6 Potret Dewi Lestari di Puro Mangkunegaran Tampil Kasual hingga Berkebaya, Disebut Putri Solo Asli Usai Dirias

Dewi Lestari berkebaya dan berkonde saat menghadiri Tahun Baru Islam di Puro Mangkunegaran Solo. Ia disebut Putri Solo asli hingga membahas nama sendiri.

Liputan6.com, Jakarta Masih ada satu catatan menarik dari perayaan 1 Suro atau Tahun Baru Islam di Puro Mangkunegaran Solo, Jawa Tengah. Dewi Lestari alias Dee Lestari rupanya diundang untuk ikut merayakan.

Pelantun “Malaikat Juga Tahu” tampil berkebaya klasik hitam, jarit, plus konde. Sejumlah pose Dee Lestari bareng tamu undangan Puro Mangkunegaran Solo mencuri perhatian publik.

Personel trio Rida Sita Dewi ini berbagi cerita soal namanya yang jauh dari kesan Batak hingga momen dirias sebelum berangkat ke Puro Mangkunegaran Solo. Walhasil, ia dianggap Putri Solo Asli.

Laporan khas Showbiz Liputan6.com pekan ini merangkum 6 potret Dewi Lestari tampil pakai kebaya kala menghadiri perayaan 1 Suro atau Tahun Baru Islam di Puro Mangkunegaran Solo. Auto pangling!

 

1. Dewi dan Lambang Puro Mangkunegaran

Salah satu potret menampilkan Dewi Lestari berkebaya dengan jarit. Senyum ibu dua anak ini merekah menyiratkan kebahagiaan saat berada di Kota Bengawan.

Berdiri di salah satu ruang ikonis dengan logo kebesaran Puro Mangkunegaran plus sejumlah lukisan para pentinggi Kadipaten di Kota Solo, penampilan Dewi Lestari bagai Putri Solo asli. Setuju?

2. Beban Nama Dewi Lestari

Penulis lagu “Satu Bintang di Langit Kelam” mengaku waktu kecil agak terbeban dengan nama Dewi Lestari mengingat ayah ibunya asli Batak. Dewi Lestari sendiri identik dengan nama Jawa. Penulis novel Perahu Kertas kemudian menjelaskan sejarah nama Dewi Lestari.

Lestari merupakan pemberian dari kawan-kawan Bapak yang membesuk saat saya lahir dan mereka sedang terlibat program pelestarian lingkungan. Untuk memadankan nama Lestari, Mama lalu mencari pasangan nama yang kira-kira cocok, hingga diputuskanlah Dewi,” akunya.

 

3. Nama Terasa Sedikit Ganjil

Saat sekolah, Dewi Lestari merasa namanya biasa saja. Bahkan terasa (maaf) pasaran. Namun saat bersiap menuju Puro Mangkunegara Solo, ada momen sederhana yang membuatnya terseksan. “Di lingkungan sekolah, nama saya biasa saja. Pasaran, malah,” tulis Dewi Lestari.

Tapi, begitu di lingkungan Batak, nama Dewi Lestari terasa sedikit ganjil. Apalagi kalau dibubuhi marga. Usai dirias di Solo oleh perias setempat, Mbaknya tersenyum puas lalu bilang: Bener-bener putri Solo asli. Saya membalas sopan: Njih, matur nuwun, Mbak,” cuitnya.

Produksi Liputan6.com