Liputan6.com, Jakarta - Semula, hidup Pangeran Siam, kini Thailand, Paribatra Sukhumbandu, bergelimang harta layaknya para bangsawan sebelum akhirnya diusir dari istana dan jadi tukang kebun di Bandung, Jawa Barat. Di masa jayanya, ia diberi posisi khusus di pemerintahan, merujuk buku "Thailand: A Short History (2004)," dikutip Jumat, 4 April 2024.
Ia sempat menjabat sebagai Panglima Angkatan Laut, Menteri Dalam Negeri, bahkan penasihat raja, hingga dunianya "runtuh" pada 24 Juni 1932. Kudeta di kerajaan menggulingkan kekuasaan ayah Paribatra, Raja Chulalongkron atau Rama V.
Praktis, ia harus angkat kaki dari istana yang sudah jadi rumah keluarganya selama 50 tahun. Sempat terpikir hijrah ke Eropa, namun si Pangeran Thailand kemudian memutuskan tinggal di Hindia Belanda sejak Agustus 1932.
Advertisement
Surat kabar de Indische Courant (6 Agustus 1932) melaporkan, dia tiba di Batavia, sekarang Jakarta, sebelum memilih menetap di kawasan Cipaganti, Bandung. Tidak sendirian, Paribatra memboyong serta istri, lima anak, dan beberapa orang lain.
Meski dianggap pesakitan di Thailand, sang pangeran begitu dihormati di Hindia Belanda. Para pejabat tinggi saat itu menganggapnya sebagai sosok hebat dan berjasa. Harian de Indische Courant (22 Agustus 1933) menuliskan, pejabat Hindia Belanda memberikan tiga rumah besar di Bandung sebagai hunian Paribatra.
Salah satunya adalah "Dahapati." Kini, rumah pengasingan Pangeran Siam itu telah disulap jadi Dapur Dahapati yang termahsyur dengan menu sop buntut legendanya, rangkum laman Bandung.go.id.
"Bangunan ini dibangun tahun 1932 dan tidak pernah ditempati sama Belanda. Rumah ini khusus untuk Pangeran Paribrata karena pada saat itu di Thailand ada kudeta, lalu (Paribrata) diasingkanlah di sini," sebut pemilik rumah Dapur Dahapati, Olivia Damayanti.
Rumah Pengasingan Pangeran Thailand
Disebutkan bahwa nenek dari pemilik Rumah Dahapati saat ini adalah salah satu asisten rumah tangga Pangeran Paribrata. Rumah Dahapati dulu punya halaman yang sangat luas, bahkan SPBU yang kini ada di seberangnya masih merupakan halaman rumah Dahapati dan Preseban.
Berjalannya waktu, Rumah Dahapati kemudian menjelma jadi Dapur Dahapati dengan menu terkenalnya: sop buntut. Hidangan ini disebut mampu menggoyang lidah para pecinta kuliner dari luar kota hingga mancanegara.
"Bahkan, Gubernur Bangkok cucunya Raja Thailand datang ke sini karena rumah ini masih ada sejarahnya dengan mereka," ujar Olivia. Semasa tinggal di sana, sang pangeran meyalurkan hobi terpendamnya: jadi tukang kebun.
Peneliti sejarah Bandung Haryoto Kunto dalam Semerbak Bunga di Bandung Raya (1986) menceritakan, di rumah barunya, Paribatra jadi ahli tanaman anggrek yang sukses membangun taman indah di depan rumah.
Dari kebun itu pula, Paribatra memperkenalkan bibit anggrek yang kelak disebarluaskan di kawasan Bandung. Menurut majalah Mooi Indie (1937), dia rela jadi tukang kebun karena merasa Bandung masih "miskin bunga." Selain berkebun, Paribatra juga hobi jalan-jalan.
Advertisement
Napak Tilas Kunjungan Raja Siam
Pada 1933─1938, Pangeran Paribrata dilaporkan mengunjungi Malang, Surabaya, Yoyakarta, Bali, Kediri, Bogor, dan Medan. Paribatra biasanya datang bersama rombongan dan menginap di hotel selama berhari-hari.
Terkadang, Pangeran Paribrata melakukan napak tilas ke beberapa wilayah yang pernah dikunjungi Rama V. Merujuk buku "Journeys to Java by a Siamese King (2001): yang ditulis Imtip Pattajoti Suharto, Raja Siam memang pernah tiga kali ke Jawa: 1871, 1896, dan 1901.
Selama lawatan, Raja Siam membawa seorang pendamping yang bertugas mencatat seluruh kegiatannya. Catatan-catatan ini kemudian selalu diterbitkan dalam minimal dua buku. Satu buku berupa catatan perjalanan sehari-hari, satu buku lagi berupa catatan resmi keseluruhan perjalanan Raja.
Kunjungan tahun 1901 ke Jawa, misalnya, dibukukan dan diterbitkan pada 1923 dengan judul: "A Diary of the Last Journey to Java in 1901 by H.M. King Chulalongkorn," dan "The Official Dispatches of His Majesty's Daily Activities to the Public of Bangkok, Recorded by Prince Sommot Amornpan and Printed in the Government Gazette."
Kunjungan Raja Siam ke Jawa
Dari tiga kali kunjungan Rama V ke Pulau Jawa, dua di antaranya Raja pergi ke Bandung, yaitu pada 1896 dan 1901. Selama dua kunjungan ini, Raja mampir ke Curug Dago.
Kunjungan kedua Rama V ke Curug Dago diceritakan dengan cara tempuhnya, yaitu pertama-tama menggunakan tandu, dilanjutkan dengan berkuda, dan pada bagian akhir perjalanan ditempuh dengan berjalan kaki. Di sini, diceritakan juga tentang Rama V yang mengguratkan catatan pada sebuah batu yang berisi angka tahun kunjungannya dalam tahun Rakatanosin dan masa pemerintahannya sebagai Raja Siam.
Sama dengan catatan kunjungan pertama, tidak ada catatan tentang kegiatan bersemedi, yang mematahkan mitos yang selama ini beredar di masyarakat. Sementara itu, hidup Paribatra Sukhumbandhu berakhir pada 18 Januari 1944.
Pangeran Siam wafat di usia 62 tahun dan dimakamkan di Bandung. Namun pada 1948, jenazah Paribatra dipulangkan ke tanah kelahiran untuk dikremasi di Istana Raja di Bangkok, ibu kota Thailand.
Advertisement
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5461692/original/009078500_1767429459-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-01-03T151529.802.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5460142/original/096008400_1767236844-cpsn_2026.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4143364/original/059306900_1662019531-Pertamina.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4160798/original/079359000_1663319947-1.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/2721358/original/040249400_1549421972-thai.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5180390/original/080912900_1743757794-toolzin.com-C_S3S9UMtJe-1.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/2523097/original/072242400_1544599817-thailand.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/1816320/original/026332200_1514559842-1452578836_7.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/3617610/original/066060200_1635551567-jpeg_211029_infografis-lokasi_wisata_religi_di_indonesia_P__1_.jpg)

:strip_icc()/kly-media-production/medias/5454125/original/099230800_1766550476-Lagidiskon__desktop-mobile__356x469_-_Button_Share.png)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5440993/original/051183300_1765449665-pexels-thirdman-7651922.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5440955/original/025438100_1765448041-pexels-chevanon-302894.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5436532/original/045182500_1765177568-pexels-maksgelatin-4824424.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5436514/original/029918400_1765176856-pexels-ken-tomita-127057-389818.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/1429293/original/037383000_1481114577-20161207--Laptop-Acer-Seharga-20-Juta-Jakarta-Angga-Yuniar-01.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5436096/original/000714800_1765162370-pexels-photo-1740919.webp)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4800209/original/049531900_1712900090-shutterstock_2286683503.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5442113/original/056839600_1765528039-Ilustrasi_smartphone__tablet__dan_laptop.png)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5441514/original/073297500_1765510798-Depositphotos_547538726_L.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5429431/original/070225500_1764586417-pexels-yankrukov-9072212.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5434294/original/022663100_1764921813-Depositphotos_209735730_L.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5424660/original/045643900_1764150556-IMG-20251126-WA0006.jpg)