Selamat Hari Kartini, 6 Penyanyi Perempuan Ini Dijuluki Macan Festival Harumkan Indonesia di Mata Dunia

Merayakan Hari Kartini, yuk tengok lagi 6 penyanyi perempuan lintas generasi, wakili Indonesia mengharumkan nama Ibu Pertiwi di tingkat dunia.

Liputan6.com, Jakarta - Rabu (21/4/2021), Indonesia merayakan Hari Kartini. Kaum hawa mengenang Kartini sang pejuang emansipasi wanita yang peduli pada kaumnya. Pemikiran dan perjuangan Kartini mengantar wanita Indonesia meraih kesempatan berkarya di berbagai bidang termasuk seni.

Tak sedikit penyanyi perempuan yang berkarya mewakili Indonesia di ajang festival tarik suara kelas dunia. Mereka kemudian dijuluki Macan Festival, konsisten berkarya hingga kini, dan dikenal khalayak lewat sejumlah hit.

Laporan khas Showbiz Liputan6.com kali ini merangkum 6 dari sekian banyak Macan Festival yang dimiliki Ibu Pertiwi. Teriring ucapan, Selamat Hari Kartini. Yuk berkarya dengan bakat terbaik kita untuk persada.

1. Ruth Sahanaya

Langganan juara di beragam festival musik dalam negeri, Ruth Sahanaya mewakili Indonesia di ajang Midnight Sun Song Festival 1992 yang dihelat di Finlandia. Kala itu, ia melantun “Kaulah Segalanya” versi Inggris, yakni “You Always Be Mine.” Suara sang diva menyihir juri festival.

Pemilik album Seputih Kasih ini pulang ke Indonesia membawa gelar Grand Prix Winner. Ruth Sahanaya adalah paduan unsur komersial dan kualitas tingkat tinggi. Setelahnya ia mencetak banyak hit dari “Keliru” hingga “Andaikan Kau Datang Kembali.”

2. Krisdayanti

Krisdayanti mewakili Indonesia di arena panas para remaja bersuara emas dari berbagai negara Asia, Asia Bagus. Pada 1992, KD melaju ke grand final di Tokyo, berbekal senjata karya Youngky Suwarno dan Tengku Malinda, “Learning From Love.” Ia menjadi juara umum.

Setelahnya, KD merilis album Terserah (1996). Dua tahun kemudian ia meroket bareng album Sayang yang memfiturkan “Menghitung Hari.” Teknik vokalnya diikuti Ika Putri dan Ajeng. Selain itu, model rambut sampai alisnya menginspirasi kaum hawa. Dialah ikon.

3. Hetty Koes Endang

Jangan pernah ragukan teknik vokal Hetty Koes Endang. Di era Generasi Bunga, ia adalah standar emas bagaimana solis perempuan mestinya berdendang. Pada 1977, Hetty mewakili Indonesia di World Popular Song Festival Jepang dengan lagu “Damai Tapi Gersang.”

>Performanya kala itu digelari Most Oustanding Performance. Sepak terjang Hetty tak henti sampai di situ. Pada 1983, Hetty menjerit di Vina Del Mar Song Festival Cile. Lengkingannya di lagu “Sayang” berbuah gelar Penyanyi Terbaik. Sejak itu Indonesia kian disegani.