Liputan6.com, Jakarta Insan musik Tanah Air sekarang sedang dihebohkan oleh lagu "Bayar, Bayar, Bayar" dari grup musik asal Sukatani. Tema lagu yang dianggap mengkritik institusi Polri, membuatnya sempat ditarik dari peredaran di platform musik digital. Sejumlah netizen pun menyayangkan hal ini, dan beberapa dari mereka mengunggah ulang secara tak resmi.
Meskipun mengaku lagu tersebut ditujukan untuk sejumlah 'oknum', bukan institusi keseluruhan, para personel grup musik Sukatani pun sempat legawa ketika lagu baru mereka tersebut tak lagi beredar secara digital. Namun seiring berjalannya waktu, tampaknya keadaan mulai berubah.
Baca Juga
Kini lagu tersebut kabarnya diizinkan beredar lagi untuk umum. Bahkan, Kapolri Jenderal Pol. Listyo Sigit Prabowo mengajak grup musik Sukatani sebagai duta Polri dalam upaya memperkuat semangat reformasi institusi kepolisian. Kapolri menyampaikan bahwa Polri terus berupaya memperbaiki diri agar makin profesional, modern, dan terbuka terhadap masukan masyarakat.
Advertisement
"Jika Band Sukatani berkenan, kami akan menjadikannya sebagai juri atau duta Polri guna terus memberikan kritik sebagai bentuk evaluasi dan koreksi terhadap institusi. Ini juga bertujuan memastikan adanya perbaikan berkelanjutan terhadap perilaku oknum polisi yang menyimpang," ungkap Kapolri Listyo Sigit, ditulis Senin (24/2/2025), mengutip Bisnis Liputan6.com.
Bergeser ke dunia musik nasional dan internasional, sebenarnya kritik sosial bahkan hingga pemerintah pun telah diekspresikan oleh para musisi Tanah Air dan dunia. Di Indonesia misalnya. Ada penyanyi Iwan Fals dan Bimbo; serta deretan grup musik seperti Efek Rumah Kaca, dan Slank.
Bahkan di dunia internasional, sejumlah grup musik memiliki karya lagu yang bertema kritik sosial bahkan mengkritik pemerintahan negara mereka sendiri. Beberapa karya mereka bahkan menjadi hits. Para musisinya juga dihormati oleh insan pendengar musik di seluruh dunia.
Lantas, apa saja lagu bertema kritik sosial yang sempat menjadi hits dunia. Siapa saja musisi yang menciptakan dan membawakannya? Berikut deretannya.
1. "Killing in the Name" - Rage Against the Machine
Lagu "Killing in the Name" yang diciptakan dan dibawakan sendiri oleh Rage Against the Machine, band hip hop metal asal Amerika Serikat, menjadi simbol perlawanan terhadap penindasan dan rasisme.
Lagu ini juga mengecam kekuasaan yang dianggap masyarakat menyalahgunakan otoritas. Liriknya menyoroti ketidakadilan sosial dan kritik terhadap polisi setempat.
Meskipun Rage Against the Machine kini sudah tak menelurkan album lagi, namun para personelnya tetap dihormati berkat keberanian mereka menyuarakan aspirasi. Bahkan sang gitaris, Tom Morello, beberapa kali tampil dalam film populer seperti Iron Man dan Dungeons and Dragons: Honor Among Thieves.
Advertisement
2. "American Idiot" - Green Day
Lagu "American Idiot" yang dibawakan trio punk rock asal Amerika Serikat, Green Day, menjadi karya sekaligus kritik tajam dari mereka terhadap budaya politik di negaranya, khususnya selama era George W. Bush.
Lirik lagu yang dibawakan oleh Billie Joe Armstrong dan kawan-kawan ini dinilai provokatif, namun cukup efektif dalam menyerukan kesadaran politik di kalangan generasi muda terutama di Amerika Serikat.
Soal dihormati, tak perlu ditanya lagi. Green Day hingga hari ini masih memiliki fans yang solid dan sukses merangkul pendengar dari generasi baru.
3. "Zombie" - The Cranberries
Lagu "Zombie" milik grup musik asal Irlandia, The Cranberries, ditulis sebagai respons terhadap konflik yang pernah melanda Irlandia Utara. "Zombie" menyoroti dampak perang dan kekerasan terhadap masyarakat sekitar.
Liriknya menggambarkan rasa sakit dan kehilangan akibat kebijakan pemerintah yang gagal. Kini, The Cranberries telah ditinggal untuk selamanya oleh sang vokalis, Dolores O’Riordan, pada 2018 lalu. Namun berkat lagu ini, nama The Cranberries masih dihormati sebagai grup musik yang berpengaruh.
Advertisement
4. "Another Brick in the Wall, Part 2" - Pink Floyd
Lagu milik grup lawas asal Inggris, Pink Flioyd ini, mengkritik sistem pendidikan di negaranya yang dianggap mengekang kreativitas para siswa.
Kritik Pink Flioyd ini lebih mencerminkan pada isu sosial yang lebih besar mengenai bagaimana pembelajaran dan kebebasan individu yang seharusnya.
Lagu ini juga salah satunya yang membuat Pink Floyd dihormati sebagai grup musik dan karya-karyanya mempengaruhi musisi generasi berikutnya.
5. "Welcome to the Jungle" - Guns N' Roses
Lagu "Welcome to the Jungle" oleh Guns N' Roses menggambarkan kehidupan di kota-kota besar, terutama Los Angeles, Amerika Serikat.
Lirik lagunya mencerminkan kekacauan dan tantangan yang dihadapi oleh tiap individu dalam masyarakat yang dikuasai oleh kekuatan korup di seiktar mereka.
Meskipun belum menelurkan album lagi sejak 2008, serta konflik internal yang sempat melanda grup ini, Guns N' Roses masih tetap dihormati oleh para penggemarnya yang solid.
Advertisement
6. "God Save the Queen" - Sex Pistols
"God Save the Queen" merupakan lagu ikonik di kalangan pengikut kultur punk serta para pendengar musiknya. Begitu juga dengan pemilik lagunya, grup asal Inggris, Sex Pistols.
Meskipun hanya memiliki satu album, Sex Pistols masih sangat dihormati hingga hari ini. Terutama saat para penggemarnya membahas makna dari isi lagu "God Save the Queen".
Secara langsung, "God Save the Queen" menyerang monarki Inggris serta menyuarakan ketidakpuasan terhadap pemerintah saat itu, terutama selama perayaan Silver Jubilee Ratu Elizabeth II.
