Liputan6.com, Jakarta - Kejaksaan Agung telah menetapkan 7 orang tersangka pada perkara dugaan tindak pidana korupsi dalam Tata Kelola Minyak Mentah dan Produk Kilang PT Pertamina (Persero), Sub Holding, dan Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) tahun 2018-2023.
"Akibat adanya beberapa perbuatan melawan hukum tersebut, mengakibatkan kerugian negara sekitar Rp193,7 triliun, yang bersumber dari komponen kerugian Ekspor Minyak Mentah Dalam Negeri sekitar Rp35 triliun, kerugian Impor Minyak Mentah melalui DMUT/Broker sekitar Rp2,7 triliun, erugian Impor BBM melalui DMUT/Broker sekitar Rp9 triliun, kerugian Pemberian Kompensasi (2023) sekitar Rp126 triliun, dan kerugian Pemberian Subsidi (2023) sekitar Rp21 triliun," terang Kepala Pusat Penerangan Hukum, Harli Siregar dalam siaran pers yang diterima, Selasa (25/2/2024).
Advertisement
Baca Juga
Ada dugaan dalam melakukan pengadaan produk kilang mereka membeli RON 92 (Pertamax), padahal yang dibeli ialah RON 90 alias Pertalite. Kemudian turut dilakukan blending di depo agar menjadi RON 92.
Advertisement
Untuk diketahui, RON merupakan angka identifikasi komparasi antara heptana dan isooktana di dalam sebuah bahan bakar minyak.
Saat Anda menggunakan kendaraan dan mengisi BBM dengan RON sesuai anjuran pabrik maka bisa mendapatkan performa mesin baik.
Jika Anda menggunakan RON terlalu rendah maka performa kendaraan pun dijamin ikut menurun. Lalu sebaliknya bila menggunakan RON kepalang tinggi, justru kendaraan bisa menggelitik dan temperatur mesin cepat meningkat (panas).
Sebagai gambaran apabila konsumen mencampur dua jenis bensin dengan oktan berbeda secara manual. Misalnya, Anda mengisi bensin RON 90, kemudian ditambah RON 92 dapat berdampak buruk.
Prof. Tri Yuswidjajanto Zaenuri, dosen teknik mesin ITB mengatakan, pencampuran BBM memiliki efek negatif.
Contohnya BBM berlabel Pertamina seperti Premium, Pertalite, Pertamax dan Pertamax Turbo. Masing-masing memiliki kandungan yang berbeda-beda. Misalnya saja zat aditif hanya ada di Pertalite, Pertamax dan Pertamax Turbo.
“Maka nanti dosisnya (zat aditif) akan turun setengahnya. Secara oktan mungkin kita dapat kalau mencampur (bensin). Tapi bahayanya deposit (kerak) justru naik," jelas Prof. Tri Yuswidjajanto Zaenuri, yang juga menjadi peneliti di LAPI ITB, seperti dinukil dari laman Astra Honda Motor.
Efek Buruk
Aditif dimaksud ialah detergen yang berfungsi membersihkan deposit yang muncul. Mulai dari saluran masuknya BBM, hingga hasil pembakaran di ruang bakar.
Semakin banyak deposit tertinggal maka bisa merusak mesin. Hal ini dapat terjadi di klep sehingga katup bisa macet.
Kerusakan terjadi saat katup balik kurang cepat dan bisa bertabrakan dengan piston lalu membuatnya bengkok. Alhasil, mesin jadi macet tidak bisa menyala.
Di sisi lain, Djoko Santoso, Vice President Corporate Communication Pertamina Fadjar mengatakan, Pertamina siap bekerja sama dengan aparat berwenang dan berharap proses hukum dapat berjalan lancar dengan tetap mengedepankan asas hukum praduga tak bersalah.
Sumber: Oto.com
Advertisement
