Tradisi Lebaran Idul Fitri di Afrika, Mi Vermicelli dan Kumpul di Green Point

Mengenal tradisi Lebaran Idul Fitri di Afrika yang kaya akan keunikan, mulai dari hidangan khas vermicelli hingga kumpul bersama di Green Point, Cape Town.

oleh Woro Anjar Verianty Diperbarui 27 Feb 2025, 17:20 WIB
Diterbitkan 27 Feb 2025, 17:20 WIB
Lebaran Pun Usai, Ingat Jangan Lupa Lakukan 5 Hal Ini
Ilustrasi makan besar.... Selengkapnya

Liputan6.com, Jakarta Tradisi Lebaran Idul Fitri di Afrika, berbeda namun tetap indah. Perayaan Idul Fitri di benua ini, khususnya di wilayah Afrika Barat, Timur, dan Utara, dirayakan dengan semarak oleh umat Muslim. Meskipun terdapat kesamaan dengan tradisi di Indonesia, seperti sholat Idul Fitri berjamaah dan silaturahmi, tradisi Lebaran Idul Fitri di Afrika juga memiliki keunikan tersendiri yang menarik untuk diulas lebih lanjut.

Salah satu perbedaan paling mencolok terletak pada hidangan khasnya. Jika di Indonesia identik dengan ketupat, di Afrika, vermicelli atau mihun menjadi primadona. Makanan manis dan kue-kue juga melimpah, seringkali dibawa sebagai bingkisan saat berkunjung ke sanak saudara. Tradisi Lebaran Idul Fitri di Afrika juga unik karena di beberapa daerah, seperti Green Point di Cape Town, Afrika Selatan, warga Muslim berkumpul di malam terakhir Ramadan untuk menantikan pengumuman Idul Fitri, menciptakan suasana yang hangat dan penuh antisipasi.

Selain itu, perayaan Idul Fitri di beberapa negara Afrika dengan populasi Muslim minoritas memiliki nuansa yang berbeda. Pemerintah setempat seringkali menyelenggarakan pesta Idul Fitri terbuka untuk semua warga, termasuk non-Muslim. Hal ini menciptakan suasana harmonis dan toleransi antar umat beragama. Tradisi Lebaran Idul Fitri di Afrika juga unik karena meminta maaf kepada sanak saudara seringkali diiringi dengan pemberian hadiah, menciptakan tradisi tukar-menukar hadiah yang mempererat tali silaturahmi.

Lebih jelasnya, berikut ini telah Liputan6.com rangkum dari berbagai sumber informasi lengkapnya, pada Kamis (27/2).

Penamaan dan Durasi Perayaan Lebaran di Berbagai Negara Afrika

Ilustrasi kata-kata, ucapan, lebaran Iduladha
Ilustrasi kata-kata, ucapan, lebaran Iduladha. (Photo by Monstera on Pexels)... Selengkapnya

Di berbagai negara Afrika, Idul Fitri memiliki nama panggilan yang berbeda-beda sesuai dengan budaya dan bahasa setempat. Di Nigeria, misalnya, Lebaran dikenal dengan sebutan "Sallah" dan perayaannya bisa berlangsung hingga tiga hari penuh. Perayaan yang panjang ini memberikan kesempatan bagi umat Muslim Nigeria untuk merayakan momen bahagia bersama keluarga besar dan masyarakat sekitar.

Sementara itu, di negara-negara Afrika Barat seperti Senegal, Gambia, dan sebagian Nigeria, Lebaran lebih dikenal dengan istilah "Korité". Nama ini menjadi identitas khas perayaan Idul Fitri di kawasan tersebut, mencerminkan bagaimana nilai-nilai Islam telah berakulturasi dengan budaya lokal dan membentuk tradisi unik yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Di Maroko, negara yang terletak di ujung utara benua Afrika, perayaan Lebaran dirayakan dengan cara yang spektakuler. Salah satu tradisi yang paling dinantikan adalah pawai keliling kota yang diiringi musik tradisional Gnawa. Pawai ini tidak hanya menjadi ajang perayaan keagamaan, tetapi juga sebuah pertunjukan budaya yang memukau bagi masyarakat setempat dan wisatawan yang berkunjung.

Di Afrika Selatan, meski Islam bukan merupakan agama mayoritas, umat Muslim di sana memiliki tradisi berkumpul di Green Point, Cape Town pada malam terakhir Ramadan. Mereka berkumpul untuk menyaksikan buka puasa bersama dan menantikan pengumuman awal Syawal keesokan harinya. Momen ini menjadi waktu yang penuh kebersamaan dan kekhusyukan bagi umat Muslim di Afrika Selatan.

 

Tradisi Pakaian dan Hadiah dalam Perayaan Idul Fitri

Sama seperti di Indonesia, mengenakan pakaian baru saat Lebaran juga menjadi tradisi yang umum di Afrika, meskipun dengan beberapa perbedaan. Di banyak negara Afrika, tradisi mengenakan pakaian baru lebih diutamakan untuk anak-anak, bukan untuk orang dewasa. Hal ini menjadikan momen Lebaran sangat dinantikan oleh anak-anak yang telah menjalankan ibadah puasa sebulan penuh.

Di Senegal, terdapat tradisi khusus mengenakan pakaian baru yang disebut "boubou" saat merayakan Lebaran. Boubou adalah pakaian tradisional Afrika Barat yang terbuat dari kain berwarna-warni dengan motif yang indah. Pakaian ini tidak hanya mencerminkan identitas budaya, tetapi juga menjadi simbol kebahagiaan saat menyambut hari raya.

Tradisi memberikan hadiah juga menjadi bagian penting dalam perayaan Lebaran di Afrika. Di Senegal, orang dewasa biasanya memberikan hadiah kepada anak-anak berupa uang tunai atau kue manis yang disebut "Kunu". Tradisi ini serupa dengan pemberian THR (Tunjangan Hari Raya) di Indonesia yang juga sangat dinantikan oleh anak-anak.

Yang menarik, di beberapa negara Afrika juga terdapat tradisi saling bertukar hadiah antar anggota keluarga besar. Tradisi ini tidak hanya untuk anak-anak, tetapi juga melibatkan orang dewasa. Hadiah yang diberikan saat berkunjung ke rumah sanak saudara seringkali menjadi cara untuk memudahkan proses permintaan maaf dan memperkuat ikatan kekeluargaan.

 

Hidangan Khas Lebaran di Afrika

Jika di Indonesia ketupat menjadi hidangan wajib saat Lebaran, di Afrika sajian yang wajib ada adalah vermicelli atau bihun. Hidangan ini menjadi ciri khas perayaan Idul Fitri di banyak negara Afrika dan memiliki makna tersendiri dalam tradisi kuliner mereka selama perayaan hari raya.

Selain itu, Lebaran di Afrika juga identik dengan berbagai makanan manis dan kue-kue yang disajikan di ruang tamu untuk menyambut tamu yang berkunjung. Hidangan manis ini tidak selalu dibeli, melainkan sering kali merupakan pemberian dari sanak saudara yang datang berkunjung. Tradisi membawa buah tangan berupa makanan saat berkunjung ke rumah kerabat menjadikan suasana Lebaran di Afrika penuh dengan berbagai kuliner lezat.

Di Maroko, hidangan khas Lebaran biasanya termasuk pastilla (pie daging), tajine (hidangan daging dan sayuran yang dimasak perlahan), dan berbagai kue manis seperti kaab el ghazal (kue berbentuk tanduk gazelle) yang diisi dengan pasta almond dan dibumbui dengan air mawar. Hidangan-hidangan ini mencerminkan kekayaan kuliner Maroko yang terkenal dengan penggunaan rempah-rempah dan teknik memasak tradisional.

Di Nigeria, perayaan Sallah (Lebaran) biasanya disertai dengan hidangan seperti jollof rice (nasi yang dimasak dengan tomat dan rempah-rempah), suya (daging panggang berbumbu), dan chin chin (kue kering manis). Hidangan-hidangan ini menjadi simbol kebersamaan dan kemurahan hati selama perayaan Idul Fitri.

 

Tradisi Sosial dan Keagamaan dalam Perayaan Lebaran

Salat Id berjamaah menjadi ritual keagamaan yang sangat penting dalam perayaan Lebaran di Afrika. Umat Muslim berkumpul di masjid atau tanah lapang untuk menunaikan ibadah ini dengan khidmat. Setelah salat, tradisi bersilaturahmi dan bermaaf-maafan menjadi bagian yang tak terpisahkan dari perayaan Idul Fitri di benua ini.

Kunjungan ke rumah sanak saudara dilakukan sebagai bentuk silaturahmi dan untuk saling memaafkan. Tradisi ini mirip dengan yang ada di Indonesia, di mana umat Muslim akan berkeliling mengunjungi kerabat dan tetangga untuk meminta maaf atas kesalahan yang pernah dilakukan selama setahun ke belakang.

Di Afrika Selatan, terdapat tradisi unik yang telah mengakar selama lebih dari 40 tahun, yaitu membagikan makanan kepada keluarga-keluarga yang kurang beruntung agar mereka juga bisa merayakan Idul Fitri. Organisasi seperti Nakhlistan, sebuah LSM yang didirikan pada tahun 1984, menjadi pelopor dalam kegiatan ini. Mereka mempersiapkan makanan dalam panci-panci berukuran raksasa yang kemudian dibagikan ke komunitas miskin, bahkan hingga ke penjara. Pada tahun 2022, lebih dari 90.000 orang kurang mampu di penjuru Afrika Selatan, apa pun agamanya, menerima makanan gratis ini.

Tradisi berbagi makanan ini mencerminkan semangat sedekah yang meningkat selama bulan Ramadan. Seperti yang diungkapkan oleh Sadullah Khan, salah satu pendiri Nakhlistan, "Dalam peringatan agama Islam, khususnya saat Ramadan, ada kenaikan semangat bersedekah. Anda belum bisa merayakan Idul Fitri, kecuali Anda memenuhi kebutuhan sejumlah fakir miskin di mana pun mereka berada." Filosofi ini menjadi landasan kuat bagi tradisi berbagi yang dilakukan oleh umat Muslim di Afrika Selatan.

 
Lanjutkan Membaca ↓
Loading

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya