Liputan6.com, Jakarta Setiap kali Idul Fitri tiba, masyarakat Indonesia kerap menyapa dengan kalimat "Minal Aidin Wal Faizin, Mohon Maaf Lahir dan Batin". Ucapan ini menjadi bagian dari tradisi tahunan yang menyemarakkan suasana Lebaran. Namun, tak sedikit yang masih belum memahami makna sebenarnya dari ungkapan tersebut.
Sebagian besar orang mengira kalimat tersebut memiliki arti "Mohon Maaf Lahir dan Batin". Padahal, secara bahasa Arab, terjemahan tersebut tidak tepat dan kerap disalahartikan. Dua kalimat itu sejatinya berasal dari latar makna yang berbeda dan memiliki sejarah pemakaian yang juga berbeda.
Advertisement
Menukil sejumlah sumber otoritatif, termasuk Kementerian Agama dan karya ulama, pemahaman mengenai kalimat ini perlu diluruskan. Dalam artikel ini, akan dijelaskan secara kronologis asal-usul, arti harfiah, bentuk penulisan Arab, hingga ucapan yang disunnahkan saat Idul Fitri.
Advertisement
1. Asal-usul Kalimat "Minal Aidin Wal Faizin"
Kalimat "Minal Aidin Wal Faizin" berasal dari bahasa Arab dan populer digunakan di kalangan masyarakat Indonesia saat Lebaran, meskipun bukan berasal dari ajaran yang umum di Timur Tengah. Ungkapan ini sebenarnya merupakan potongan doa yang lebih lengkapnya berbunyi: "Ja’alanallahu minal aidin wal faizin".
Dikatakan bahwa kalimat ini tidak lazim diucapkan oleh masyarakat Arab saat Hari Raya, melainkan lebih dikenal di kalangan Melayu. Artinya pun mengalami penyempitan makna seiring berjalannya waktu dan budaya setempat.
Secara harfiah, "minal aidin" berarti "dari golongan orang-orang yang kembali", dan "wal faizin" berarti "dan dari golongan orang-orang yang menang". Maka jika digabung, artinya: “Semoga kita termasuk orang yang kembali ke fitrah dan termasuk orang yang menang melawan hawa nafsu.”
Advertisement
2. Kesalahan Umum dalam Memaknai Kalimat Ini
Kesalahpahaman terbesar adalah menyamakan kalimat "minal aidin wal faizin" dengan "mohon maaf lahir dan batin". Padahal, kedua kalimat ini memiliki arti dan konteks penggunaan yang berbeda.
Dalam praktiknya, masyarakat kerap menyambungkan keduanya menjadi satu ucapan: "Minal aidin wal faizin, mohon maaf lahir dan batin." Hal ini secara gramatikal tidak tepat karena seolah menjadikan "minal aidin wal faizin" sebagai sinonim dari permintaan maaf, padahal maknanya adalah doa kemenangan spiritual.
Ahli tafsir Quraish Shihab menjelaskan bahwa "kembali ke fitrah" merujuk pada kembalinya manusia kepada kesucian asal, yakni setelah satu bulan penuh menjalani ibadah puasa dan perjuangan spiritual. Oleh karena itu, ucapan ini lebih bermakna reflektif dan doa ketimbang permintaan maaf biasa.
3. Tulisan Arab, Latin, dan Cara Menjawabnya
Dalam bentuk tulisan Arab, "minal aidin wal faizin" ditulis sebagai:
مِنَ الْعَائِدِيْن وَالْفَائِزِيْن
Sementara dalam tulisan latin dapat ditulis: minal ‘aidin wal-faizin.
Ini merupakan doa, sehingga cara membalasnya cukup dengan mengucapkan “amin” sebagai bentuk peng-amin-an terhadap harapan yang terkandung di dalamnya.
Ungkapan ini sering diiringi dengan jabat tangan dan ekspresi harapan tulus. Dikutip dari berbagai sumber, termasuk laman resmi Kemenag, ucapan ini menunjukkan harapan bahwa setiap individu bisa kembali menjadi pribadi yang suci dan menang melawan hawa nafsu selama Ramadhan.
Advertisement
4. Ucapan Hari Raya yang Disunnahkan Nabi dan Sahabat
Jika menilik tradisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya, ucapan yang lebih tepat saat Idul Fitri adalah: Taqabbalallahu minna wa minkum, artinya “Semoga Allah menerima (amal) dari kami dan dari kalian”.
Diriwayatkan oleh Jubair bin Nufair dan dikutip dalam kitab Al Mahamiliyat, “Para sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bila bertemu pada hari raya, maka berkata sebagian mereka kepada yang lainnya: Taqabbalallahu minna wa minka.” Al Hafizh Ibnu Hajar menyatakan bahwa sanad hadits ini hasan.
Bahkan, Imam Ahmad bin Hanbal menyatakan bahwa ucapan semacam ini tidak mengapa diucapkan di hari raya. “Tidak mengapa satu sama lain di hari raya ‘ied mengucapkan: Taqobbalallahu minna wa minka,” sebagaimana diriwayatkan dalam Al Mughni.
5. Makna Spiritual Ucapan Maaf di Hari Raya
Meskipun secara linguistik berbeda, kalimat “mohon maaf lahir dan batin” tetap memiliki makna yang sangat penting dalam konteks sosial. Ucapan ini mencerminkan semangat rekonsiliasi dan introspeksi antar sesama umat Islam.
Tradisi saling memaafkan di hari raya merupakan upaya untuk membersihkan diri dari kesalahan sosial dan memperkuat kembali hubungan antarmanusia. Oleh karena itu, walaupun tidak berkaitan langsung dengan “minal aidin wal faizin”, ungkapan ini tetap relevan secara budaya.
Dalam praktiknya, umat Islam menyatukan kedua kalimat tersebut bukan untuk tujuan linguistik yang tepat, tetapi demi menyampaikan dua makna sekaligus: doa kesucian dan permintaan maaf. Namun, sebagai muslim yang belajar dan memahami, penting untuk mengetahui perbedaan arti dan sejarahnya agar tidak terjadi penyalahgunaan makna.
Advertisement
Pertanyaan yang Sering Diajukan (PAA)
Apa arti minal aidin wal faizin yang benar?
Artinya adalah “semoga kita termasuk golongan yang kembali (fitrah) dan golongan yang menang (melawan hawa nafsu)”.
Apakah minal aidin wal faizin artinya mohon maaf lahir batin?
Tidak. Kedua kalimat itu memiliki arti yang berbeda. “Minal aidin wal faizin” adalah doa, sedangkan “mohon maaf lahir dan batin” adalah permintaan maaf secara fisik dan spiritual.
Apa ucapan hari raya yang dianjurkan dalam Islam?
Ucapan yang dianjurkan adalah “Taqabbalallahu minna wa minkum”, yang artinya “Semoga Allah menerima (amal) dari kami dan dari kalian”.
Bagaimana cara menjawab ucapan minal aidin wal faizin?
Cukup dijawab dengan “Amin”, karena itu adalah sebuah doa.
