Asal Mula Tarian THR Lebaran yang Disebut Mirip Budaya Yahudi, Ternyata Pernah Viral di Arab Saudi

Tarian THR Lebaran yang viral di media sosial itu dinilai mirip dengan "penguin dance."

oleh Asnida Riani Diperbarui 06 Apr 2025, 06:00 WIB
Diterbitkan 06 Apr 2025, 06:00 WIB
Tren Joget THR Lebaran 2025 Disebut Mirip Tarian Orang Yahudi
Tren joget THR lebaran 2025 disebut mirip tarian orang Yahudi. (Foto: Istimewa)... Selengkapnya

Liputan6.com, Jakarta - Tren media sosial terus berganti, dan di Lebaran tahun ini, filiran tarian THR Lebaran yang mengambil alih FYP. Format videonya sama, menampilkan beberapa orang berjajar di depan seseorang yang akan memberikan Tunjangan Hari Raya alias THR.

Namun sebelum menerima THR, penerimanya harus joget lebih dulu, mengikuti gerakan dan ritme musik seragam di semua konten. Setelah ramai mondar-mandir, konten "tandingannya" muncul, menyebut tarian THR itu mirip dengan tarian serupa yang dipraktikkan orang Yahudi.

Merujuk gerakannya, tarian itu sebenarnya dikenal luas sebagai "penguin dance," dan punya beberapa versi asal usul. Melansir Wall Street Journal, Sabtu, 5 April 2025, salah satunya menyebut, tarian penguin adalah modifikasi dari "lompatan kelinci," tarian yang diciptakan di Sekolah Menengah Atas Balboa di San Francisco, Amerika Serikat (AS) pada 1952.

Setelah mendengar tentang tarian lompatan kelinci, pemimpin band Ray Anthony menulis lagu untuk mengiringinya, dan tren tari yang tidak lekang waktu pun lahir. Namun di versi berbeda, baik orang Rumania maupun Albania mengklaim sebagai penemu tarian ini.

Tidak jelas dari mana melodi yang ada saat ini berasal, tapi koreografinya jauh lebih tua daripada bentuknya saat ini. Sebuah lagu dari Finlandia, berjudul "Letkis," muncul di TV Jerman dengan tarian yang disebut tarian penguin. Meski di YouTube diberi label 1956, lagu "Letkis" baru direkam tahun 1963, dan mode yang digunakan juga berasal dari era itu.

Viral di Arab Saudi

dance
Ilustrasi orang menari tarian penguin. (Foto: Unsplash/Diego Rosa)... Selengkapnya

Lagu "Letkis," yang digubah Rauno Lehtinen, adalah salah satu dari banyak lagu Letkajenkka, atau lagu tari rakyat Finlandia yang diberi bunyi "modern" menggunakan band tari jazz atau instrumen listrik. Tidak jelas bagaimana lagu "Letkis" dapat dipasangkan dengan tari penguin, yang tidak terkait dengan tarian rakyat Finlandia mana pun.

Ada yang berpendapat bahwa gerakan kaki tari penguin membentuk salib Kristen. Tapi, tidak ada bukti literatur yang pernah ditemukan untuk mendukung klaim tersebut.

Hingga akhirnya, tarian penguin, atau raqsat al-batriq dalam Bahasa Arab, populer di Arab Saudi pada 2014. Tarian ini viral setelah dilakukan di banyak acara pernikahan, yang biasanya dilakukan para pria. Namun, perempuan Saudi juga melakukannya, namun di dalam ruangan lebih privat, dan tetap memakai abaya hitam mereka.

Ketika tarian penguin viral di joget THR Lebaran, banyak orang yang saling menasihati untuk tidak mengikuti tren media sosial secara membabi buta. Namun, "menolak" sesuatu yang sedang digandrungi ternyata tidak selalu mudah.

Mengapa Orang Ikutan Tren Media Sosial?

Contoh ilustrasi memainkan media sosial
Ternyata anak remaja rentan sekali untuk melihat konten-konten yang tidak sesuai dengan usianya. (Foto: Pexels.com/ cottonbro studio)... Selengkapnya

Melansir Psychologs, situs web itu telah melakukan penelitian ekstensif pada Situs Jejaring Sosial, Internet, dan apa yang membuat orang berpartisipasi dalam tren viral. Pertama, alasan paling sederhana dan utama mengapa orang membagikan konten viral adalah karena konten tersebut dapat jadi pelepasan emosi.

Mengunggah video dan konten di media sosial atau mengirim tautan ke teman dapat jadi saluran untuk memproses emosi dan perasaan mereka. Dalam kata-kata psikolog Jonah Berger, "Gairah adalah keadaan yang tidak menyenangkan, jadi orang ingin keluar darinya dengan membagikannya."

Selama mengikuti tren, hal itu memicu respons positif di otak. Media sosial bersifat menghibur, dan orang merasa senang karena dapat membuat orang lain tertawa. Orang juga menganggapnya sebagai sarana yang bagus untuk mengekspresikan diri. Selain itu, meniru tren media sosial dapat memiliki unsur tantangan, yang dapat mengarah pada pemenuhan.

Kemudian, sudah menjadi fakta umum bahwa manusia adalah makhluk sosial. Menurut penelitian, manusia pada dasarnya mendambakan kebersamaan dan rasa memiliki. Penerimaan dari teman sebaya merupakan faktor penentu utama kesejahteraan kita, dan kita berusaha bertindak dengan cara yang meningkatkan peluang penerimaan sosial ini.

Terkait dengan FOMO

Ilustrasi main media sosial/freepik.com
Intip cara terbaik untuk menjaga keamanan dan privasi di media sosial, agar kamu terhindar dari pencurian data pribadi. (Sumber: Freepik).... Selengkapnya

Di zaman modern, budaya pop telah menggantikan interaksi kita sehari-hari. Kehidupan sosial kini lebih berpusat pada hiburan daripada hubungan. Dalam dunia yang berputar di seputar hiburan, cara kita berkomunikasi satu sama lain adalah melalui berbagi konten dan berpartisipasi dalam tren di media sosial.

Berpartisipasi dalam tren media sosial mengarah pada interaksi sosial dan apresiasi dari orang lain. Manusia berusaha meneruskan dan menghasilkan konten yang berharga dan menghibur bagi orang lain, yang mengarah pada perasaan lebih terlibat dalam apa yang dilakukan dunia dan memfasilitasi rasa memiliki secara sosial.

Faktor lain yang terkait erat adalah FOMO atau takut ketinggalan. Tidak dapat memahami percakapan terbaru merusak kemampuan seseorang berinteraksi dengan orang lain, itulah sebabnya FOMO merupakan faktor motivasi besar untuk mengikuti apa yang sedang tren.

Ketiga, orang-orang juga cenderung mengikuti tren karena tren bertindak seperti jalan pintas mental. Karena tren media sosial dan konten viral biasanya berlangsung sangat singkat dan orang menemukannya berulang kali, tren tersebut akan tertanam dalam otak mereka. Mengikuti apa yang dilakukan orang lain di sekitar mereka menghemat waktu dan tenaga dalam proses berpikir yang dibutuhkan dalam pengambilan keputusan.

Infografis Kenaikan Jumlah Pengguna Media Sosial di Indonesia
Infografis Kenaikan Jumlah Pengguna Media Sosial di Indonesia. (Liputan6.com/Abdillah)... Selengkapnya
Lanjutkan Membaca ↓
Loading

Video Pilihan Hari Ini

Produksi Liputan6.com

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya