Liputan6.com, Jakarta Zakat merupakan rukun Islam yang wajib ditunaikan oleh setiap muslim yang telah memenuhi syarat tertentu. Kata "zakat" dalam bahasa Arab memiliki beberapa makna, antara lain: berkembang, berkah, menyucikan, dan memuji. Dalam konteks fiqih, zakat adalah sejumlah harta tertentu yang wajib dikeluarkan dari harta tertentu dan diberikan kepada golongan yang berhak menerimanya (mustahik).
Zakat memiliki urgensi yang tinggi dalam ajaran Islam. Dalam Al-Quran, zakat sering dikaitkan dengan salat, seperti dalam QS. Al-Bayyinah ayat 5 yang berbunyi: "Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama, dan juga agar melaksanakan salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus (benar)." Ini menunjukkan betapa pentingnya zakat dalam menjalankan agama Islam dengan benar.
Advertisement
Advertisement
Baca Juga
Zakat terbagi menjadi dua jenis, yaitu zakat fitrah dan zakat mal. Zakat fitrah merupakan zakat yang dikeluarkan setiap jiwa muslim pada bulan Ramadhan, sedangkan zakat mal adalah zakat yang dikeluarkan atas harta kekayaan yang telah mencapai nisab dan haul. Perbedaan ini terletak pada jenis harta yang dizakatkan dan waktu pelaksanaannya.
Zakat mal merupakan kewajiban bagi setiap muslim yang memiliki harta kekayaan yang telah mencapai nisab dan haul. Dengan menunaikan zakat mal, kita membersihkan harta kita dari sifat kikir dan keserakahan, serta berbagi rezeki dengan sesama yang membutuhkan. Hal ini sejalan dengan nilai-nilai sosial dan kemanusiaan yang diajarkan dalam agama Islam.
Lalu bagaimana bacaan niat mengeluarkan zakat mal dan tata cara selengkapnya? Simak penjelasan berikut ini sebagaimana telah Liputan6.com dari berbagai sumber, Rabu (26/2/2025).
Pengertian dan Dasar Hukum Zakat Mal
Zakat merupakan salah satu rukun Islam yang memiliki dimensi ibadah dan sosial. Sebagai bentuk ibadah, zakat menunjukkan ketaatan seorang muslim kepada Allah SWT. Sedangkan dalam dimensi sosial, zakat berperan penting dalam mewujudkan kesejahteraan dan keadilan ekonomi di masyarakat. Salah satu jenis zakat yang wajib ditunaikan oleh umat Islam adalah zakat mal atau zakat harta. Berikut ini akan dibahas lebih lanjut mengenai definisi dan landasan hukum zakat mal.
A. Definisi Zakat Mal
Kata "mal" dalam bahasa Arab berarti harta atau kekayaan. Zakat mal secara terminologi adalah kewajiban mengeluarkan sebagian harta tertentu yang telah mencapai nisab dan haul kepada golongan mustahik yang telah ditetapkan dalam syariat Islam.
Zakat mal disyariatkan untuk membersihkan harta dari sifat kikir dan keserakahan, serta untuk menumbuhkan rasa kepedulian sosial dan berbagi rezeki dengan sesama. Tujuan utama zakat mal adalah untuk mengurangi kesenjangan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan umat.
Dengan mengeluarkan zakat mal, kita berharap mendapatkan keberkahan dari Allah SWT dan pahala yang berlimpah. Zakat mal juga merupakan bentuk ibadah yang mendekatkan diri kepada Allah SWT dan meneladani akhlak Rasulullah SAW.
B. Landasan Hukum Zakat Mal
Kewajiban zakat mal telah tercantum dalam Al-Quran dan Hadits, serta dikuatkan oleh konsensus ulama (ijma'). Dalam Al-Quran, terdapat banyak ayat yang memerintahkan untuk menunaikan zakat, menunjukkan betapa pentingnya zakat dalam ajaran Islam.
Hadits Nabi Muhammad SAW juga banyak menyebutkan tentang kewajiban zakat dan tata cara pelaksanaannya. Hadits-hadits tersebut menjelaskan secara rinci jenis-jenis harta yang wajib dizakati, nisab, haul, dan golongan mustahik yang berhak menerimanya.
Konsensus ulama (ijma') juga telah menyepakati kewajiban zakat mal. Para ulama sepakat bahwa zakat mal merupakan rukun Islam yang wajib ditunaikan oleh setiap muslim yang telah memenuhi syarat-syaratnya.
Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa zakat mal memiliki landasan hukum yang kuat dalam ajaran Islam. Kewajiban menunaikan zakat mal tidak hanya didasarkan pada perintah Al-Quran dan Hadits, tetapi juga telah menjadi kesepakatan para ulama. Dengan memahami definisi dan landasan hukum zakat mal, diharapkan umat Islam dapat semakin menyadari pentingnya menunaikan kewajiban ini sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT dan kepedulian terhadap sesama. Pelaksanaan zakat mal secara konsisten akan memberikan dampak positif bagi individu maupun masyarakat luas.
Advertisement
Syarat Wajib Zakat Mal
Zakat mal merupakan salah satu rukun Islam yang wajib dilaksanakan oleh umat Muslim yang telah memenuhi kriteria tertentu. Sebagai bentuk ibadah finansial, zakat mal memiliki ketentuan dan persyaratan khusus yang harus dipenuhi sebelum seseorang menunaikannya. Syarat-syarat ini bukan sekadar formalitas, melainkan memiliki hikmah dan tujuan yang mendalam dalam sistem ekonomi Islam. Dengan memahami syarat-syarat ini, seorang Muslim dapat memastikan bahwa zakat yang dikeluarkannya sah dan diterima di sisi Allah SWT. Berikut adalah delapan syarat wajib zakat mal yang perlu dipahami secara mendalam.
1. Beragama Islam
Kewajiban menunaikan zakat mal hanya dibebankan kepada umat Islam. Hal ini merupakan konsekuensi logis dari zakat sebagai salah satu rukun Islam. Seseorang yang bukan Muslim tidak diwajibkan untuk menunaikan zakat, meskipun mereka mungkin memiliki kewajiban finansial lain menurut keyakinan mereka masing-masing.
Zakat merupakan bentuk ketaatan kepada Allah SWT dan implementasi dari keimanan seorang Muslim. Melalui zakat, seorang Muslim mengakui bahwa harta yang dimilikinya merupakan titipan dan anugerah dari Allah SWT, dan sebagian darinya merupakan hak orang lain yang harus ditunaikan.
2. Merdeka (Bukan Budak)
Syarat kedua adalah status merdeka. Dalam konteks historis Islam, seorang budak atau hamba sahaya tidak wajib menunaikan zakat mal karena mereka tidak memiliki kepemilikan penuh atas harta mereka. Meskipun praktek perbudakan telah dihapuskan di era modern, syarat ini tetap relevan sebagai prinsip bahwa zakat hanya diwajibkan kepada mereka yang memiliki otoritas penuh atas hartanya.
Prinsip ini menegaskan bahwa kewajiban finansial dalam Islam selalu mempertimbangkan kemampuan dan kondisi seseorang. Allah SWT tidak membebani seseorang melebihi kemampuannya, termasuk dalam hal ibadah zakat.
3. Kepemilikan Sempurna
Harta yang wajib dizakati harus dimiliki secara sempurna oleh pemiliknya, bukan milik bersama atau hanya sebagian. Kepemilikan sempurna berarti pemilik harta memiliki hak penuh untuk mempergunakan, mengelola, dan mengambil manfaat dari hartanya tanpa adanya batasan atau campur tangan pihak lain.
Dalam konteks modern, harta yang masih dalam proses kredit atau cicilan belum dianggap sebagai kepemilikan sempurna jika belum lunas. Demikian pula dengan saham dalam perusahaan, perlu diperhitungkan berapa porsi kepemilikan seseorang untuk menentukan berapa zakat yang wajib dikeluarkan.
4. Harta Berkembang (Produktif)
Syarat keempat adalah harta tersebut harus berkembang atau berpotensi berkembang (produktif). Artinya, harta tersebut memiliki nilai ekonomi dan dapat menghasilkan keuntungan, baik secara riil maupun potensial. Konsep ini dikenal dengan istilah "an-nama'" dalam literatur fikih.
Harta yang berkembang dapat berupa aset yang menghasilkan pendapatan, seperti tanah yang disewakan, investasi yang memberikan return, atau barang dagangan yang diperjualbelikan. Bahkan emas dan perak yang disimpan dianggap memiliki potensi berkembang karena nilainya yang cenderung stabil atau meningkat seiring waktu. Prinsip ini menegaskan bahwa zakat bertujuan untuk menggerakkan ekonomi dan mencegah penimbunan harta yang tidak produktif.
5. Mencapai Nisab
Nisab adalah jumlah minimum harta yang telah ditentukan dalam syariat Islam, yang menjadikan pemiliknya wajib mengeluarkan zakat. Ketentuan nisab berbeda-beda untuk setiap jenis harta. Misalnya, nisab untuk emas adalah 85 gram emas murni, untuk perak adalah 595 gram, dan untuk hasil pertanian adalah 5 wasaq (sekitar 653 kg).
Ketentuan nisab ini memastikan bahwa zakat hanya diwajibkan kepada mereka yang memiliki kelebihan harta, bukan kepada mereka yang masih berjuang untuk memenuhi kebutuhan dasarnya. Hal ini selaras dengan prinsip keadilan dalam Islam, di mana beban kewajiban disesuaikan dengan kemampuan seseorang.
6. Mencapai Haul (Kepemilikan Satu Tahun)
Haul adalah periode waktu kepemilikan harta selama satu tahun hijriyah (lunar). Mayoritas jenis harta, seperti uang, emas, perak, dan barang dagangan, harus dimiliki selama satu tahun penuh sebelum wajib dizakati. Namun, ada pengecualian untuk hasil pertanian dan barang tambang yang wajib dizakati ketika panen atau ditemukan, tanpa menunggu haul.
Prinsip haul memberikan kesempatan bagi pemilik harta untuk mengembangkan dan mengelola hartanya sebelum mengeluarkan zakat. Ini juga memberikan kepastian waktu bagi lembaga pengelola zakat untuk merencanakan program-program pendistribusian zakat.
7. Melebihi Kebutuhan Pokok
Harta yang wajib dizakati harus melebihi kebutuhan pokok pemiliknya dan keluarganya. Kebutuhan pokok mencakup sandang, pangan, papan, dan kebutuhan esensial lainnya yang diperlukan untuk menjalani kehidupan sehari-hari.
Prinsip ini menekankan bahwa zakat bukan bertujuan untuk memberatkan atau menyulitkan kehidupan seseorang. Sebaliknya, zakat bertujuan untuk menciptakan keseimbangan ekonomi dengan mendistribusikan kelebihan harta dari yang mampu kepada yang membutuhkan. Dengan demikian, seseorang tidak diwajibkan mengeluarkan zakat jika hal tersebut akan mengganggu pemenuhan kebutuhan dasarnya.
8. Bebas dari Utang
Syarat terakhir adalah harta tersebut harus bebas dari utang. Artinya, setelah dikurangi utang, harta tersebut masih mencapai nisab. Jika setelah dikurangi utang hartanya tidak lagi mencapai nisab, maka tidak wajib mengeluarkan zakat.
Prioritas pelunasan utang sebelum mengeluarkan zakat menunjukkan bahwa Islam sangat menghormati hak orang lain. Utang merupakan kewajiban yang harus dipenuhi kepada pihak yang memberikan pinjaman, sementara zakat adalah kewajiban kepada Allah SWT. Namun, jika seseorang memiliki kemampuan untuk melunasi utang dan masih memiliki harta yang mencapai nisab, maka ia tetap wajib mengeluarkan zakat.
Memahami syarat-syarat wajib zakat mal merupakan langkah awal yang penting sebelum menunaikan kewajiban ini. Kedelapan syarat yang telah dijabarkan di atas—beragama Islam, merdeka, kepemilikan sempurna, harta berkembang, mencapai nisab, mencapai haul, melebihi kebutuhan pokok, dan bebas dari utang—merupakan parameter yang memastikan bahwa zakat dikeluarkan dengan adil dan tepat sasaran.
Dengan memenuhi syarat-syarat ini, seseorang tidak hanya menunaikan kewajibannya sebagai seorang Muslim, tetapi juga berkontribusi pada pembangunan ekonomi umat dan pengentasan kemiskinan. Zakat, ketika dilaksanakan dengan benar, menjadi instrumen yang efektif dalam menciptakan kesejahteraan sosial dan keadilan ekonomi dalam masyarakat.
Penting bagi setiap Muslim untuk memahami syarat-syarat ini dengan baik dan berkonsultasi dengan ahli fikih atau lembaga zakat resmi jika memiliki pertanyaan atau keraguan tentang kewajiban zakatnya. Dengan demikian, ibadah zakat dapat dilaksanakan dengan sempurna dan memberikan manfaat yang optimal bagi seluruh umat.
Jenis-Jenis Harta yang Wajib Dizakati
Zakat mal merupakan salah satu kewajiban penting dalam Islam yang bertujuan untuk membersihkan harta dan membantu sesama umat Muslim yang membutuhkan. Sebagai bentuk ibadah yang memiliki dimensi sosial dan ekonomi, zakat mal memiliki aturan dan ketentuan yang perlu dipahami dengan baik oleh setiap Muslim. Dalam artikel ini, kita akan membahas secara rinci berbagai jenis harta yang wajib dizakati beserta ketentuan-ketentuan khususnya. Pemahaman yang mendalam tentang jenis-jenis zakat mal ini akan membantu kita untuk menunaikan kewajiban zakat dengan benar dan tepat.
1. Emas, Perak, dan Logam Mulia
Emas dan perak merupakan jenis harta yang paling umum dizakati. Nisab untuk emas dan perak telah ditentukan dalam syariat Islam. Zakat emas dan perak dihitung berdasarkan beratnya.
Zakat perhiasan emas dan perak juga wajib dikeluarkan jika telah mencapai nisab dan haul. Namun, perhitungannya dapat berbeda dengan emas dan perak batangan. Perlu diperhatikan bahwa kadar emas dan perak yang digunakan untuk menghitung nisab adalah emas dan perak murni, bukan yang telah dicampur dengan logam lain.
2. Uang dan Surat Berharga
Zakat uang tunai dihitung berdasarkan nilai uang tersebut pada saat dikeluarkan zakat. Zakat tabungan dan deposito juga wajib dikeluarkan jika telah mencapai nisab dan haul.
Zakat saham dan surat berharga lainnya juga termasuk dalam zakat mal. Perhitungannya dapat berbeda tergantung jenis saham dan surat berharga tersebut. Penting untuk mengetahui nilai pasar saham dan surat berharga pada saat zakat dikeluarkan untuk mendapatkan perhitungan yang akurat.
3. Perniagaan (Perdagangan)
Zakat barang dagangan dihitung berdasarkan nilai barang dagangan tersebut pada saat dikeluarkan zakat. Perhitungannya dapat berbeda tergantung jenis barang dagangan tersebut.
Cara menghitung modal dan keuntungan dalam perdagangan perlu diperhatikan agar perhitungan zakatnya akurat. Zakat perdagangan dihitung dari keuntungan bersih setelah dikurangi biaya operasional. Penting untuk menjaga kejujuran dan keakuratan dalam menghitung zakat perdagangan agar ibadah kita diterima di sisi Allah SWT.
4. Pertanian dan Perkebunan
Jenis hasil bumi yang wajib dizakati antara lain padi, gandum, jagung, dan buah-buahan. Besarnya zakat tergantung pada jenis dan jumlah hasil panen.
Perbedaan pengairan alami dan buatan juga mempengaruhi besaran zakat. Hasil pertanian yang diairi secara alami biasanya memiliki besaran zakat yang lebih kecil dibandingkan yang diairi secara buatan. Penting untuk mengetahui ketentuan zakat pertanian dan perkebunan di daerah masing-masing agar perhitungannya akurat.
5. Peternakan dan Perikanan
Jenis hewan ternak yang wajib dizakati antara lain unta, sapi, kambing, dan domba. Besarnya zakat tergantung pada jumlah dan jenis hewan ternak tersebut.
Ketentuan zakat hasil perikanan juga perlu diperhatikan. Zakat hasil perikanan biasanya dihitung berdasarkan nilai hasil tangkapan. Penting untuk mengetahui ketentuan zakat peternakan dan perikanan di daerah masing-masing agar perhitungannya akurat.
6. Pertambangan
Zakat barang tambang dihitung berdasarkan nilai barang tambang tersebut pada saat dikeluarkan zakat. Jenis barang tambang yang wajib dizakati antara lain emas, perak, dan batu bara.
Ketentuan khusus untuk minyak dan gas bumi juga perlu diperhatikan. Zakat minyak dan gas bumi biasanya dihitung berdasarkan nilai produksinya. Penting untuk mengetahui ketentuan zakat pertambangan di daerah masing-masing agar perhitungannya akurat.
7. Pendapatan dan Jasa (Profesi)
Zakat dari gaji dan pendapatan profesional dihitung berdasarkan penghasilan bersih setelah dikurangi biaya hidup dan kebutuhan pokok. Ketentuan zakat profesi perlu diperhatikan agar perhitungannya akurat. Zakat profesi dihitung berdasarkan penghasilan tahunan. Penting untuk jujur dan akurat dalam menghitung zakat profesi agar ibadah kita diterima di sisi Allah SWT.
8. Rikaz (Harta Temuan)
Rikaz adalah harta terpendam yang ditemukan di dalam tanah, seperti emas, perak, dan permata. Zakat rikaz dihitung berdasarkan nilai harta tersebut. Ketentuan khusus zakat rikaz perlu diperhatikan. Zakat rikaz biasanya dihitung berdasarkan nilai harta yang ditemukan. Penting untuk mengetahui ketentuan zakat rikaz agar perhitungannya akurat.
Demikianlah penjelasan mengenai berbagai jenis harta yang wajib dizakati dalam Islam. Penting bagi setiap Muslim untuk memahami ketentuan zakat mal ini dengan baik agar dapat menunaikan kewajibannya secara tepat dan sesuai syariat. Selain itu, kesadaran akan pentingnya zakat mal juga akan membantu meningkatkan kesejahteraan umat dan memperkuat solidaritas antar sesama Muslim. Marilah kita senantiasa berusaha untuk menunaikan zakat mal dengan ikhlas dan penuh tanggung jawab, sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT dan kepedulian terhadap sesama.
Advertisement
Metode Perhitungan Zakat Mal
Zakat merupakan salah satu rukun Islam yang wajib ditunaikan oleh umat Muslim yang mampu. Sebagai bentuk ibadah yang memiliki dimensi sosial, zakat memiliki aturan dan perhitungan khusus yang perlu dipahami dengan baik. Berikut ini adalah penjelasan mengenai rumus dasar penghitungan zakat serta beberapa contoh perhitungannya untuk berbagai jenis harta yang wajib dizakati.
A. Rumus Dasar Penghitungan
Kadar zakat untuk emas, perak, uang, dan perdagangan umumnya sebesar 2,5% dari nilai harta tersebut. Namun, kadar zakat untuk jenis harta lain dapat berbeda.
Variasi kadar zakat untuk jenis harta lain, seperti pertanian dan peternakan, ditentukan berdasarkan ketentuan yang telah ditetapkan dalam syariat Islam.
Penting untuk mengetahui kadar zakat yang tepat untuk setiap jenis harta agar perhitungan zakat akurat.
B. Contoh Perhitungan Zakat
Perhitungan zakat emas dan perak didasarkan pada berat emas dan perak murni yang dimiliki. Perhitungan zakat uang didasarkan pada nilai uang tersebut pada saat zakat dikeluarkan.
Perhitungan zakat perdagangan didasarkan pada keuntungan bersih setelah dikurangi biaya operasional. Perhitungan zakat pendapatan/profesi didasarkan pada penghasilan bersih setelah dikurangi kebutuhan pokok.
Contoh kasus dengan harga emas terkini dapat membantu memahami perhitungan zakat mal dengan lebih mudah. Konsultasikan dengan ahli jika Anda mengalami kesulitan dalam perhitungan.
Pemahaman yang baik tentang cara menghitung zakat sangat penting bagi setiap Muslim. Dengan mengetahui rumus dasar dan contoh-contoh perhitungan zakat untuk berbagai jenis harta, diharapkan umat Islam dapat menunaikan kewajiban zakatnya dengan tepat dan sesuai syariat. Selain itu, perhitungan zakat yang akurat juga memastikan bahwa harta yang dizakatkan dapat memberikan manfaat optimal bagi penerima zakat dan masyarakat secara luas. Jika masih ada keraguan, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan ahli zakat atau lembaga zakat terpercaya.
Niat Mengeluarkan Zakat Mal
Niat merupakan pondasi utama dalam setiap ibadah, termasuk zakat mal. Niat yang tulus dan ikhlas akan meningkatkan nilai ibadah kita di sisi Allah SWT.
Niat dalam mengeluarkan zakat mal membedakan antara ibadah dan sekadar kebiasaan. Dengan niat yang benar, zakat yang kita keluarkan akan menjadi ibadah yang diterima Allah SWT.
Keutamaan niat ikhlas dalam berzakat sangat besar. Zakat yang dikeluarkan dengan niat ikhlas akan mendapatkan pahala yang berlipat ganda.
نَوَيْتُ أَنْ أُخْرِجَ زَكاَةَ اْلمَالِ عَنْ نَفْسِيْ فَرْضًا لِلهِ تَعَالَى
Nawaitu an ukhrija zakatal maali'an nafsi fardan lillahi ta'ala
Arti: Saya berniat mengeluarkan zakat harta dari diri sendiri karena Allah Ta'ala
Sebaiknya niat diucapkan sebelum kita menyerahkan harta zakat kepada amil zakat atau lembaga zakat yang terpercaya. Keterkaitan niat dengan penyerahan harta menunjukkan kesungguhan kita dalam menunaikan ibadah zakat.
Zakat mal merupakan kewajiban bagi setiap muslim yang telah memenuhi syarat tertentu. Memahami pengertian, jenis harta yang dizakati, syarat, nisab, haul, perhitungan, dan bacaan niat mengeluarkan zakat sangat penting agar ibadah kita diterima Allah SWT.
Tunaikanlah zakat mal dengan niat yang tulus dan ikhlas, serta serahkanlah kepada amil zakat atau lembaga zakat yang terpercaya. Semoga artikel ini bermanfaat dan dapat membantu kita dalam menunaikan kewajiban zakat mal dengan benar.
Advertisement
