Liputan6.com, Jakarta - Aktor kawakan Indonesia, Ray Sahetapy, meninggal dunia. Kabar ini disampaikan anak Ray Sahetapy bersama penyanyi senior, Dewi Yull, Surya Sahetapy di akun Instagramnya @suryasahetapy, Selasa (1/4/2025).
"Selamat jalan, Ayah! @raysahetapy. We always cherish the memories of our time with you. ❤️ Titip salam cinta dan kangen ke kak Gisca!," tulis Surya sebagai keterangan fotonya bersama sang ayah.
Baca Juga
Ray Sahetapy merupakan aktor legendaris yang telah mewarnai layar lebar Tanah Air selama lebih dari empat dekade. Perjalanan kariernya yang panjang dan gemilang dimulai setelah ia lulus dari Institut Kesenian Jakarta (IKJ) sekitar tahun 1980.
Advertisement
Debutnya di film "Gadis" arahan sutradara Nya Abas Akup bukan hanya menandai awal kariernya, tetapi juga menjadi titik awal pertemuannya dengan Dewi Yull, yang kemudian menjadi istrinya. Film ini menjadi batu loncatan bagi perjalanan panjangnya di dunia akting.
Sejak saat itu, Ray Sahetapy konsisten membintangi berbagai film, mulai dari era 1980-an hingga film-film modern. Ia telah bertransformasi melalui berbagai peran, menunjukkan kemampuan aktingnya yang luar biasa. Nama-nama film seperti 'Kabut Ungu di Bibir Pantai', 'Dukun Ilmu Hitam', 'Sejuta Serat Sutra', hingga film-film modern seperti 'The Raid', 'Haji Backpacker', dan 'Kutikan Peti Mati' (2023), menjadi bukti nyata dedikasi dan konsistensinya.
Meskipun namanya telah dikenal luas, Ray Sahetapy tetap rendah hati dan terus berkarya. Ia tidak hanya berfokus pada film, tetapi juga aktif di dunia teater, bahkan mendirikan Teater Tujuh, teater tuli pertama di Jakarta. Hal ini menunjukkan kepeduliannya terhadap kesenian dan keberagaman.
Dari Film 80-an hingga Film Modern: Transformasi Ray Sahetapy
Sepanjang kariernya, Ray Sahetapy telah membintangi puluhan film, menunjukkan kemampuannya beradaptasi dengan berbagai genre dan karakter. Dari film-film drama era 1980-an seperti 'Kabut Perkawinan' dan 'Sebening Kaca', hingga film laga seperti 'The Raid' yang mendunia, ia selalu mampu memberikan penampilan yang memukau. Perannya yang beragam, mulai dari peran utama hingga peran pendukung, membuktikan kemampuan aktingnya yang serba bisa.
Keberhasilannya tidak hanya diukur dari jumlah film yang dibintanginya, tetapi juga dari penghargaan yang telah diterimanya. Meskipun beberapa kali dinominasikan untuk Piala Citra di Festival Film Indonesia (FFI), penghargaan pertamanya baru diraih pada Indonesian Movie Actors Awards 2013 sebagai Pemeran Pendukung Pria Terbaik lewat film 'The Raid'.
Ia juga memenangkan penghargaan Pemeran Pembantu Pria Terpuji Film Bioskop di Festival Film Bandung 2015. Penghargaan-penghargaan ini menjadi bukti pengakuan atas bakat dan kerja kerasnya.
Partisipasinya dalam film-film modern juga menunjukkan kemampuannya untuk tetap relevan di tengah perkembangan industri perfilman Indonesia. Ia berhasil berkolaborasi dengan sutradara dan aktor-aktor muda, membuktikan bahwa pengalaman dan bakatnya tetap dibutuhkan dan dihargai.
Advertisement
Dedikasi dan Konsistensi yang Luar Biasa
Aktor 68 tahun ini menjadi inspirasi bagi banyak aktor muda Indonesia, menunjukkan bahwa usia bukanlah penghalang untuk terus berkarya dan berprestasi.
Selain aktif berakting, Ray Sahetapy juga dikenal sebagai sosok yang rendah hati dan peduli terhadap sesama. Ia aktif terlibat dalam berbagai kegiatan sosial dan selalu berbagi momen spesialnya dengan penggemar melalui platform online. Hal ini semakin memperkuat citranya sebagai aktor yang tidak hanya berbakat, tetapi juga berhati mulia.
Perjalanan karier Ray Sahetapy adalah bukti nyata bahwa kesuksesan diraih melalui kerja keras, dedikasi, dan konsistensi. Ia telah memberikan kontribusi yang besar bagi dunia perfilman Indonesia dan akan selalu dikenang sebagai salah satu aktor terbaik tanah air.
Kontribusi Ray Sahetapy terhadap dunia perfilman Indonesia tidak dapat dipungkiri. Ia adalah legenda di dunia perfilman yang sangat menginspirasi.
Disclaimer: Artikel ini dibuat menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI).
