain, maka segera cari bantuan profesional. Perilaku yang membahayakan ini memerlukan intervensi segera untuk mencegah konsekuensi yang lebih serius. Keselamatan anak adalah prioritas utama.

5. Jika anak mengalami kesulitan belajar yang signifikan dan tidak dapat mengikuti pelajaran di sekolah, maka bantuan profesional mungkin diperlukan. Profesional dapat membantu mengidentifikasi kesulitan belajar spesifik dan mengembangkan strategi pembelajaran yang tepat. Dukungan akademik sangat penting.

6. Jika orangtua merasa kewalahan dalam mengelola perilaku anak, maka jangan ragu untuk mencari bantuan profesional. Mendapatkan dukungan dari profesional dapat membantu orangtua merasa lebih percaya diri dan mampu dalam mengasuh anak dengan ADHD. Dukungan keluarga dan komunitas sangat penting.

Kesimpulan

Mengatasi anak hiperaktif membutuhkan kesabaran, konsistensi, dan pendekatan holistik yang melibatkan orangtua, guru, dan terkadang profesional kesehatan mental. Memahami ciri-ciri, penyebab, dan strategi pengelolaan ADHD sangat penting untuk membantu anak-anak ini berkembang secara optimal. Penting untuk diingat bahwa setiap anak unik, dan strategi yang efektif akan bervariasi.

Komunikasi yang terbuka antara orangtua dan guru sangat penting untuk memastikan konsistensi dalam strategi pengelolaan di rumah dan di sekolah. Dukungan dari keluarga dan komunitas juga sangat penting untuk membantu anak-anak dengan ADHD merasa diterima dan didukung. Jangan ragu untuk mencari bantuan profesional jika Anda merasa kesulitan dalam mengelola perilaku anak Anda.

Dengan pendekatan yang tepat dan dukungan yang memadai, anak-anak dengan ADHD dapat belajar untuk mengelola gejala mereka dan menjalani kehidupan yang sukses dan bermakna. Ingatlah bahwa Anda tidak sendirian dalam menghadapi tantangan ini, dan banyak sumber daya tersedia untuk membantu Anda dan anak Anda.

Lanjutkan Membaca ↓
Loading

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya