Kisah Azab Firaun: Akhir Tragis Sang Pemimpin Zalim

Kisah Firaun dan azab yang diterimanya menjadi pelajaran berharga tentang pentingnya keimanan, ketaatan pada Allah, dan menjauhi kezaliman, baik di dunia maupun akhirat.

oleh Woro Anjar Verianty Diperbarui 26 Mar 2025, 17:15 WIB
Diterbitkan 26 Mar 2025, 17:15 WIB
Parfum Mumi Pejabat Wanita Firaun
Ilmuwan Temukan Parfum Mumi Pejabat Wanita Firaun (Sumber: Pexels/Kalvin Saintz)... Selengkapnya

Liputan6.com, Jakarta Sejarah mencatat berbagai kisah tentang pemimpin zalim yang meninggalkan jejak kekejaman dan kesombongan dalam lembaran sejarah umat manusia. Di antara sekian banyak pemimpin zalim yang diabadikan namanya dalam kitab suci, Firaun menjadi sosok yang paling dikenal sebagai lambang kesewenang-wenangan dan kekejaman. Kisah mengenai Firaun dan azabnya merupakan pelajaran berharga tentang bagaimana seorang pemimpin zalim yang menolak kebenaran pada akhirnya menghadapi konsekuensi dari keangkuhannya.

Dalam sejarah Islam, Firaun dikenang sebagai pemimpin zalim yang hidup pada masa Nabi Musa AS. Kesombongan dan keangkuhan Firaun terlihat jelas ketika ia bahkan berani mendakwahkan dirinya sebagai tuhan bagi rakyatnya. Tidak hanya itu, sebagai seorang pemimpin zalim, Firaun juga memperlakukan Bani Israil dengan sangat kejam, menjadikan mereka budak dan pekerja kasar, bahkan memerintahkan untuk membunuh setiap bayi laki-laki yang lahir dari kalangan Bani Israil.

Azab yang ditimpakan kepada pemimpin zalim seperti Firaun tidak datang secara tiba-tiba. Allah SWT memberikan banyak peringatan dan tanda-tanda kekuasaan-Nya sebelum akhirnya menimpakan azab yang membinasakan. Namun, keangkuhan Firaun membuatnya terus berada dalam kesesatan hingga detik-detik terakhir kehidupannya. Kisah azab Firaun menjadi pengingat abadi tentang bagaimana akhir tragis menanti mereka yang berlaku sewenang-wenang dan menolak kebenaran.

Berikut ini telah Liputan6.com rangkum informasi lengkapnya, pada Rabu (19/3).

Promosi 1

Sifat dan Kesombongan Firaun

Dalam Al-Qur'an, Firaun digambarkan sebagai sosok yang memiliki sifat angkuh, sombong, congkak, dan arogan. Ia bahkan berani mengklaim dirinya sebagai tuhan yang paling tinggi bagi rakyatnya. Allah SWT menyebutkan dalam Al-Qur'an surah An-Nazi'at ayat 24:

فَقَالَ أَنَا رَبُّكُمُ الْأَعْلَىٰ

"Maka dia (Firaun) berkata, 'Akulah tuhanmu yang paling tinggi'."

Berdasarkan tafsir dari Ibnu Katsir yang ditulis dalam Qashash Al-Anbiyaa', Firaun memiliki sifat yang hanyut dalam duniawi dan menolak untuk taat kepada Allah SWT. Ia memisahkan rakyatnya menjadi beberapa kelompok dan menindas Bani Israil dengan kejam. Firaun menjadikan Bani Israil sebagai budak dan pekerja kasar, memanfaatkan mereka untuk membangun kekuasaannya.

Kekejaman Firaun yang paling terkenal adalah perintahnya untuk membunuh setiap bayi laki-laki yang lahir dari Bani Israil. Hal ini dipicu oleh mimpi Firaun yang melihat kobaran api muncul dari Baitul Maqdis. Api itu membakar kota Mesir dan seluruh penduduknya, namun tidak menyentuh kaum Bani Israil. Para peramal istana menafsirkan mimpi tersebut sebagai pertanda akan datangnya keruntuhan kerajaan Firaun oleh seorang anak laki-laki dari kalangan Bani Israil, yang tidak lain adalah Nabi Musa AS.

