SHOWBIZ UNCENSORED: Aku Dilabrak Istri Sah Seorang Produser (Bagian 5)

Makin seru Showbiz Uncensored. Pembantuku, Nani, menyerahkan batu yang terikat selotip. Di salah satu sisinya ada kertas terlipat berisi pesan dari seseorang. Yang mengirim para pesuruh untuk melempari rumahku.

Liputan6.com, Jakarta Mendengar Nani menangis dan belum mengucap sepatah kata pun, aku sudah deg-degan. Apalagi saat ia mengabarkan, kediamanku dilempari batu oleh orang-orang tak dikenal. Mataku tiba-tiba berkunang-kunang. Kepala pusing. Dengkul lemas. Keringat dingin seketika menetes. Padahal di luar kedai kopi, hawa dari pendingin ruangan masih terasa. Aku memikirkan beberapa hal.

Pertama, aku harus berpikir bagaimana caranya pamit dengan Tasya tanpa menimbulkan kecurigaan sedikit pun. Mengingat di antara anggota arisan Monokrom, Tasya paling kritis kalau tak mau dibilang penuh selidik. Kedua, sopirku pasti tahu karena Nani apa-apa curhat ke dia. Aku sebagai nyonya rumah harus tampak tenang dan menguasai keadaan.

Ketiga, bagaimana menghubungi Pak Janu dan menceritakan kondisinya? Ya Tuhan, kenapa masalah ini harus muncul persis di saat suasana hatiku baru saja pulih, sih? Untuk sesaat setelah mematikan ponsel, aku menarik napas panjang beberapa kali. Setelah agak tenang, aku masuk ke kedai kopi. 

Bayangan Orang di Belakang Rumah

Pandangan Tasya mengikutiku dari sejak aku masuk ke kedai kopi hingga duduk di hadapannya. Kuseruput minuman dan kusantap kudapan di piring kecil. Setelah menyantap dua potong buat pantas-pantas barulah aku mulai membuka obrolan dengan Tasya. Sebisa mungkin suaraku tak terdengar gugup.

"Are you oke, Vit?" Tasya membuka obrolan dengan mata tetap mengikuti pergerakan tubuhku.

"Oh, ya. Semua oke. Cuma Nani pembantuku panik ada bayangan orang di belakang rumah. Dia, kan parno-an. Makanya nelepon ngakunya melihat maling. Nyebelin sih, dia," jawabku sembari melakukan kontak mata ke Tasya.

"Aduh, yang kayak begini, nih ngerusak mood. Lo mau pulang, aja? Buat ngasih rasa aman ke pembantu, lo?"

"Eeemh... kayaknya, ya, deh. Daripada-daripada," sahutku sambil menyeruput kopi pahit, yang malam ini benar-benar terasa pahit.

"Ya sudah, yuk, cabs!" kata Tasya sembari beranjak dari kursi dan menjinjing 6 tas berisi barang belanjaan. Kami lantas berpisah di lobi.

Ruang Tamu Kacau Balau

Di dalam mobil, aku berdiam diri. Tak mau memulai pembicaraan dengan Seto. Meski aku tahu persis, Seto beberapa kali melirikku dari kaca yang bertengger di area depan mobil. Aku hanya diam sembari menghubungi Pak Janu lewat WhatsApp. "Mas, aku mau kamu ke kediaman kita sekarang. Pokoknya gawat dan aku perlu merasa aman. Cuma kamu yang bisa bikin aku merasa aman sekarang," tulisku lalu kupencet tombol kirim.

EnamPlus