Liputan6.com, Jakarta Filsafat pendidikan Islam merupakan kajian pemikiran filosofis yang membahas aspek-aspek pendidikan dalam konteks nilai-nilai dan prinsip-prinsip Islam. Filsafat pendidikan Islam lebih pada tujuan, metode, dan nilai-nilai yang mendasari pendidikan dalam perspektif Islam.
Filsafat pendidikan Islam mengkaji tentang berbagai masalah yang berhubungan dengan pendidikan seperti manusia sebagai subyek dan obyek pendidikan, kurikulum, metode, materi pembelajaran, pendidik (guru), peserta didik, lingkungan pembelajaran.
Filsafat pendidikan Islam juga diartikan sebagai studi tentang pandangan filosofis dari sistem dan aliran filsafat dalam Islam terhadao masalah-masalah kependidikan dan bagaimana pengaruhnya terhadap pertumbuhan dan perkembangan manusia Muslim serta umat Islam.
Advertisement
Berikut Liputan6.com ulas mengenai pengertian filsafat pendidikan Islam beserta ruang lingkup dan alirannya yang telah dirangkum dari berbagai sumber, Jumat (1/12/2023).
Pengertian Filsafat Pendidikan Islam
Istilah filsafat pendidikan Islam mengacu pada pengertian pendidikan Islam secara filosofis, yang sampai ini istilah kejelasan pendidikan Islam masih menjadi perdebatan dalam kosep dan realitanya. Menurut Muzayyin dalam buku yang berjudul Filsafat Pendidikan Islam (1994) karya M. Arifin, filsafat pendidikan Islam pada hakikatnya adalah konsep berpikir tentang kependidikan yang bersumber atau berlandaskan ajaran–ajaran agama Islam tentang hakikat kemampuan manusia untuk dapat dibina dan dikembangkan serta dibimbing menjadi manusia muslim yang seluruh pribadinya dijiwai oleh ajaran agama Islam, dalam arti filsafat pendidikan Islam mengkaji tentang berbagai masalah yang berhubungan dengan pendidikan seperti manusia sebagai subyek dan obyek pendidikan, kurikulum, metode, materi pembelajaran, pendidik (guru), peserta didik, lingkungan pembelajaran.
Menurut Zuhairini dalam bukunya yang berjudul Filsafat Pendidikan Islam, menjelaskan bahwa filsafat pendidikan Islam adalah studi tentang pandangan filosofis dari sistem dan aliran dalam Islam, terhadap masalah-masalah kependidikan dan bagaimana pengaruhnya terhadap pertumbuhan dan perkembangan muslim dan umat Islam.
Advertisement
Tujuan Filsafat Pendidikan Islam
Tujuan filsafat pendidikan Islam adalah harus mampu menjawab segala permasalahan dalam bidang pendidikan, baik yang berkaitan dengan sistem cara pengajarannya dan lain sebagainya, sebagaimana disebutkan oleh Omar Mohammad Al-Taumy Al-Syaubany, bahwa filsafat pendidikan Islam harus mampu memberikan kemanfaatan bagi khasanah pendidikan Islam berupa:
- Membantu para perancang dan pelaksana pendidikan dalam membentuk pemikiran yang benar terhadao proses pendidikan.
- Memberi dasar bagi pengkajian pendidikan secara umum dan khusus.
- Menjadi dasar penilaian pendidikan secara menyeluruh.
Ruang Lingkup Filsafat Pendidikan Islam
Adapun ruang lingkup pembahasan filsafat pendidikan Islam secara umum dijelaskan sebagaimana di bawah ini:
1. Ontologi
Ontologi terdiri dari dua suku kata, yakni antos dan logos. Ontos berarti sesuatu yang berwujud dan logos berarti ilmu. Jadi, ontologi dapat diartikan sebagai ilmu atau teori tentang wujud hakikat yang ada.
2. Epistemologi
Epistemologi berasal dari kata episteme yang berarti pengetahuan dan logos yang berarti ilmu. Jadi, epistemologi adalah ilmu yang membahas tentang pengetahuan dan cara memperolehnya. Epistemologi disebut juga teori pengetahuan, yakni cabang filsafat yang membicarakan tentang cara memperoleh pengetahuan, hakikat pengetahuan, dan sumber pengetahuan.
3. Aksiologi
Landasan aksiologi berhubungan dengan penggunaan ilmu tersebut dalam rangka memenuhi kebutuhan manusia dan manfaatnya bagi kehidupan manusia. Dengan kata lain, apa yang dapat disumbangkan terhadap pengembangan ilmu itu dalam meningkatkan kualitas hidup manusia.
4. Kosmologi
Landasan kosmologi merupakan pemikiran yang berhubungan dengan alam semesta, ruang dan waktu, kenyataan hidup manusia sebagai ciptaan Tuhan, proses kejadian dan perkembangan hidup manusia di alam nyata.
Advertisement
Aliran Filsafat Pendidikan Islam
Dalam dunia pendidikan Islam, terdapat tiga aliran utama filsafat pendidikan Islam yaitu aliran konservatif, aliran religius rasional, dan aliran pragmatis. Berikut ini penjelasannya:
1. Aliran Konservatif
Tokoh-tokoh aliran ini adalah Al-Ghazali, Nasiruddin Al-Thusi, Ibnu Jama’ah, Sahnun, Ibnu Hajar Al-Haitami, dan Al-Qabisi. Aliran Al-Muhafidz cenderung bersikap murni keagamaan. Aliran ini memaknai ilmu dengan pengertian sempit. Menurut Al-Thusi, ilmu yang utama hanyalah ilmu-ilmu yang dibutuhkan saat sekarang, yang jelas akan membawa manfaat di akhirat kelak. Al-Ghazali menegaskan bahwa ilmu-ilmu keagamaan hanya dapat diperoleh dengan kesempurnaan rasio dan kejernihan akal budi. Hal ini karena hanya dengan rasiolah manusia mampu menerima amanat dari Allah dan mendekatkan diri kepada-Nya.
2. Aliran Religius Rasional
Tokoh-tokoh aliran ini adalah Ikhwan Al-Shafa, Al-Farabi, Ibnu Sina, dan Ibnu Miskawaih. Aliran ini dijuluki pemburu hikmah Yunani dibelahan dunia Timur, dikarenakan pergumulan intensifnya dengan rasionalitas Yunani.
Menurut Ikhwan Al-Shafa, yang dimaksud dengan ilmu adalah gambaran tentang sesuatu yang diketahui pada benak (jiwa) orang yang mengetahui. Proses pengajaran adalah usaha transformatif terhadap kesiapan ajar agar benar-benar menjadi riil atau dengan kata lain, upaya transformatif terhadap jiwa pelajar yang semula berilmu (mengetahui) secara potensial, agar menjadi berilmu (mengetahui) secara riil aktual. Dengan demikian, inti proses pendidikan adalah pada kiat transformasi potensi-potensi manusia agar menjadi kemampuan psikomotorik.
3. Aliran Pragmatis
Tokoh aliran pragmatis adalah Ibnu Khaldun. Sedangkan tokoh pragmatisme barat yaitu John Dewey. Bila filsafat pendidikan Islam berkiblat pada pandangan pragmatis John Dewey, tujuan yang ingin dicapai dalam pendidikan adalah segala sesuatu yang sifatnya nyata, bukam hal yang di luar jangkauan panca indera.
Menurut Ibnu Khaldun, ilmu pengetahuan dan pembelajaran adalah tabi’i (pembawaan) manusia karena adanya kesanggupan berfikir. Pendidikan bukan hanya bertujuan untuk mendapatkan ilmu pengetahuan akan tetapi juga untuk mendapatkan keahlian duniawi dan ukhrowi, keduanya harus memberikan keuntungan, karena baginya pendidikan adalah jalan untuk memperoleh rizki.