Dorong Kepercayaan Diri Anak-Anak Kolok Lewat Sekolah Inklusi

Hadirnya Sekolah Inklusi membantu anak - anak Kolok mengenyam pendidikan. Kini mereka semakin percaya diri dan tidak lagi minder.

oleh Liputan6.com Diperbarui 27 Des 2018, 17:15 WIB
Diterbitkan 27 Des 2018, 17:15 WIB
Dorong Kepercayaan Diri Anak-Anak Kolok Lewat Sekolah Inklusi
Hadirnya Sekolah Inklusi membantu anak - anak Kolok mengenyam pendidikan. Kini mereka semakin percaya diri dan tidak lagi minder.... Selengkapnya

Liputan6.com, Surabaya Kita semua pasti familiar dengan Pulau Bali. Pulau yang terkenal dengan seribu pura ini memiliki satu desa yang unik yang diberi nama Kolok. Kolok sendiri mempunyai arti bisutuli. Sebagian kecil masyarakatnya menyandang tunarungu dan tunawicara. Desa ini berlokasi di Desa Bengkala, Kabupaten Buleleng.

Karena keunikannya, Desa Bengkala menjadi desa dengan masyarakat Kolok terbesar di Indonesia. Meskipun demikian, keterbatasan tidak menjadi halangan untuk anak-anak kolok Desa Bengkala menyenyam bangku pendidikan. Dari bilik jendela, terlihat wajah antusias anak-anak Kolok belajar bersama para mahasiswa yang menjadi relawan pengajar.

Tentu, orang normal akan berdecak kagum jika melihat langsung proses belajar mengajar anak-anak Kolok yang berjalan dengan baik meski dengan keterbatasan.

Menurut cerita Ketut Kanta, dulu tokoh Desa Bengkala yang ditemui langsung di SD Negeri 2 Bengkala pada 4 September lalu, anak-anak Kolok pemalu, tidak berani untuk bersosialisasi, dan merasa rendah diri karena sulit untuk berkomunikasi.

“Pelan-pelan kami arahkan untuk ikut kegiatan belajar. Mereka mulai bisa bersosialisasi, membaca, berhitung, dan sudah tidak minder lagi. Selain itu, anak-anak Kolok itu emosinya berbeda dengan anak normal, tidak boleh dipaksa sehingga kami harus benar-benar mendekati secara perlahan, mendatangi langsung rumah mereka satu per satu. Untuk sampai kondisi saat ini membutuhkan proses yang tidak sebentar,” tutur Ketut.

Sejak tahun 2007, didirikan sekolah inklusi pertama dan satu-satunya yang ada di Bengkala untuk jenjang Sekolah Dasar (SD). Tidak ada bedanya dengan sekolah lain, di sekolah ini sistem yang digunakan ialah kurikulum reguler seperti sekolah pada umumnya.

Hal yang berbeda ialah terdapat pendamping yang membantu proses belajar anak Kolok selama di kelas. Siswa tuna rungu wicara dan siswa lainnya belajar dalam sekolah dan sistem yang sama.

"Awalnya anak-anak Kolok belajar membaca, menulis, dan berhitung (calistung) di rumah saya, kami tidak memiliki gedung. Lalu sejak 2007, mulailah anak-anak Kolok belajar di sekolah umum yaitu SD N 2 Bengkala untuk sekolah inklusi SD. Akan tetapi hanya sebatas jenjang SD saja sehingga banyak tamatan SD yang tidak melanjutkan sekolah,” pungkas Kanta.

PT Pertamina (Persero) melalui Depot Pengisian Pesawat Udara (DPPU) Ngurah Rai, membuat program Sekolah Inklusi Pra SMP bersama Forum Layanan IPTEK Masyarakat (FlipMas) Indonesia sejak bulan Juli 2018. Program ini dibuat sebagai bentuk kepedulian Pertamina terhadap pendidikan warga Kolok.

 

Promosi 1
Dorong Kepercayaan Diri Anak-Anak Kolok Lewat Sekolah Inklusi
Ketut Kanta, Tokoh masyarakat Desa Bengkala bercerita tentan warga Kolok.... Selengkapnya

Banyak fakto yang meletarbelakangi dicanangkannya program Sekolah Inklusi Pra-SMP ini. Pertama, karena dari warga Kolok banyak yang putus sekolah khususnya tamatan SD Inklusi. Kedua, faktor ekonomi yang kurang sehingga letak sekolah SMP yang jauh dari desa yaitu di Kota Singaraja membuat anak-anak Kolok tidak melanjutkan sekolah karena tidak ada biaya.

Ketiga, Sekolah Inklusi Pra SMP ini dilaksanakan karena banyak dari para Kolok yang sebagian besar waktunya digunakan untuk bekerja sebagai buruh kasar untuk membantu orang tua mereka, jadi mereka hanya bisa sekolah saat sore hari. Terakhir, karena masyarakat Kolok banyak yang tidak bisa calistung sehingga sering ditipu orang.

Banyak warga yang dahulunya memiliki lahan garapan yang luas kemudian terpedaya godaan tengkulak tanah.

"Oleh karena itu dengan sekolah ini diharapkan dapat meningkatkan pendidikan masyarakat Kolok,” imbuh Ajar Darmawan Spv. HSSE DPPU Ngurah Rai saat ditemui sedang melakukan evaluasi program tersebut di Desa Bengkala.

Para relawan pengajar berasal dari mahasiswa Universitas Pendidikan Ganesha (UNDIKSHA) Bali di bawah bimbingan Dr. rer.nat. I Wayan Karyasa, S.Pd., MSc selaku dosen sekaligus anggota FlipMas. Para relawan beserta dosen membuat kurikulum yang disesuaikan dengan anak-anak kolok di Desa Bengkala. Kepedulian yang menggerakkan hati para mahasiswa dan dosen menjadi relawan pengajar di sekolah Pra SMP Inklusi Desa Bengkala.

"Kami biasanya mengajar seminggu secara bergantian. Kami merasa terpanggil untuk datang ke desa ini. Kami ingin mereka punya akses pendidikan yang sama seperti orang normal pada umumnya,” ujar Kadek Daivi Wahyuni mahasiswa Pendidikan Kimia UNDIKSHA salah satu relawan tersebut.

Dalam hal metode atau sistem mengajar yang digunakan disesuaikan dengan kebudayaan lokal Desa Bengkala. Misalnya saat belajar Matematika, para relawan menggunakan contoh dengan Canang. Canang merupakan salah satu sarana upacara yang setiap hari selalu digunakan oleh umat Hindu.

Para siswa dapat belajar menghitung panjang dan lebar dari canang. Atau saat belajar warna, para relawan biasa menyampaikan dengan dikaitkan pada contoh yang ada di sekitar warga Kolok.

"Contoh warna kuning, warga di sini kan suka buat jamu ya pakai kunyit, jadi kami menggambarkan kuning dengan kunyit, kemusian menyebut merah itu bibir, hitam itu rambut, putih gigi,” jelas Daivi sambil memberi contoh dengan bahasa isyarat.

Ketut Kanta merupakan tokoh penggerak atau tokoh di balik anak-anak Kolok mau melanjutkan sekolah. Kanta menguasai bahasa isyarat masyarakat Kolok juga bahasa asing (Inggris dan Italia) sehingga terbiasa menjadi penerjemah untuk akademisi atau tamu luar negeri yang berkunjung ke desa ini.

Berkat jasanya, para akademisi yang melakukan penelitian di desa ini memberi panggilan khusus kepada Kanta yaitu Profesor Kolok. Kanta sangat bersyukur dengan adanya program Sekolah Inklusi Pra SMP oleh Pertamina bersama FlipMas.

"Ya banyak perubahan setelah adanya program ini. Biasanya orang Kolok mengatakan "saya malu" saat bersosialisasi atau belajar. Sekarang orang Kolok sudah bisa belajar seperti masyarakat umumnya. Saya berterima kasih kepada Pertamina dan FlipMas yang sudah membuat program ini. Semoga PT Pertamina dapat segera mengembangkan program yang sudah ada ini, baik dari segi tempat bahkan terus dilanjutkan sampai sekolah inklusi untuk jenjang SMA,” tutup Kanta.

 

(*)

Video Pilihan Hari Ini

Produksi Liputan6.com

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya