Liputan6.com, Jakarta Ramadhan segera tiba, bulan penuh berkah bagi umat muslim. Puasa menjadi ibadah wajib yang harus dijalankan dengan penuh keimanan dan pemahaman. Namun, seringkali muncul pertanyaan: apa perbedaan antara rukun dan syarat sah puasa? Perbedaan ini krusial karena berdampak pada sah atau tidaknya ibadah puasa kita. Artikel ini akan menjelaskan perbedaan keduanya secara detail, berdasarkan berbagai mazhab fiqih.
Secara sederhana, rukun puasa adalah hal-hal yang harus dilakukan selama berpuasa. Jika salah satu rukun tidak dipenuhi, maka puasa tersebut tidak sah. Sementara syarat sah puasa adalah hal-hal yang harus dipenuhi sebelum melaksanakan puasa agar ibadah tersebut sah. Jika syarat tidak dipenuhi, maka kewajiban berpuasa gugur atau puasanya tidak sah. Perbedaan utama terletak pada waktu pemenuhan unsur tersebut dan konsekuensi jika unsur tersebut tidak dipenuhi.
Baca Juga
Perbedaan pendapat antar mazhab terutama muncul pada status niat: apakah termasuk rukun atau syarat? Mazhab Hanafi dan Hanbali mayoritas berpendapat hanya ada satu rukun puasa, yaitu menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa dari terbit fajar hingga terbenam matahari. Niat, bagi mazhab ini, merupakan syarat, bukan rukun.
Advertisement
Sementara itu, Mazhab Syafi'i berpendapat ada dua rukun: menahan diri dan niat. Niat harus spesifik untuk puasa Ramadhan dan dilakukan setiap malam. Mazhab Maliki memiliki perbedaan pendapat, sebagian berpendapat ada dua rukun, namun pendapat yang lebih kuat menyatakan niat sebagai syarat.
Rukun Puasa: Inti dari Ibadah
Seperti yang telah disinggung sebelumnya, perbedaan pendapat tentang jumlah rukun puasa terutama berpusat pada status niat. Mayoritas ulama sepakat bahwa menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa (seperti makan, minum, dan berhubungan suami istri) dari terbit fajar hingga terbenam matahari merupakan rukun utama. Tanpa pemenuhan rukun ini, puasa dipastikan tidak sah.
Beberapa mazhab menambahkan niat sebagai rukun, menekankan pentingnya niat yang ikhlas dan spesifik untuk ibadah puasa Ramadhan. Namun, penting untuk diingat bahwa perbedaan pendapat ini tidak mengurangi kewajiban berpuasa bagi umat muslim. Yang terpenting adalah memahami konteks dan konsekuensi dari perbedaan pendapat tersebut.
Mengacu pada berbagai pendapat mazhab, fokus utama dalam menjalankan rukun puasa tetaplah pada kesungguhan menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa sepanjang hari. Keikhlasan dan niat yang baik tentu akan memperkaya nilai ibadah kita.
Advertisement
Syarat Sah Puasa: Persiapan Menuju Ibadah yang Sah
Syarat sah puasa merupakan hal-hal yang harus dipenuhi *sebelum* seseorang memulai puasa. Pemenuhan syarat ini memastikan bahwa ibadah puasa yang dijalankan sah di sisi Allah SWT. Beberapa syarat yang umumnya disepakati di berbagai mazhab meliputi:
- Islam: Hanya orang muslim yang diwajibkan berpuasa.
- Baligh dan Berakal: Seseorang harus sudah mencapai usia baligh (dewasa) dan berakal sehat.
- Sehat: Kondisi kesehatan yang memungkinkan untuk berpuasa. Jika sakit, puasa dapat diganti atau diqadha (diganti setelah Ramadhan).
- Niat (dalam beberapa mazhab): Meskipun dalam beberapa mazhab niat dianggap sebagai rukun, dalam mazhab lain niat merupakan syarat sah puasa. Niat yang baik dan tulus akan semakin menambah nilai ibadah kita.
Penting untuk memahami bahwa jika salah satu syarat ini tidak terpenuhi, maka kewajiban berpuasa gugur atau puasanya tidak sah. Misalnya, seseorang yang sakit keras tidak wajib berpuasa dan dapat menggantinya setelah Ramadhan.
Disclaimer: Artikel ini dibuat menggunakan Artificial Intelligence (AI)