Dalam surah Thaha ayat 24 dan 43, Firaun pada masa Nabi Musa digambarkan sebagai orang yang "Thagha" (melampaui batas). Cendekiawan muslim Nurcholis Majid menerjemahkan kata "Thagha" sebagai sikap tiranik, yakni sikap yang selalu ingin memaksakan kehendak kepada orang lain tanpa memberi peluang untuk melakukan pertimbangan bebas.

 

Azab-Azab yang Ditimpakan kepada Firaun dan Kaumnya

Allah SWT menurunkan berbagai bentuk azab kepada Firaun dan kaumnya sebelum azab terakhir yang menenggelamkan mereka di laut. Azab-azab ini disebutkan dalam Al-Qur'an surah Al-A'raf ayat 130-133:

وَلَقَدْ أَخَذْنَآ ءَالَ فِرْعَوْنَ بِٱلسِّنِينَ وَنَقْصٍ مِّنَ ٱلثَّمَرَٰتِ لَعَلَّهُمْ يَذَّكَّرُونَ

"Dan sesungguhnya Kami telah menghukum (Fir'aun dan) kaumnya dengan (mendatangkan) musim kemarau yang panjang dan kekurangan buah-buahan, supaya mereka mengambil pelajaran."

فَإِذَا جَآءَتْهُمُ ٱلْحَسَنَةُ قَالُوا۟ لَنَا هَٰذِهِۦ ۖ وَإِن تُصِبْهُمْ سَيِّئَةٌ يَطَّيَّرُوا۟ بِمُوسَىٰ وَمَن مَّعَهُۥٓ ۗ أَلَآ إِنَّمَا طَٰٓئِرُهُمْ عِندَ ٱللَّهِ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُونَ

"Kemudian apabila datang kepada mereka kemakmuran, mereka berkata: 'Itu adalah karena (usaha) kami.' Dan jika mereka ditimpa kesusahan, mereka lemparkan sebab kesialan itu kepada Musa dan orang-orang yang besertanya. Ketahuilah, sesungguhnya kesialan mereka itu adalah ketetapan dari Allah, akan tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui."

وَقَالُوا۟ مَهْمَا تَأْتِنَا بِهِۦ مِنْ ءَايَةٍ لِّتَسْحَرَنَا بِهَا فَمَا نَحْنُ لَكَ بِمُؤْمِنِينَ

"Mereka berkata: 'Bagaimanapun kamu mendatangkan keterangan kepada kami untuk menyihir kami dengan keterangan itu, maka kami sekali-kali tidak akan beriman kepadamu.'"

فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمُ ٱلطُّوفَانَ وَٱلْجَرَادَ وَٱلْقُمَّلَ وَٱلضَّفَادِعَ وَٱلدَّمَ ءَايَٰتٍ مُّفَصَّلَٰتٍ فَٱسْتَكْبَرُوا۟ وَكَانُوا۟ قَوْمًا مُّجْرِمِينَ

"Maka Kami kirimkan kepada mereka taufan, belalang, kutu, katak dan darah sebagai bukti yang jelas, tetapi mereka tetap menyombongkan diri dan mereka adalah kaum yang berdosa."

Dalam buku Qashash Al-Anbiyaa' karya Imam Ibnu Katsir yang diterjemahkan Dudi Rosyadi dijelaskan adanya bencana yang melanda Firaun dan kaumnya yakni masyarakat Mesir. Bencana tersebut berupa musim paceklik yang mengeringkan tanah Mesir sehingga tidak ada tanaman yang tumbuh dan tidak ada susu hewan yang dapat dimanfaatkan.

Meskipun telah dilanda musibah ini selama bertahun-tahun, Firaun dan kaumnya tetap enggan beriman. Mereka tetap kufur dan ingkar. Ketika kebaikan datang kepada mereka, yakni berupa kesuburan, mereka berkata "Ini adalah karena (usaha) kami." Firaun dan kaumnya tidak mengakui bahwa kebaikan ini diterima karena keimanan Nabi Musa AS dan kaumnya.

Selanjutnya, Allah menurunkan azab berupa:

  • Ath-Thufan (Topan): Sebuah riwayat dari Ibnu Abbas menyebutkan bahwa maksudnya adalah hujan deras yang diturunkan dengan kapasitas tinggi, hujan yang menyebabkan banjir, dan hujan yang menyebabkan kerusakan pada tanaman dan pepohonan.
  • Jaraad (Belalang): Belalang sebagai bencana bagi Fir'aun dan kaumnya sebagai hewan yang menyerang tanaman mereka hingga tidak tersisa sayuran, buah, dedaunan atau rerumputan.
  • Al-Qummal (Kutu): Ibnu Abbas menjelaskan maksudnya adalah sejenis ulat yang keluar dari hasil tanaman, terutama gandum.
  • Dhafadi (Katak): Hewan yang menyerbu istana Fir'aun dan rumah-rumah kaumnya hingga masuk ke bejana dan makanan. Bahkan ketika seorang ingin menyuap makanan maka seekor katak akan melompat lebih dulu ke dalam mulutnya.
  • Damm (Darah): Bercampurnya darah ke dalam air-air yang mereka gunakan untuk minum, mandi, dan lain sebagainya sehingga mereka tidak dapat memanfaatkan air Sungai Nil, air sumur dan sumber air lainnya.

Meskipun bencana itu diturunkan untuk seluruh masyarakat Mesir, tapi Bani Israil, kaum Nabi Musa AS, sama sekali tidak merasakannya. Ini merupakan bentuk kasih sayang Allah SWT kepada orang-orang beriman.

Pelarian Bani Israil dan Pengejaran oleh Firaun

Setelah berbagai azab yang ditimpakan kepada Firaun dan kaumnya, namun mereka tetap ingkar, Allah SWT memerintahkan Nabi Musa AS untuk membawa Bani Israil keluar dari Mesir. Allah SWT berfirman dalam surah Asy-Syu'ara ayat 52-53:

وَأَوْحَيْنَآ إِلَىٰ مُوسَىٰٓ أَنْ أَسْرِ بِعِبَادِىٓ إِنَّكُم مُّتَّبَعُونَ

"Dan Kami wahyukan (perintahkan) kepada Musa: 'Pergilah di malam hari dengan membawa hamba-hamba-Ku (Bani Israil), karena sesungguhnya kamu sekalian akan disusuli.'"

فَأَرْسَلَ فِرْعَوْنُ فِى ٱلْمَدَآئِنِ حَٰشِرِينَ

"Kemudian Fir'aun mengirimkan orang yang mengumpulkan (tentaranya) ke kota-kota."

Para ahli tafsir menyebutkan bahwa Bani Israil meminta izin kepada Firaun untuk keluar merayakan hari raya mereka. Ini adalah taktik Bani Israil untuk bisa melarikan diri dari Firaun. Firaun sendiri sebenarnya tidak setuju, namun ia pun akhirnya mengizinkan mereka. Maka Bani Israil pun bersiap-siap untuk keluar dan membebaskan diri dari Firaun dan bala tentaranya.

Ketika mengetahui kepergian Bani Israil, Firaun sangat marah. Ia segera mengumpulkan bala tentaranya dan mengejar mereka. Para ulama tafsir menyebutkan bahwa pasukan Firaun yang mengejar Bani Israil sangatlah banyak sekali jumlahnya. Ada yang mengatakan jumlah mereka lebih dari satu juta enam ratus ribu prajurit.

Dalam pengejaran tersebut, Bani Israil terjebak di tepi laut. Di belakang mereka, Firaun dan tentaranya semakin mendekat. Dalam keadaan terjepit ini, Nabi Musa AS menenangkan kaumnya dengan mengatakan bahwa Allah SWT akan menolong mereka. Allah SWT berfirman dalam surah Asy-Syu'ara ayat 61-62:

فَلَمَّا تَرَٰٓءَا ٱلْجَمْعَانِ قَالَ أَصْحَٰبُ مُوسَىٰٓ إِنَّا لَمُدْرَكُونَ

"Maka setelah kedua golongan itu saling melihat, berkatalah pengikut-pengikut Musa: 'Sesungguhnya kita benar-benar akan tersusul.'"

قَالَ كَلَّآ ۖ إِنَّ مَعِىَ رَبِّى سَيَهْدِينِ

"Musa menjawab: 'Sekali-kali tidak akan tersusul; sesungguhnya Tuhanku besertaku, kelak Dia akan memberi petunjuk kepadaku.'"

 

Terbelahnya Laut dan Tenggelamnya Firaun

Dalam situasi genting, dimana Bani Israil terjebak di antara laut dan tentara Firaun, Allah SWT memerintahkan Nabi Musa AS untuk memukul laut dengan tongkatnya. Allah SWT berfirman dalam surah Asy-Syu'ara ayat 63:

فَأَوْحَيْنَآ إِلَىٰ مُوسَىٰٓ أَنِ ٱضْرِب بِّعَصَاكَ ٱلْبَحْرَ ۖ فَٱنفَلَقَ فَكَانَ كُلُّ فِرْقٍ كَٱلطَّوْدِ ٱلْعَظِيمِ

"Lalu Kami wahyukan kepada Musa: 'Pukullah lautan itu dengan tongkatmu.' Maka terbelahlah lautan itu dan tiap-tiap belahan adalah seperti gunung yang besar."

Dikatakan bahwa laut terbelah menjadi 12 jalur, masing-masing sibth (seperti kabilah bagi orang Arab yang berpangkal pada satu bapak) menapaki jalur tersendiri. Laut menjulang bagaikan gunung, dan terbentuklah jalan kering di lautan yang tidak membasahi ujung kaki kuda yang melintas.

Bani Israil berhasil menyeberangi laut yang terbelah dengan selamat. Ketika Firaun dan tentaranya sampai, mereka melihat laut yang terbelah dan jalan kering di dalamnya. Firaun ragu untuk memasukinya, namun akhirnya ia memutuskan untuk mengejar Bani Israil. Diriwayatkan bahwa Jibril pun muncul di atas seekor kuda dan memasuki laut yang terbelah, diikuti oleh kuda Firaun dan seluruh pasukannya.

Ketika seluruh Bani Israil telah sampai di seberang dan semua pasukan Firaun berada di tengah laut yang terbelah, Allah SWT memerintahkan laut untuk kembali seperti semula. Allah SWT berfirman dalam surah Asy-Syu'ara ayat 65-66:

وَأَنجَيْنَا مُوسَىٰ وَمَن مَّعَهُۥٓ أَجْمَعِينَ

"Dan Kami selamatkan Musa dan orang-orang yang besertanya semuanya."

ثُمَّ أَغْرَقْنَا ٱلْءَاخَرِينَ

"Dan Kami tenggelamkan golongan yang lain itu."

 

Iman yang Terlambat: Pengakuan Firaun di Detik-detik Terakhir

Ketika Firaun tenggelam, terombang-ambing oleh ombak dan menyaksikan kematian yang semakin dekat, ia akhirnya mengakui keimanannya kepada Allah SWT. Namun, pengakuan iman tersebut datang terlambat, saat ajal sudah di depan mata. Allah SWT berfirman dalam surah Yunus ayat 90-92:

وَجَٰوَزْنَا بِبَنِىٓ إِسْرَٰٓءِيلَ ٱلْبَحْرَ فَأَتْبَعَهُمْ فِرْعَوْنُ وَجُنُودُهُۥ بَغْيًا وَعَدْوًا ۖ حَتَّىٰٓ إِذَآ أَدْرَكَهُ ٱلْغَرَقُ قَالَ ءَامَنتُ أَنَّهُۥ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا ٱلَّذِىٓ ءَامَنَتْ بِهِۦ بَنُوٓا۟ إِسْرَٰٓءِيلَ وَأَنَا۠ مِنَ ٱلْمُسْلِمِينَ

"Dan Kami memungkinkan Bani Israil melintasi laut, lalu mereka diikuti oleh Fir'aun dan bala tentaranya, karena hendak menganiaya dan menindas (mereka); hingga bila Fir'aun itu telah hampir tenggelam berkatalah dia: 'Saya percaya bahwa tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah).'"

ءَآلْـَٰٔنَ وَقَدْ عَصَيْتَ قَبْلُ وَكُنتَ مِنَ ٱلْمُفْسِدِينَ

"Apakah sekarang (baru kamu percaya), padahal sesungguhnya kamu telah durhaka sejak dahulu, dan kamu termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan."

فَٱلْيَوْمَ نُنَجِّيكَ بِبَدَنِكَ لِتَكُونَ لِمَنْ خَلْفَكَ ءَايَةً ۚ وَإِنَّ كَثِيرًا مِّنَ ٱلنَّاسِ عَنْ ءَايَٰتِنَا لَغَٰفِلُونَ

"Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami."

Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda:

لَمَّا أَغْرَقَ اللَّهُ فِرْعَوْنَ قَالَ: {آمَنْتُ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا الَّذِي آمَنَتْ بِهِ بَنُو إِسْرَائِيلَ} " فَقَالَ جِبْرِيلُ: يَا مُحَمَّدُ فَلَوْ رَأَيْتَنِي وَأَنَا آخُذُ مِنْ حَالِ البَحْرِ فَأَدُسُّهُ فِي فِيهِ مَخَافَةَ أَنْ تُدْرِكَهُ الرَّحْمَةُ

"Tatkala Firaun berkata: 'Aku beriman bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Tuhan yang diimani Bani Israil.' Jibril berkata kepadaku: 'Sekiranya engkau melihatku, di mana aku mengambil tanah hitam lagi busuk dari laut lalu aku bungkamkan ke mulut Firaun, karena khawatir kalau-kalau rahmat Allah menghampirinya.'"

Sebagai pertanda dan pelajaran, Allah SWT menyelamatkan jasad Firaun agar menjadi bukti bagi generasi yang akan datang. Ibnu Abbas berkata: "Sebagian Bani Israil ragu akan matinya Firaun. Maka Allah pun menitahkan kepada laut untuk memuntahkan jasadnya tanpa ruh, dengan baju perang di badan sebagai tanda pengenalnya. Jasadnya dimuntahkan di dataran tinggi, sehingga mereka benar-benar yakin akan kematiannya."

Hikmah dari Kisah Binasanya Firaun

Terdapat banyak hikmah dan pelajaran yang dapat diambil dari kisah binasanya Firaun, di antaranya:

  • Kebenaran pasti menang melawan kebatilan. Meskipun Firaun memiliki kekuasaan dan tentara yang besar, pada akhirnya ia tidak mampu menentang kehendak Allah SWT.
  • Kesombongan dan keangkuhan akan berujung pada kebinasaan. Firaun yang mengklaim dirinya sebagai tuhan akhirnya binasa dengan cara yang menghinakan.
  • Keimanan di saat ajal tidak lagi bermanfaat. Pengakuan iman Firaun ketika ia sudah hampir tenggelam tidak diterima oleh Allah SWT, karena keimanan harus dinyatakan ketika masih ada kesempatan untuk bertobat.
  • Allah SWT selalu menolong orang-orang beriman. Bagaimana Allah SWT menolong Bani Israil dengan membelah laut menunjukkan bahwa Allah SWT selalu membantu hamba-hamba-Nya yang beriman dan bertakwa.
  • Pentingnya bertawakal kepada Allah SWT. Nabi Musa AS mengajarkan Bani Israil untuk bertawakal kepada Allah SWT di saat-saat genting, seperti ketika mereka terjepit antara laut dan tentara Firaun.

Diriwayatkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari, bahwa binasanya Firaun terjadi pada hari Asyura. Nabi Muhammad SAW bersabda:

أَنْتُمْ أَحَقُّ بِمُوسَى مِنْهُمْ فَصُومُوا

"Kalian (wahai sahabat) lebih berhak (lebih dekat) kepada Musa daripada mereka (Yahudi). Maka berpuasalah kalian (pada hari Asyura)."

Kisah Firaun dan azabnya merupakan peringatan abadi tentang bahaya kesombongan, keangkuhan, dan penolakan terhadap kebenaran. Sebagai pemimpin zalim, Firaun telah menindas Bani Israil dan menolak kebenaran yang dibawa oleh Nabi Musa AS. Dari kisah ini, kita belajar bahwa Allah SWT selalu menolong orang-orang beriman dan bahwa kesewenang-wenangan serta kezaliman akan berujung pada kebinasaan. Jasad Firaun yang diselamatkan oleh Allah SWT menjadi pengingat abadi akan kekuasaan-Nya dan konsekuensi dari menolak kebenaran.

Lanjutkan Membaca ↓
Loading

Video Pilihan Hari Ini

Produksi Liputan6.com

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya