Melihat Prospek Sektor Saham Konsumer di Tengah Momen Libur Natal dan Tahun Baru

Investment Analyst Infovesta Kapital Advisori, Fajar Dwi Alfian menuturkan, momentum Nataru bakal berdampak positif bagi emiten konsumer seperti ICBP dan MYOR.

oleh Elga Nurmutia diperbarui 08 Des 2023, 13:04 WIB
Diterbitkan 08 Des 2023, 13:04 WIB
Melihat Prospek Sektor Saham Konsumer di Tengah Momen Libur Natal dan Tahun Baru
Momentum Natal 2023 dan Tahun Baru 2024 atau Nataru diyakini memberikan dampak positif bagi saham sektor konsumer. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Momentum Natal 2023 dan Tahun Baru 2024 atau Nataru diyakini memberikan dampak positif bagi saham sektor konsumer. Lantas, saham apa saja yang bisa jadi pilihan? 

Investment Analyst Infovesta Kapital Advisori, Fajar Dwi Alfian menuturkan, momentum libur Natal dan Tahun Baru bakal berdampak positif bagi emiten konsumer seperti ICBP dan MYOR. 

"Momen Nataru akan memberikan dampak positif, seiring dengan window dressing. Namun, mungkin emiten yang lebih ke emiten seperti ICBP dan MYOR," kata Fajar kepada Liputan6.com, Jumat (7/12/2023).

Meski demikian, ia menjelaskan, pada akhir tahun ini diperkirakan masih terdapat sentimen negatif bagi saham sektor konsumer sehingga berpotensi masih tertekan.

Namun, saham-saham emiten tersebut diproyeksi akan terjadi perbaikan seperti MYOR, ICBP dan INDF. 

Di samping itu, ia menuturkan, kampanye dinilai belum terlalu memberikan dampak positif bagi sektor konsumer, karena pengeluaran anggaran mungkin baru terasa pada tahun depan. 

Selain itu, saat ini ada sentimen negatif berupa kenaikan harga pangan impor dan mempengaruhi inflasi kembali naik lagi, sehingga berpotensi menekan daya beli masyarakat.

"Hingga akhir tahun masih akan flat pelemahan Rupiah untuk sektor saham tertentu yang berorientasi bahan baku impor dan penjualan bukan luar negeri tentu akan berdampak negatif," kata dia. 

Sementara itu, Pengamat Pasar Modal Lanjar Nafi mengatakan, sektor saham konsumer siklikal dan primer sama-sama dapat menjadi pilihan. Ini mengingat, emiten tersebut mampu beradaptasi dengan perubahan eksternal dan dampak geopolitik serta memiliki kreativitas maupun strategi bisnis yang inovatif.

"Tidak hanya politik yang mengukir potensi katalis positif. Kenaikan upah minimum, yang diharapkan berkisar antara 8% hingga 10%, juga menjadi pemeran utama dalam drama pertumbuhan sektor konsumer," kata Lanjar. 

Dengan pandangan positif, kondisi tersebut dianggap sebagai kekuatan yang mampu memompa daya beli masyarakat, memberikan dorongan esensial untuk pertumbuhan perusahaan dalam arena konsumer.

Dengan demikian, ia merekomendasikan saham MYOR dengan target harga Rp 3.300 per saham dan saham ICBP dengan target harga Rp 13.500 per saham. 

 

 

* Follow Official WhatsApp Channel Liputan6.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.


Sektor Saham Konsumer Menadah Berkah saat Tahun Pemilu

Pembukaan Awal Tahun 2022 IHSG Menguat
Aktivitas pekerja di depan layar Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di BEI, Jakarta, Senin (3/1/2022). Pada pembukan perdagagangan bursa saham 2022 Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) langsung menguat 7,0 poin atau 0,11% di level Rp6.588,57. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sebelumnya diberitakan, sektor saham konsumer bakal menadah berkah hingga akhir tahun ini. Sebab, kondisi ekonomi domestik mulai membaik dan inflasi masih terkendali. 

Analis NH Korindo Sekuritas Indonesia Cindy Alicia menuturkan, saham konsumer pada tahun ini tentunya diuntungkan oleh kondisi ekonomi domestik yang mulai membaik. 

Terlebih, inflasi di Indonesia sendiri masih dalam kondisi yang terjaga, berdasarkan data Badan Pusat Statistik, inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) November 2023 tercatat sebesar 0,38% (mtm) dan secara tahunan menjadi 2,86% (yoy), kemudian juga ada Indeks Penjualan Riil (IPR) Oktober secara tahunan tumbuh 1,8% (yoy). 

"Prospek saham konsumer sendiri juga memiliki sentimen positif di tengah biasanya ada bonus akhir tahun, yang artinya ada kesempatan bagi konsumen untuk belanja lebih banyak dan emiten berharap hal itu akan mendorong kinerja di kuartal IV,” kata Cindy kepada Liputan6.com, dikutip Jumat (8/12/2023).

Ia melanjutkan, dampak kampanye sudah dimulai terhadap sektor saham konsumer, karena pemilu pun sudah tinggal kurang lebih dua bulan lagi. Bagi investor, Cindy merekomendasikan saham ICBP dan MYOR untuk dapat dipertimbangkan pada 2023. 

 

 


Sentimen Tahun Politik

Indeks Harga Saham Gabungan Akhir Tahun 2022 Ditutup Lesu
Karyawan melintasi layar yang menampilkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) saat acara Penutupan Perdagangan Bursa Efek Indonesia Tahun 2022 di Jakarta, Jumat (30/12/2022). PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat ada 59 perusahaan yang melakukan Initial Public Offering (IPO) atau pencatatan saham sepanjang 2022. Pada penutupan perdagangan akhir tahun, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup lesu 0,14% atau 9,46 poin menjadi 6.850,62. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Ia merekomendasikan beli saham ICBP dengaan target harga Rp13.600 per saham (P/E 16,3x) dengan potensi kenaikan sebesar 29,5%. Adapun, risiko utama dari rekomendasi NH Korindo adalah depresiasi mata uang Rupiah, kenaikan harga bahan baku, dan penurunan permintaan produk.

Selain itu, ia juga merekomendasikan beli saham MYOR dengan target harga Rp 3.200 per saham

(P/E 23,6x) dan memiliki potensi kenaikan sebesar 31,7%. Adapun, risiko utama rekomendasi ini antara lain kenaikan harga bahan baku, daya beli konsumen, dan penurunan permintaan produk.

Sementara itu, Analis PT MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana mengatakan, secara historikal, emiten-emiten konsumer mendapatkan katalis positif dengan adanya pemilu atau tahun politik. Hal itu didorong oleh daya beli untuk beberapa agenda politik, salah satunya kampanye. 

"Secara historikal, menjelang Pemilu (tahun politik) emiten konsumer mendapatkan katalis positif, di mana emiten-emiten tersebut terdorong dari sisi daya beli untuk beberapa agenda politik, seperti kampanye dan sebagainya,” kata dia. 

Bagi para investor, Herditya merekomendasikan saham AMRT, HMSP, dan ULTJ menjelang pemilu. 

 


Meneropong Kondisi Pasar Modal pada Tahun Politik

Pembukaan-Saham
Pengunjung tengah melintasi layar pergerakan saham di BEI, Jakarta, Senin (13/2). Pembukaan perdagangan bursa hari ini, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat menguat 0,57% atau 30,45 poin ke level 5.402,44. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sebelumnya diberitakan, PT Ashmore Asset Management Indonesia Tbk (AMOR) mencermati kondisi pasar modal pada tahun politik bisa tetap solid. Ini mengingat, ada potensi penurunan suku bunga pada 2024.

Direktur Ashmore AM, Steven Satya Yudha mengatakan, pihaknya memiliki optimisme yang sifatnya balance. Hal pertama yang kritikal untuk pasar modal adalah siklus suku bunga. 

"Kami melihat di mana suku bunga dari bank sentral Amerika Serikat telah mendekati puncak, dan ini menjadi kunci penting pergerakan pasar modal di negara-negara berkembang untuk tahun 2024," kata Steven dalam paparan publik, Kamis (16/11/2023). 

Dia bilang, pada saat siklus suku bunga sudah mencapai puncak dan mengalami penurunan, pihaknya percaya investasi akan mulai kembali masuk di negara-negara berkembang. 

Menurut ia, faktor fundamental domestik tetap berada dalam arah yang stabil di mana pertumbuhan ekonomi masih bisa dipertahankan di kisaran 4,8 sampai 5 persen. Selain itu, inflasi juga relatif terkendali. 

Dengan demikian, ia mencermati pasar modal Indonesia bisa mencetak kinerja yang lebih baik. Artinya, kinerja pasar modal Tanah Air berpotensi memiliki prospek yang cerah pada tahun politik. 

"Terkait dengan politik sendiri kami percaya bahwa kalau kita melihat secara historis pemilu-pemilu yang terjadi tahun 2019-2014 tersebut akan berdampak positif pada pergerakan pasar modal dan gairah investor untuk berinvestasi," kata dia.

Alhasil, Ashmore Asset Management Indonesia pun optimistis menghadapi tahun politik terutama di ranah pasar modal. 

 

 

 

 

Infografis Bank Dunia Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Global Bakal Terjun Bebas. (Liputan6.com/Abdillah)
Infografis Bank Dunia Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Global Bakal Terjun Bebas. (Liputan6.com/Abdillah)
Lanjutkan Membaca ↓

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Video Pilihan Hari Ini

Video Terkini

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya