Niat Bekerja Begini yang Banar, agar Rezeki Lebih Besar Kata UAH

UAH juga menjelaskan bahwa ikhtiar yang dilakukan seseorang tidak pernah sia-sia. Walaupun hasilnya belum terlihat saat ini, usaha tersebut tetap dinilai dan dicatat oleh Allah.

oleh Liputan6.com Diperbarui 26 Feb 2025, 13:30 WIB
Diterbitkan 26 Feb 2025, 13:30 WIB
Ustadz Adi Hidayat atau UAH
Ustadz Adi Hidayat atau UAH. (Foto: YouTube Adi Hidayat Official)... Selengkapnya

Liputan6.com, Jakarta - Banyak orang bekerja dengan harapan mendapatkan hasil sesuai keinginan. Namun, apakah hal ini benar dalam pandangan Islam? Penceramah Ustadz Adi Hidayat (UAH) memberikan jawaban yang bisa mengubah cara pandang seseorang terhadap usaha dan rezeki.

Menurut UAH, seseorang yang terlalu berorientasi pada hasil justru berisiko mengalami kekecewaan. "Kalau Anda bekerja selalu mengharapkan hasil, Anda bisa kecewa. Sudah menyiapkan proyek, sudah studi, sudah bagus-bagus, tapi tiba-tiba tidak mendapat seperti yang diharapkan. Capek," kata UAH, dikutip dari video di kanal YouTube @nasihatpendek2023.

Dalam ceramahnya, UAH menegaskan bahwa Allah telah menetapkan rezeki bagi setiap manusia. Karena itu, yang lebih penting adalah menikmati proses ikhtiarnya.

"Makanya kata Allah itu, nikmati ikhtiarnya. Karena rezekinya sudah ditetapkan, tidak akan tertukar," lanjut UAH.

Rezeki yang telah dituliskan tidak akan berkurang hanya karena seseorang merasa kurang puas dengan hasil yang diperolehnya.

UAH juga menjelaskan bahwa ikhtiar yang dilakukan seseorang tidak pernah sia-sia. Walaupun hasilnya belum terlihat saat ini, usaha tersebut tetap dinilai dan dicatat oleh Allah.

"Kalaupun tidak dapat sekarang, tapi ikhtiar Anda, keringatnya, ilmunya, pikirannya, biayanya, itu sudah dinilai dan dituliskan," ujar UAH.

Setiap upaya akan diakumulasikan hingga pada akhirnya diberikan dalam bentuk rezeki yang lebih besar.

 

Simak Video Pilihan Ini:

Rezeki Itu Bisa Saja Akumulasi Usaha Sebelumnya

FOTO: Bank Indonesia Yakin Rupiah Terus Menguat
ilustrasi hasil bekerja. (Liputan6.com/Angga Yuniar)... Selengkapnya

Terkadang, seseorang tidak menyadari bahwa rezeki yang diperoleh di masa kini adalah hasil akumulasi dari usaha sebelumnya. UAH menekankan bahwa rezeki bukan sekadar hasil akhir, tetapi juga proses yang sudah ditempuh dalam mencapainya.

Dalam Islam, rezeki tidak selalu berupa materi. Bisa jadi rezeki datang dalam bentuk kesehatan, ketenangan hati, ilmu yang bermanfaat, atau bahkan kesempatan yang lebih baik di masa depan.

UAH mencontohkan, ada orang yang mungkin merasa gagal dalam satu pekerjaan, tetapi di kemudian hari mendapatkan posisi yang lebih baik karena pengalaman yang telah ia kumpulkan sebelumnya.

Karena itu, Islam mengajarkan agar seseorang tetap berusaha tanpa terlalu terikat pada hasil akhir. Allah lebih mengetahui kapan dan bagaimana rezeki terbaik akan diberikan.

Dalam pandangan UAH, fokus pada ikhtiar bukan berarti mengabaikan hasil, tetapi lebih pada menyerahkan hasil kepada ketetapan Allah. Sikap ini akan membuat seseorang lebih tenang dan tidak mudah kecewa.

Sebagian orang sering membandingkan rezekinya dengan orang lain. Padahal, setiap orang memiliki takdir rezeki yang berbeda sesuai dengan ketetapan Allah.

Bekerja Tak Sekadar karena Hasil

apa tujuan menulis surat lamaran kerja
ilustrasi kerja ©Ilustrasi dibuat AI... Selengkapnya

"Kadang-kadang ketika mendapat rezeki, kita tidak sadar bahwa itu lebih besar dari apa yang diharapkan. Karena dikumpulkan dari sebelumnya," ujar UAH.

Pemahaman ini diharapkan dapat mengubah cara pandang seseorang dalam bekerja dan berikhtiar. Tidak ada usaha yang sia-sia di mata Allah, meskipun hasilnya belum tampak secara langsung.

Bekerja dan berikhtiar dengan niat yang benar juga menjadi salah satu cara untuk mendapatkan keberkahan dalam hidup. Keberkahan ini bisa berupa ketenangan hati, hubungan yang lebih baik, atau jalan keluar dari kesulitan.

Dengan memahami konsep ini, seseorang bisa bekerja lebih ikhlas dan tidak mudah menyerah ketika menghadapi kegagalan. Karena yang terpenting bukan seberapa cepat hasil itu didapat, tetapi bagaimana prosesnya dijalani dengan baik.

UAH mengingatkan bahwa manusia hanya bisa berusaha, sementara hasilnya ada dalam ketentuan Allah. Keimanan kepada ketetapan Allah inilah yang akan membuat seseorang lebih bersyukur dan tidak mudah kecewa.

Pada akhirnya, bekerja bukan sekadar mencari hasil materi, tetapi juga bagian dari ibadah. Ketika seseorang bekerja dengan niat yang benar, setiap langkahnya akan bernilai pahala di sisi Allah.

Dengan demikian, seseorang tidak perlu cemas terhadap rezekinya. Yang terpenting adalah terus berusaha dengan niat yang baik, karena Allah sudah menetapkan bagian rezeki yang terbaik untuk setiap hamba-Nya.

Penulis: Nugroho Purbo/Madrasah Diniyah Miftahul Huda 1 Cingebul

Lanjutkan Membaca ↓
Loading

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya