Liputan6.com, New York - Bursa saham Amerika Serikat (Wall Street) naik pada menit-meint terakhir setelah terjadi perpecahan pendapat dari para petinggi Bank Sentral AS atau The Federal Reserve (The Fed) mengenai kenaikan suku bunga acuan.
Mengutip Bloomberg, Kamis (9/4/2015), Indeks Standard & Poor 500 naik 0,3 persen menjadi 2.081,84 waktu New York, AS. Indeks Nasdaq juga menguat 0,8 persen didukung penguatan saham-saham biotek dalam dua hari terakhir.
The Nasdaq Biotechnology Index melonjak setelah Myland NV berencana untuk mengakuisisi Perrigo Co sebesar US$ 28,90 miliar. Kebalikannya, Chevron Corp dan Exxon Mobil Corp justru terjungkal setidaknya 1,7 persen setelah keluarnya data mengenai persediaan minyak mentah di Amerika lebih tinggi dari perkiraan para analis.
"Saat ini, pasar bereaksi secara jangka pendek terhadap segala sentimen yang ada. Bahkan berita kecil pun akan menjadi sebuah sentimen," jelas Manajer Investasi Warren Financial Service & Associates Inc, Randy Warren.
Ia melanjutkan, seharusnya dalam melakukan transaksi perdagangan saham saat ini, para pelaku pasar memilih perusahaan-perusahaan yang benar-benar mempunyai fundamental yang baik dan jangan terlalu bereaksi terlalu aktif terhadap isu-isu mengenai kenaikan suku bunga The Fed.
Pada pertemuan bulan lalu, Gubernur Bank Sentral AS, Janet Yellen yakin untuk menaikkan suku bunga acuan pada tahun ini. Pasalnya, data-data yang ada menunjukkan bahwa perbaikan ekonomi di negara tersebut sudah berjalan sesuai dengan rencana. Namun keyakinan tersebut langsung runtuh di awal bulan ini setelah keluarnya data mengenai angka tenaga kerja yang tidak seperti yang direncanakan.
Beberapa pejabat The Fed melihat data angkatan kerja yang jauh dari target tersebut akan membuat rencana kenaikan suku bunga harus ditunda hingga akhir tahun nanti. Namun beberapa pejabat lain tetap yakin bahwa kenaikan suku bunga bisa dilakukan segera pada semester II 2015.
Gubernur The Fed New York, William Dudley menuturkan, dengan adanya data terbaru yang jauh dari target tersebut membuatnya sulit membayangkan jika suku bunga bisa segera mengalami kenaikan pada Juni nanti. Banyak risiko yang bakal terjadi jika secara fundamental perekonomian belum kuat namun suku bunga sudah naik.
Analis Wells Fargo Advisors LLC, Scott Wren menjelaskan, dengan adanya perpecahan pendapat tersebut menandakan bahwa ketidakpastian dalam penentuan kenaikan suku bunga. "Ini sudah dua bulan lagi menuju Juni. Tidak pernah terpikirkan oleh saya bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga tanpa jauh-jauh hari memberikan sinyal yang jelas kepada kami," tuturnya. (Gdn)
The Fed Pecah Pendapat, Wall Street Menguat
Indeks Standard & Poor 500 naik 0,3 persen menjadi 2.081,84 waktu New York, AS. Indeks Nasdaq juga menguat 0,8 persen.
diperbarui 09 Apr 2015, 04:23 WIBDiterbitkan 09 Apr 2015, 04:23 WIB
Advertisement
Video Pilihan Hari Ini
Live dan Produksi VOD
powered by
POPULER
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
Berita Terbaru
Kantongi Laba Rp 3,4 Triliun 2024, Intip Strategi Bisnis Unilever Tahun Ini
Pecco Bagnaia Akui Ketertinggalannya dari Marc Marquez, Ingin Pelajari Data untuk Perbaiki Performanya
OJK Kaji ETF Berbasis Aset Kripto
Kembali ke Beit Hanoun, Warga Gaza Hadapi Beragam Krisis
Susunan Pemain Iran vs Timnas Indonesia di Piala Asia U-20 2025: Welber Jardim dan Jens Raven Jadi Andalan
Mobil Tabrak Kerumunan di Munich Jerman Picu 15 Orang Terluka, Sopir Ditangkap
Lewat Live Streaming di RCTI dan GTV, Saksikan Pertandingan Timnas Indonesia U-20 vs Iran
Resep Gudeg Nangka Khas Yogyakarta: Panduan Lengkap Membuat Hidangan Tradisional yang Lezat
Simak Aturan Baru Membawa Powerbank ke Pesawat Seluruh Maskapai Korea Selatan
Ini Modal Penting Indonesia Capai Pertumbuhan Ekonomi 8%
Istilah 2 Kepribadian: Memahami Kompleksitas Jiwa Manusia
Alasan Hakim PN Jakarta Selatan Tolak Praperadilan Hasto Kristiyanto