Fidyah Puasa Berapa Per 1 Harinya? Pahami Cara Hitung dan Orang yang Wajib Bayar

Pahami aturan fidyah puasa Ramadhan: besaran, cara menghitung, dan siapa saja yang wajib membayarnya berdasarkan Al-Qur'an dan hadits, lengkap dengan contoh perhitungan.

oleh Laudia Tysara Diperbarui 25 Mar 2025, 11:40 WIB
Diterbitkan 25 Mar 2025, 11:40 WIB
cara bayar fidyah puasa
cara bayar fidyah puasa ©Ilustrasi dibuat Stable Diffusion... Selengkapnya

Liputan6.com, Jakarta - Ramadhan tiba, bulan penuh berkah bagi umat muslim. Namun, bagi sebagian orang, menjalankan ibadah puasa Ramadhan penuh mungkin tidak mudah karena kondisi kesehatan tertentu. Bagi mereka yang tak mampu berpuasa karena sakit kronis, usia lanjut, atau kondisi lain yang dibenarkan syariat, terdapat kewajiban membayar fidyah.

Fidyah adalah tebusan atau pengganti puasa yang harus dibayarkan dalam bentuk makanan pokok atau uang. Pertanyaan 'Fidyah puasa berapa?' pun kerap muncul, karena besaran fidyah memiliki beberapa pendapat yang berbeda di kalangan ulama.

Memahami aturan fidyah puasa sangat penting, terutama bagi mereka yang terhalang berpuasa karena alasan kesehatan atau kondisi tertentu. Aturan ini berdasarkan Al-Qur'an Surat Al-Baqarah ayat 184 yang menjelaskan tentang kewajiban membayar fidyah bagi mereka yang kesulitan berpuasa.

Banyak pertanyaan seputar fidyah puasa, mulai dari besarannya, cara menghitungnya, hingga siapa saja yang wajib membayarnya. Ketidakpahaman mengenai aturan fidyah dapat menyebabkan seseorang ragu dalam menjalankan kewajibannya.

Berikut Liputan6.com ulas lengkapnya, Selasa (25/3/2025).

Promosi 1

Fidyah Puasa Berapa Per 1 Harinya?

cara membayar fidyah dengan beras
cara membayar fidyah dengan beras ©Ilustrasi dibuat Stable Diffusion... Selengkapnya

Besaran fidyah puasa per hari masih menjadi perdebatan di kalangan ulama. Melansir dari buku Panduan Ibadah Puasa Wajib dan Sunnah karya Ahmad Zacky, terdapat perbedaan pendapat mengenai ukuran 1 mud (satuan takaran makanan pokok dalam syariat Islam).

Mayoritas ulama (jumhur ulama) berpendapat 1 mud setara dengan 510 gram beras, sementara Mazhab Hanafi menetapkan 1 mud sebesar 812,5 gram beras. Dengan demikian, fidyah per hari bisa berupa 510 gram hingga 812,5 gram beras, atau setara dengan nilai uangnya.

Jika dikonversi ke uang, besaran fidyah per hari juga bervariasi tergantung harga beras di daerah masing-masing. Misalnya, dengan asumsi harga beras premium Rp 14.900 per kg di Pulau Jawa, fidyah per hari berkisar antara Rp 7.600 (510 gram x Rp 14.900) hingga Rp 12.100 (812,5 gram x Rp 14.900). Namun, besaran ini bisa berbeda di daerah lain.

Beberapa lembaga zakat, seperti BAZNAS DKI Jakarta, menetapkan besaran fidyah dalam bentuk uang, misalnya Rp 60.000 per hari (berdasarkan SK Ketua BAZNAS No. 07 Tahun 2023).

Melansir dari baznas.go.id, BAZNAS juga menjelaskan bahwa fidyah dapat dibayarkan dalam bentuk makanan pokok seperti beras atau gandum, sesuai takaran yang telah dijelaskan di atas. Pemilihan bentuk pembayaran fidyah, baik berupa makanan pokok maupun uang, disesuaikan dengan kondisi dan kemampuan masing-masing individu.

