Liputan6.com, Jakarta - Siang itu di tengah kesibukannya sekolah, Jaedy Maeroni mendapatkan kabar gembira dari ketua RT tempatnya tinggal di daerah Jatisampurna, Kota Bekasi, Jawa Barat. Sontak mukanya semringah, karena dia mendapat program beasiswa ke perguruan tinggi untuk siswa berprestasi.
Bagi Jaedy, ini merupakan peluang emas untuknya bisa mengenyam pendidikan yang lebih tinggi. Karena bagi sebagian orang, biaya kuliah bisa menjadi hambatan besar dalam mewujudkan impian sekolah ke universitas. Dia bertekad ingin melanjutkan pendidikannya tanpa bersantai keluarga.
“Pada saat itu usaha toko sembako orang tua sedang kolaps, jadi tidak mungkin saya minta ke keluarga untuk biaya kuliah,” kata Jaedy kepada Liputan6.com , Kamis (27/1/2025).
Advertisement
Saat itu pada tahun 2016, beasiswa dari Program 1 Rumah Dhuafa 1 Sarjana dari Badan Amil Zakat Nasional ( BAZNAS ) Kota Bekasi baru pertama kali diluncurkan dan bekerja sama dengan Universitas Islam 45 (Unisma) Bekasi. Jaedy sudah menentukan arah apa yang akan dipilihnya. Berbagai persyaratan pun disiapkan.
Niat dan tekat menjadi pegangan Jaedy untuk dapat melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Proses pendaftaran dilakukan mulai tingkat kecamatan hingga kota. Beberapa nama terpilih, termasuk Jaedy.
“Karena berlatar belakang pesantren jadi ambil jurusan Pendidikan Agama Islam,” ucap dia.
Selama mengenyam bangku perguruan tinggi, Jaedy juga memanfaatkan berbagai pelatihan yang diselenggarakan oleh BAZNAS Kota Bekasi. Hampir semua pelatihan diikutinya, mulai dari public speaking hingga pelatihan yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuannya.
Kata dia, berbagai pelatihan tersebut untuk membantu menambah keahlian para mahasiswa binaan. Sehingga keahlian yang dimiliki dapat membantu saat mencari pekerjaan setelah lulus kuliah.
"Semua pelatihan saya ikuti waktu itu. Karena saya juga sering terjun ke masyarakat mengisi dakwah. Jadi sangat membantu sekali," papar dia.
Kuliah untuk Menaikkan Derajat Keluarga
Setelah lulus kuliah pada tahun 2020, Jaedy sempat mengajar di salah satu Sekolah Dasar (SD) selama dua tahun dan saat ini menjadi aparatur sipil negara (ASN) di Kementerian Agama (Kemenag). Kendati begitu, dia juga aktif menjadi relawan di BAZNAS.
“Karena saya kerja, jadi saya bergabung sebagai relawan amil program pendamping mustahik BAZNAS,” jelas dia.
Hal yang sama juga disampaikan oleh Amrizal Mustakim. Dia merasa terbantu dengan adanya beasiswa tersebut. Sebelum mendapatkan beasiswa, keluarga Rizal hanya mengandalkan sang ayah saja.
Amrizal memotivasi dirinya kuliah untuk menaikkan derajat keluarga. Apalagi saat sekolah dirinya selalu dianggap sebelah mata oleh orang lain. Rizal menjadi orang pertama di keluarga yang melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi.
"Istilahnya ingin memotivasi teman-teman tujuan kuliah, karena waktu itu dianggap sebelah mata. Jadi kuliah mau nunjukin saya bisa, kuliah bisa dan bekerja sesuai skill ," kata Rizal kepada Liputan6.com .
Saat ini Rizal masih menjadi mahasiswa tingkat akhir di Universitas Bani Saleh. Selain mengikuti sejumlah pelatihan yang diadakan BAZNAS, Rizal juga aktif menjadi relawan saat ada pendistribusian bantuan ke masyarakat.
“Saya juga ikut serta sebagai relawan pendistribusian. Kegiatan ini berlangsung ketika ada pengajuan program, jadi lebih ke lapangan,” jelas dia.
Advertisement
Mustahik Jadi Munfiq
BAZNAS Kota Bekasi memberikan beasiswa pendidikan untuk masyarakat yang membutuhkan. Beasiswa itu termasuk untuk program pengisian guru pesantren dan madrasah.
Ketua BAZNAS Kota Bekasi, Nurul Akmal menyatakan, setiap tahun merekrut merekrut sebanyak 12 duafa berprestasi. Katanya, BAZNAS telah memberikan beasiswa kepada 108 warga terhitung sejak 2016 hingga 2024.
“Sebagian sudah ada yang lulus, bekerja, dan membantu perekonomian keluarga. Mereka berangkat dari status mustahik, kini sebagian sudah menjadi munfiq, karena rutin berinfak setiap bulan ke BAZNAS Kota Bekasi,” kata Akmal kepada Liputan6.com .
Saat ini, lanjut dia, Baznas telah bekerja sama dengan empat kampus di Kota Bekasi, yakni Unisma Bekasi, Universitas Bani Saleh, Universitas As Syafiiyah, dan STIT Al Marhalah Al Ulya. “Kami yakin dan keyakinan tersebut telah terbukti bahwa pendidikan adalah salah satu instrumen yang dapat memutus mata rantai kemiskinan,” jelas Akmal.
BAZNAS Luncurkan Program Beasiswa Riset
Sebelumnya, Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) RI meluncurkan program Beasiswa Riset BAZNAS 2024 untuk Kategori Umum dan Manajemen Zakat dan Wakaf (Mazawa), sebagai langkah konkret dalam rangka mewujudkan visi Indonesia Emas 2045.
Beasiswa Riset BAZNAS adalah program beasiswa dengan memberikan bantuan dana riset tugas akhir untuk membantu mahasiswa dalam menyelesaikan perkuliahan, bagi mahasiswa di pendidikan tinggi S1, S2, S3, dan tahun ini BAZNAS juga membuka kuota kategori di luar mahasiswa seperti Tim/Kelompok/Instansi/Lembaga Riset.
Ketua BAZNAS RI Noor Achmad mengungkapkan, sebanyak 150 beasiswa akan diberikan, dengan masing-masing untuk 50 mahasiswa S1, 55 mahasiswa S2, dan 55 mahasiswa S3, serta kelompok riset 5 tim.
Dalam pelaksanaannya, Kiai Noor menjelaskan pihaknya akan bekerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Kolaborasi ini akan memungkinkan para mahasiswa berprestasi yang menerima beasiswa untuk melakukan riset yang dapat mengatasi berbagai permasalahan mustahik, sehingga mereka bisa diberdayakan di masa mendatang.
“Kami berharap kerja sama ini tidak hanya membantu para mustahik saat ini, tetapi juga memberikan mereka kemampuan untuk membantu orang lain di masa depan,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Noor menambahkan selama ini BAZNAS dikenal dengan berbagai program bantuan langsung kepada mustahik. Namun, dengan kolaborasi bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), BAZNAS berupaya untuk tidak hanya memberikan bantuan, tetapi juga menciptakan solusi jangka panjang melalui riset dan kajian tata kelola zakat.
"Melalui beasiswa riset ini diharapan bisa melahirkan peneliti yang bisa menciptakan inovasi tata kelola zakat melalui riset dan kajian yang dilakukannya sehingga dapat terwujud berbagai program kemanusiaan yang bisa tepat sasaran dan membawa kebermanfaatan untuk mustahik," ujar Noor.
Advertisement
Zakat Solusi Permasalahan Nasional
Menurut Noor, program beasiswa riset ini bukan hanya sebuah inisiatif untuk memberikan bantuan finansial, tetapi juga merupakan upaya BAZNAS dalam menempatkan zakat sebagai solusi untuk permasalahan nasional, khususnya dalam konteks kemiskinan ekstrem.
"Insya Allah, kami abdikan apa yang kami miliki untuk masyarakat miskin/mustahik. Mudah-mudahan mereka bisa menolong kita setidaknya di akhirat," ujarnya.
Sementara itu, Pimpinan BAZNAS RI Bidang Pendistribusian dan Pendayagunaan Saidah Sakwan menambahkan, program beasiswa riset ini adalah bagian penting dari komitmen BAZNAS untuk berinvestasi pada masa depan Indonesia.
“Ini adalah bentuk komitmen bagaimana zakat dapat menjadi bagian dari solusi kebangsaan dan meletakkan fondasi peradaban. Dari tahun ke tahun, anggaran untuk program ini terus meningkat seiring dengan meningkatnya kebutuhan dan kualitas penelitian tentang tata kelola zakat dan sektor lainnya,” jelas Saidah.
"Ini mendorong kami untuk terus meningkatkan anggaran dan keberpihakan terhadap pengembangan riset di Indonesia," lanjutnya.
Saidah juga menekankan pentingnya riset dalam meningkatkan kapasitas teknologi dan inovasi, baik dalam pengelolaan zakat maupun dalam pemberdayaan ekonomi mustahik.
