Difteri Masih Ganas, Nenek Asal Garut Tewas

Sebelum tewas, nenek asal Garut itu sudah 11 hari dirawat di RSUD dr. Slamet Garut karena diduga terserang difteri.

oleh Jayadi Supriadin diperbarui 28 Des 2017, 09:34 WIB
Diterbitkan 28 Des 2017, 09:34 WIB
Kasus Positif Difteri di Garut Bertambah, 5 Pasien Diisolasi
Total 17 kasus difteri terjadi di Garut yang tersebar di 14 kecamatan. Tiga di antaranya meninggal dunia. (Liputan6.com/Jayadi Supriadin)

Liputan6.com, Garut - OM (63), seorang pasien difteri asal Kampung Ciwalen, Garut Kota, Kabupaten Garut, Jawa Barat, meninggal dunia. Dengan kematian OM, total pasien difteri asal Garut yang meninggal dunia menjadi empat orang.

"Pasien meninggal hari Selasa lalu sekitar pukul 17.55 WIB," ujar juru bicara RSUD dr Slamet Garut, Muhammad Lingga Saputra, Kamis (28/12/2017).

Menurut Lingga, pasien OM meninggal dunia setelah mendapatkan perawatan rumah sakit selama 11 hari sejak 19 Desember 2017 lalu. "Jenazahnya kami mandikan dulu di sini untuk mencegah penyebaran virus," ujarnya.

Jenazah akhirnya diserahkan pihak rumah sakit untuk selanjutnya dimakamkan pihak keluarga. "Jenazah diambil pihak keluarga hari itu juga, soal pemakamannya di mana kami kurang tahu," kata dia.

Dua pekan lalu, tiga pasien terduga difteri dirawat akhirnya dinyatakan positif. Mereka adalah SR (15), asal Kampung Palatar, Kecamatan Pakenjeng; Jl (18), asal Kadungora; serta CH (68) berasal dari Cimangaten Tarogong Kaler.

Dua pasien berikutnya menyusul sejak 19 Desember 2017, yakni OM, warga Ciwalen, Garut Kota; serta NF, dari Kampung Malati, Kecamatan Pasir Wangi. Untuk mendapatkan perawatan, seluruh pasien diisolasi di Ruang Puspa RSUD dr Slamet Garut.

Selain OM yang meninggal, empat pasien difteri lainnya yakni SR (15), asal Kampung Palatar, Kecamatan Pakenjeng; Jl (18), asal Kadungora; CH (68) asal  Cimangaten, Tarogong Kaler; serta NF (29), warga Pasir Wangi, sudah diperbolehkan pulang.

"Mereka mengalami perkembangan yang baik saat dirawat di RSUD dr Slamet," kata dia.

 


Garut Tetapkan Status KLB Difteri

Difteri
Mahasiswa bersiap disuntik vaksin difteri di Universitas Tarumanegara, Jakarta, Kamis (14/5). Ratusan mahasiswa/wi yang berusia di bawah 19 tahun mendapatkan imunisasi (Td) sebagai antisipasi mewabahnya penyakit difteri. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Sebelumnya, Pemerintah Kabupaten Garut, Jawa Barat, akhirnya menetapkan wabah penyakit difteri yang menyerang warganya, sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB).

Dalam dua pekan terakhir, satu orang meninggal dunia, serta lima orang pasien masih di rawat di RSUD dr. Slamet Garut."Statusnya penyakit Diteri sudah masuk kategori KLB, setelah Jawa Barat dinyatakan kategori KLB," ujar Wakil Bupati Garut, Helmi Budiman, Sabtu, 23 Desember 2017.

Penyebaran penyakit difteri cukup mengkhawatirkan. Sepanjang tahun ini sebanyak tiga warga meninggal dunia, dengan 17 kasus telah terdeteksi yang penyebarannya hingga 16 kecamatan.

Pemkab terus berupaya menggelar langkah pencegahan agar penyebaran penyakit itu tidak meluas. "Kami sudah meminta Pemerintah Pusat, untuk mengadakan pemberian vaksin secara masal," ucapnya.

Selain itu, ia terus menyosialisasikan gaya hidup sehat, sehingga penyebaran difteri bisa ditanggulangi sejak dini. "Kami juga menghimbau pada seluruh puskesmas untuk segera mengadakan vaksin untuk mengatasi penyakit tersebut," katanya.


Kasus Difteri Perdana di Mataram

Difteri
Seorang paramedis menyiapkan vaksin difteri untuk diberikan kepada siswa di sebuah sekolah dasar pada hari pertama sebuah kampanye di Tangerang, Senin (11/12). (AP Photo / Tatan Syuflana)

Sedikitnya lima warga Bima, Nusa Tenggara Barat, teridentifikasi terduga difteri. "Namun dari lima itu, empat orang sudah diperbolehkan pulang dari rumah sakit, karena sudah sehat. Dan satu lagi masih dalam perawatan," kata Pelaksana Tugas (PLt) Kepala Dinas Kesehatan NTB Marjito di Mataram, Rabu, 27 Desember 2017, dilansir Antara.

Ia mengatakan, dari lima orang yang terindikasi terduga difteri belum diketahui hasilnya apakah positif atau negatif difteri karena masih menunggu uji laboratorium.

"Hasil laboratoriumnya belum keluar. Karena, sesuai aturan lima sampai tujuh hari baru diketahui hasilnya. Tapi mudah-mudahan tidak ada yang positif," ujarnya.

Rentang usia dari lima orang yang terindikasi menderita difteri itu, menurut Marjito, sangat beragam, mulai usia 5 tahun, 8 tahun, 13 tahun, dan 30 tahun.

"Memang paling rentan terkena penyakit ini bayi atau di bawah umur satu tahun, karena kekebalan tubuhnya masih lemah. Tapi, orang dewasa pun bisa terserang penyakit ini," katanya.

Ia mengungkapkan, temuan pasien terduga difteri itu baru pertama kali terjadi di NTB. Pihaknya meminta masyarakat untuk tetap waspada terhadap penyakit tersebut, sebab penyakit yang diakibatkan bakteri Corynebacterium diphtheriae ini terbilang mematikan dan bisa menular dengan cepat.

"Penyakit ini sangat menular, bisa melalui udara dan kontak langsung dengan penderita," kata Marjito.


Gejala Awal

Menkes Nila Moeloek Jenguk Pasien Difteri di RSPI Sulianti Saroso
Sejumlah pasien menunggu di RSPI Prof Dr Sulianti Saroso, Jakarta, Senin (11/11). Di RSPI Sulianti Saroso ada 33 orang pasien yang secara klinis dicurigai difteri dan mendapat perawatan intensif di ruang isolasi. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Para pasien terduga difteri, kata Marjito, menunjukkan gejala awal yang sama, yakni demam disertai batuk dan pilek, diikuti pembengkakan pada leher, susah menelan, dan sesak napas. Sebagai ciri utamanya terlihat membran berwarna putih keabuan di tenggorokan penderita.

"Harus dipahami juga penyakit ini menular sekali, jadi selalu pakai masker bila keluar rumah," katanya.

Untuk mencegah penyakit itu meluas di NTB, pihaknya telah mengeluarkan surat edaran kepada pemerintah kabupaten/kota melalui Dinas Kesehatan, Puskemas, dan Rumah Sakit untuk memantau dan memutus mata rantai dari virus pembawa difteri tersebut.

Pihaknya juga telah menginformasikan kepada seluruh masyarakat untuk selalu menjaga kebersihan lingkungan sekitar.

"Kalau untuk vaksin, stok kita masih cukup. Bahkan di tahun 2018, kita akan menggencarkan imunisasi di seluruh wilayah sebagai langkah pencegahan agar masyarakat bisa terbebas dari penyakit tersebut," kata Marjito.

Saksikan video pilihan berikut ini:

Lanjutkan Membaca ↓
Loading

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya