Liputan6.com, Jakarta - Ketua DPR Setya Novanto menyayangkan peristiwa ledakan bom yang dialamatkan ke kantor Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Yaman pada Senin 20 April 2015 kemarin. Ia minta Menteri Luar Negeri Retno Marsudi untuk membantu para korban WNI di sana.
"Saya minta Menlu untuk segera mengundang koalisi Arab Saudi untuk ini bisa terselesaikan dengan baik dan tentu kita harapkan pihak-pihak keluarga korban untuk segera dibantu pengobatan, juga dilakukan evakuasi," kata Setya Novanto, di Gedung DPR, Jakarta, Selasa (21/4/2015).
Setya menuturkan memang situasi di Yaman tidak sedamai di Indonesia. Atas insiden tersebut, politisi Partai Golkar itu menyerahkan sepenuhnya pada Retno apakah akan menutup KBRI di Yaman atau tidak.
"Saya menyayangkan adanya kejadian terhadap gedung KBRI kita. Memang situasi konflik yang ada tidak seperti di Indonesa yang selalu damai. (Soal penutupan KBRI) Saya serahkan kepada melu untuk meneliti dan menindaklanjuti peristiwa tersebut, apa sebab dan musabanya agar lebih jelas," tegas dia.
Sementara itu, Wakil Ketua Komisi I DPR RI Hanafi Rais menilai momen Konferensi Asia-Afrika (KAA) yang sedang berlangsung di Indonesia perlu dimanfaatkan untuk menyerukan perdamaian di Yaman.
"Mumpung ada KAA, dapat dijadikan momentum tepat untuk Indonesia mengajak seluruh negara yang hadir, agar mengajak Arab Saudi dan koalisinya menghentikan pemberontakan atau perang agar tdak terjadi jatuhnya korban sipil," kata Hanafi.
"Perang itu harus dihentikan dan mulai mengedepankan upaya diplomasi serta negoisasi dibandingkan perang," tambah dia.
Wakil Ketua Umum PAN itu juga mendukung kecaman yang dilayangkan Kementerian Luar Negeri Indonesia. Ia menjelaskan ledakan yang terjadi di KBRI itu melanggar kedaulatan Indonesia.
"Artinya soal KBRI yang dibom itu jelas melanggar kedaulatan Indonesia, karena KBRI di manapun berlaku hukum Indonesia, dan itu yang di rusak oleh Arab dan koalisinya," ujar Hanafi.
Yaman terus bergejolak setelah kelompok milisi Houthi, yang berjuang untuk mendapatkan peningkatan otonomi di Provinsi Saada, melancarkan pemberontakan secara berkala sejak 2004.
Aksi mereka yang paling signifikan terjadi sejak Juli 2014. Pada September 2014, mereka menguasai Ibukota Sanaa, menyandera staf kepresidenan, dan menembaki kediaman Presiden Abdu Rabuh Mansour Hadi. (Han/Mut)
DPR Minta Menlu Urus WNI Korban Pengeboman KBRI di Yaman
"Saya minta Menlu untuk segera mengundang koalisi Arab Saudi untuk ini bisa terselesaikan," kata Ketua DPR RI Setya Novanto
Diperbarui 21 Apr 2015, 12:43 WIBDiterbitkan 21 Apr 2015, 12:43 WIB
Advertisement
Video Pilihan Hari Ini
EnamPlus
powered by
POPULER
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
Berita Terbaru
Gelandangan Diamankan Petugas Terminal Kampung Rambutan, Gegara Sering Buang Hajat Sembarang
Resep Puding Susu Leci, Camilan Kenyal dan Segar Usai Lebaran
Jadwal Sholat DKI Jakarta, Jawa dan Seluruh Indonesia Hari Ini Senin 7 April 2025
Aksi Simpatik Jurnalis Garut jadi 'Polisi Dadakan' Amankan Jalur Arus Balik Pemudik
Hari Ini Puncak Arus Balik Masih Berlangsung di Pelabuhan Bakauheni, Ratusan Ribu Pemudik belum Kembali ke Jawa
Saat Anak SD Tanya, Kelak Nyamuk Masuk Surga atau Neraka? Ini Jawaban UAS
Polisi Ungkap Rekaman CCTV terkait Kasus Tewasnya Wartawan di Hotel Jakbar
Arus Balik di Pelabuhan Bakauheni Padat, Polda Lampung Terapkan Delay System
Tidak Sholat tapi Ngaku Salah, Apakah Itu Baik? Hal Tak Terduga Diungkap Gus Baha
Hasil Liga Inggris: Manchester United vs Manchester City Berakhir Tanpa Pemenang
Skenario Timnas Indonesia Lolos ke Babak Gugur Piala Asia U-17 2025 Plus Rebut Tiket Piala Dunia U-17 2025: Wajib Penuhi 2 Syarat
Fakta-Fakta Kasus Tewasnya Wartawan di Hotel Jakbar