Selain beras, fidyah juga bisa berupa gandum atau makanan pokok lain yang lazim dikonsumsi di daerah tersebut. Konsultasikan dengan lembaga amil zakat setempat untuk memastikan besaran fidyah yang sesuai dengan kondisi ekonomi daerah Anda. Tujuan utama fidyah adalah membantu fakir miskin, jadi pastikan penyalurannya tepat sasaran.

Cara Menghitung Fidyah Puasa

Melansir dari baznas.go.id dan buku 125 Masalah Puasa karya Muhammad Anis Sumaji, cara menghitung fidyah cukup sederhana. Jumlah fidyah dihitung berdasarkan jumlah hari puasa yang ditinggalkan. Misalnya, jika seseorang tidak berpuasa selama 10 hari, maka ia harus membayar fidyah untuk 10 hari, baik dalam bentuk makanan pokok maupun uang. Pembayaran fidyah dapat dilakukan secara harian atau sekaligus di akhir Ramadhan.

Pembayaran fidyah dapat dilakukan dengan dua cara: harian atau sekaligus di akhir Ramadhan. Pembayaran harian dilakukan dengan memberikan fidyah setiap hari puasa yang ditinggalkan. Sedangkan pembayaran sekaligus dilakukan setelah Ramadhan berakhir, dengan menghitung total hari puasa yang ditinggalkan. Kedua cara ini diperbolehkan, sesuaikan dengan kemudahan masing-masing.

Berikut contoh perhitungan fidyah puasa:

Contoh 1: Seseorang tidak berpuasa selama 15 hari, menurut jumhur ulama (1 mud = 510 gram beras), ia harus memberikan 7,65 kg beras (15 hari x 510 gram) atau setara dengan uangnya.

Contoh 2: Jika menurut Mazhab Hanafi (1 mud = 812,5 gram beras), maka ia harus memberikan 12,18 kg beras (15 hari x 812,5 gram) atau setara dengan uangnya.

Contoh 3: Seseorang tidak berpuasa selama 20 hari, menurut BAZNAS DKI Jakarta (Rp 60.000/hari), ia harus membayar Rp 1.200.000.

Contoh 4: Seseorang tidak berpuasa selama 25 hari, menurut jumhur ulama (1 mud = 510 gram beras), ia harus memberikan 12,75 kg beras (25 hari x 510 gram) atau setara dengan uangnya.

Contoh 5: Seseorang tidak berpuasa selama 30 hari, menurut Mazhab Hanafi (1 mud = 812,5 gram beras), ia harus memberikan 24,375 kg beras (30 hari x 812,5 gram) atau setara dengan uangnya.

Perhitungan di atas hanya contoh, dan besaran fidyah dalam bentuk uang dapat berbeda-beda di setiap daerah. Selalu konsultasikan dengan lembaga amil zakat setempat untuk memastikan besaran yang sesuai.

Waktu Pembayaran Fidyah Puasa yang Tepat

Ilustrasi beras
Ilustrasi beras. (Photo Copyright by Freepik)... Selengkapnya

Pembayaran fidyah dapat dilakukan dengan dua cara, yakni harian atau sekaligus di akhir Ramadhan. Pembayaran harian dilakukan dengan memberikan fidyah setiap hari puasa yang ditinggalkan. Sedangkan pembayaran sekaligus dilakukan setelah Ramadhan berakhir, dengan menghitung total hari puasa yang ditinggalkan. Kedua cara ini diperbolehkan, sesuaikan dengan kemudahan masing-masing.

Waktu pembayaran fidyah yang tepat sebenarnya fleksibel, namun ada beberapa anjuran. Membayar fidyah di hari yang sama ketika seseorang tidak berpuasa adalah cara yang baik, karena kewajiban segera ditunaikan. Namun, membayar fidyah di akhir Ramadhan juga diperbolehkan, seperti yang dilakukan sahabat Anas bin Malik dengan mengundang fakir miskin dan memberikan makanan.

Berikut 3 contoh kasus waktu pembayaran fidyah:

Kasus 1: Seorang ibu hamil yang tidak berpuasa selama Ramadhan karena khawatir kesehatannya, dapat langsung memberikan fidyah setiap hari kepada fakir miskin.

