Google Matikan Fitur Utama Google Maps untuk Cegah Tentara Rusia Lacak Warga Ukraina

Google telah menonaktifkan fitur utama Google Maps untuk membantu melindungi warga Ukraina dari pantauan tentara Rusia.

oleh Iskandar diperbarui 05 Mar 2022, 13:00 WIB
Diterbitkan 05 Mar 2022, 13:00 WIB
Serangan Rusia ke Kiev Hancurkan Pusat Logistik
Petugas pemadam kebakaran berusaha memadamkan api di pusat logistik yang rusak setelah penembakan di Kiev, Ukraina, Kamis (3/3/2022). Rusia telah meluncurkan serangan jarak jauh ke Ukraina, menghantam kota dan pangkalan dengan serangan udara atau penembakan. (AP Photo/Efrem Lukatsky)

Liputan6.com, Jakarta - Google telah menonaktifkan fitur utama Google Maps untuk membantu melindungi warga Ukraina. Informasi langsung tentang seberapa sibuk suatu tempat di Ukraina atau kondisi lalu lintas lokal, untuk sementara ini tidak ditampilkan lagi.

Perubahan ini bersifat global, jadi tidak ada seorang pun di seluruh dunia yang bisa melihat data lalu lintas di Ukraina. Demikian sebagaimana dilansir The Sun, Sabtu (5/3/2022).

Langkah yang dilakukan Google tentunya akan mempersulit siapa pun yang mencoba melacak pergerakan pasukan dan warga sipil di dalam negara yang dilanda perang tersebut.

Seperti diketahui, Google Maps memanfaatkan jaringan smartphone untuk menyediakan informasi real-time bagi pengguna. Misalnya, pengguna jalan dapat membantu Google mengetahui di mana lalu lintas padat berada.

Teknologi itu dapat memberikan informasi kepada pengguna untuk merutekan ulang perjalanan mereka. Google pun bisa sering merinci seberapa sibuk suatu perusahaan atau sebuah jaringan berjalan. 

 

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

 


Google Maps Bisa Dimanfaatkan Rusia

Bangunan Pemukiman Warga Kota Kiev Hancur Dihantam Invasi Rusia
Seorang wanita berjalan di depan bangunan yang rusak setelah peluru militer Rusia menghantam di Koshytsa Street, Kiev, Ukraina (25/2/2022). Ledakan di Kiev memicu kekerasan setelah Presiden Rusia Vladimir Putin menentang peringatan Barat untuk melancarkan invasi darat skala penuh. (AFP/Daniel Leal)

Pada hari-hari awal invasi, The Washington Post mengungkapkan bagaimana para peneliti menggunakan data tersebut untuk melacak pergerakan.

Pemblokiran dan penundaan jalan menandakan adanya eksodus dan potensi pergerakan pasukan. Tetapi beberapa orang khawatir Google Maps dapat digunakan untuk keuntungan Rusia, memberikan perincian tentang seberapa sibuknya daerah-daerah tertentu.

Google mengatakan kepada Reuters bahwa mereka telah berkonsultasi dengan sejumlah sumber, termasuk 'otoritas regional', sebelum membuat keputusan.

Ukraina telah melakukan perlawanan sengit terhadap invasi Rusia. Ibu kota Kyiv masih bertahan meskipun pasukan berat Rusia berupaya untuk menerobos.

Pengguna internet telah didesak untuk tidak mengungkapkan pergerakan pasukan Ukraina di media sosial.

 


Sikap Perusahaan Teknologi

YouTube
Ilustrasi YouTube (Liputan6.com/ Agustin Setyo W).

Sementara itu, sejumlah perusahaan teknologi telah menindak Rusia dalam beberapa hari terakhir. Facebook, Google, dan Twitter telah membatasi semua iklan di Rusia atas invasi Ukraina.

YouTube hingga saat ini memblokir beberapa channel media pemerintah Rusia untuk mengambil keuntungan dari iklan. Google juga mengumumkan bahwa mereka akan "menjeda" Layanan Iklan Google untuk media pemerintah Rusia.

Perusahaan induk Facebook, Meta, baru-baru ini mengungkapkan bahwa mereka telah menemukan jaringan peretas yang menargetkan warga Ukraina.

Meta kemudian menutup belasan akun Facebook palsu yang dibuat sebagai bagian dari kampanye Rusia.


Infografis Rusia Vs Ukraina, Ini Perbandingan Kekuatan Militer

Infografis Rusia Vs Ukraina, Ini Perbandingan Kekuatan Militer. (Liputan6.com/Trieyasni)
Infografis Rusia Vs Ukraina, Ini Perbandingan Kekuatan Militer. (Liputan6.com/Trieyasni)
Lanjutkan Membaca ↓
Loading

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya