Liputan6.com, Jakarta Memendam emosi atau masalah sendirian tidak baik untuk kesehatan mental maupun fisik. Seperti disampaikan dokter Zaidul Akbar dalam ceramah yang diunggah di akun Youtube-nya.
“Kalau enggak speak up (mengutarakan perasaan), maka organnya akan bereaksi. Kalau ada sesuatu yang enggak nyaman misalnya dalam rumah tangga, speak up, ngomong aja jangan pakai ilmu kebatinan. Tapi dengan adab, dengan baik dan santun, (speak up) itu obat,” kata Zaidul di saluran Youtube dr. Zaidul Akbar Official dikutip Jumat (28/2/2025).
Advertisement
Tak terbatas pada masalah rumah tangga, speak up atau mengutarakan perasaan juga dapat membantu para penyintas kekerasan seksual. Sayangnya, speak up masih menjadi hal sulit bagi sebagian korban.
Advertisement
Ada berbagai alasan yang membuat penyintas kekerasan seksual tidak langsung terbuka atau speak up tentang kejadian yang menimpa dirinya.
Selain stigma masyarakat yang masih negatif terkait penyintas kekerasan seksual, ancaman dan teror pelaku pun dapat menjadi hal yang menghambat penyintas untuk speak up.
Dalam keterangan lain, kriminolog Haniva Hasna, M. Krim menjelaskan penyebab korban pelecehan seksual enggan menceritakan kejadian yang menimpanya.
Menurut perempuan yang akrab disapa Iva, pelecehan seksual dapat menyebabkan dehumanisasi yakni perasaan rendah sebagai manusia. Lalu muncul rasa malu yang membuat korban menjadi menyalahkan diri sendiri. Misal, mengapa tidak melawan, mengapa bersedia diperlakukan seperti itu.
“Naluri untuk bertanggung jawab terhadap diri sendiri inilah yang membuat korban berusaha menerima dan menyembunyikan rasa sakitnya. Padahal upaya itu nyatanya akan membuat mereka mengalami trauma,” kata dia kepada Health Liputan6.com melalui pesan teks.
Speak Up adalah Jalan Keluar
Walau demikian, speak up adalah salah satu cara yang efektif untuk membantu penyintas keluar dari keterpurukan. Hal ini dirasakan langsung oleh salah satu penyintas kekerasan seksual Amy Fitria.
Menurut Amy, speak up adalah jalan keluar dari musibah yang menimpa dirinya pada 13 Agustus 2019.
Setelah speak up, “Pada akhirnya aku menemukan jalan keluar dari jalan yang tadinya buntu,” ujar Amy kepada Health Liputan6.com melalui sambungan virtual, Jumat (18/12/2020).
Butuh waktu lebih kurang satu tahun untuk Amy mengumpulkan keyakinan hingga akhirnya speak up. Kala itu, ia mengaku tak tahu harus minta bantuan ke mana lagi sementara pelaku masih bebas berkeliaran.
Advertisement
Speak Up Bikin Pelaku Berhasil Diringkus Polisi
Amy memutuskan untuk speak up di media sosial dengan mengunggah foto pelaku yang berhasil tertangkap kamera pengintai. Foto tersebut disertai kronologi kejadian yang dialaminya.
Selang dua hari setelah speak up, pelaku berhasil diringkus polisi. Selain mendapatkan bantuan hukum, speak up juga membuat Amy mendapatkan dukungan dari banyak orang.
“Ada netizen yang menghujat tapi persentasenya kecil. 20 persen komentar negatif, 80 persen komentar positif.”
Spek Up Setelah Merasa Siap
Terlepas dari hal itu, Amy mengakui bahwa speak up sangatlah penting. Namun, setiap orang membutuhkan waktu yang berbeda untuk akhirnya siap speak up.
Perempun yang hobi masak ini juga menyampaikan, speak up sebaiknya dilakukan sesuai dengan kenyamanan pribadi. Misal, media yang dipilih untuk speak up tidak harus selalu media sosial. Keterbukaan tersebut bisa dimulai dari menceritakan pada keluarga atau kerabat terdekat yang paling dipercaya.
“Saran aku, take your time, jangan merasa tertekan kalau ada orang speak up karena setiap orang punya kondisi yang berbeda. Bicara ketika sudah siap sesuai kenyamanan,” ujar Amy.
Advertisement