Kasus 2: Seorang lansia yang sakit dan tidak mampu berpuasa selama Ramadhan, dapat membayar fidyah sekaligus di akhir Ramadhan setelah menghitung total hari yang ditinggalkan.

Kasus 3: Seseorang yang baru mengetahui dirinya wajib membayar fidyah setelah Ramadhan berakhir, dapat segera membayarnya setelah mengetahui kewajibannya.

Siapa Saja yang Wajib Bayar Fidyah Puasa?

Melansir dari buku Panduan Ibadah Puasa Wajib dan Sunnah karya Ahmad Zacky, beberapa golongan orang wajib membayar fidyah. Kewajiban ini berdasarkan Al-Qur'an Surat Al-Baqarah ayat 184 dan hadits Nabi Muhammad SAW. Fidyah bertujuan untuk meringankan beban mereka yang berhalangan berpuasa dan sekaligus membantu fakir miskin.

  1. Orang tua renta: Mereka yang sudah lanjut usia dan tidak mampu berpuasa karena kondisi fisik yang lemah. Kondisi ini membuat mereka kesulitan menjalankan ibadah puasa, sehingga diwajibkan membayar fidyah sebagai pengganti. Pembayaran fidyah ini meringankan beban mereka dan sekaligus membantu fakir miskin.

    Pemberian fidyah kepada orang tua renta yang tidak mampu berpuasa merupakan bentuk kepedulian dan tanggung jawab kita sebagai sesama muslim. Dengan membayar fidyah, kita membantu mereka menunaikan kewajiban agama dan sekaligus berbagi rezeki dengan fakir miskin.

  2. Orang sakit parah: Mereka yang menderita penyakit kronis dan tidak ada harapan sembuh, berdasarkan keterangan dokter. Kondisi kesehatan yang parah ini membuat mereka tidak mampu berpuasa, sehingga diwajibkan membayar fidyah. Pembayaran fidyah ini meringankan beban mereka dan sekaligus membantu fakir miskin.

    Bagi orang sakit parah yang tidak mampu berpuasa, membayar fidyah menjadi jalan untuk tetap menunaikan kewajiban agama. Hal ini juga menunjukkan kepedulian kita terhadap sesama dan semangat berbagi dengan fakir miskin.

  3. Ibu hamil atau menyusui: Jika berpuasa membahayakan kesehatan ibu atau janin/bayi, berdasarkan rekomendasi dokter. Kesehatan ibu dan anak merupakan prioritas utama, sehingga membayar fidyah menjadi pilihan yang tepat. Pembayaran fidyah ini meringankan beban mereka dan sekaligus membantu fakir miskin.

    Bagi ibu hamil atau menyusui yang berisiko jika berpuasa, membayar fidyah merupakan solusi yang dibenarkan syariat. Hal ini menunjukkan bahwa agama Islam sangat memperhatikan kesehatan dan keselamatan umatnya.

  4. Orang yang meninggal dunia: Ahli waris atau wali wajib membayar fidyah atas puasa yang belum diqadha oleh orang yang telah meninggal. Kewajiban ini menjadi tanggung jawab ahli waris untuk melunasi kewajiban orang yang telah meninggal. Pembayaran fidyah ini sekaligus membantu fakir miskin.

    Membayar fidyah atas nama orang yang telah meninggal dunia merupakan bentuk penghormatan dan kepedulian kita terhadap mereka. Hal ini juga menunjukkan pentingnya melunasi kewajiban agama meskipun orang tersebut telah tiada.

  5. Orang yang menunda qadha puasa: Jika seseorang menunda qadha puasa hingga Ramadhan berikutnya, ia wajib membayar fidyah untuk setiap hari puasa yang ditinggalkan. Menunda qadha puasa tanpa alasan yang dibenarkan syariat dapat mengakibatkan kewajiban membayar fidyah. Pembayaran fidyah ini sekaligus membantu fakir miskin.

    Menunda qadha puasa tanpa alasan yang syar'i dapat mengakibatkan kewajiban membayar fidyah. Hal ini menunjukkan pentingnya menunaikan kewajiban agama tepat waktu dan tidak menunda-nunda.

 

Lanjutkan Membaca ↓
Loading

Video Pilihan Hari Ini

Produksi Liputan6.com

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya