Anggota DPR Komisi IV Andi Akmal Soroti Bencana Banjir di Kalimatan yang Berulang

Laju deforestasi terjadi akibat penebangan ilegal (illegal logging), kebakaran hutan ataupun konversi dari hutan menjadi perkebunan.

oleh stella maris diperbarui 19 Nov 2021, 15:22 WIB
Diterbitkan 19 Nov 2021, 15:10 WIB
Anggota Komisi IV DPR RI Andi Akmal Pasluddin
Anggota Komisi IV DPR RI Andi Akmal Pasluddin. Foto: Arief/Man.

Liputan6.com, Jakarta Musibah banjir besar di Kalimantan yang terjadi selama beberapa hari, dinilai Anggota Komisi IV DPR RI Andi Akmal Pasluddin sebagai teguran keras bagi pengelola negara Indonesia.

Andi menyatakan, kerusakan daerah tangkapan hujan  sudah terjadi bertahun-tahun. Hal ini akibat regulasi yang ada tidak terlalu mendukung pada pengamanan dan penjagaan lingkungan yang semestinya.

"Pada tahun 2000 luas hutan Kalimantan adalah 33.234.711 Ha, lalu menurun menjadi 26.886.772 Ha pada tahun 2013, dan hutan Kalimantan yang tersisa pada tahun 2017 adalah seluas 24.834.752 Ha," ujar Akmal pada Kamis (18/11).

Legislator dapil Sulawesi Selatan II ini menjabarkan, secara nasional proporsi tutupan lahan hutan dari tahun ke tahun terus mengalami penurunan.

Laju deforestasi terjadi akibat penebangan ilegal (illegal logging), kebakaran hutan ataupun konversi dari hutan menjadi perkebunan. Proporsi tutupan hutan nasional pada 2019 adalah 50,10% dari total luas lahan secara keseluruhan atau sama dengan 94.114.000 hektar.

Akmal juga menjelaskan, selama periode 2015-2020, paling tidak terjadi kabakaran hutan dan lahan seluas 5.645.022 Hektar.

Berdasarkan perhitungan, kebakaran hutan di Indonesia mencapai luas 940.837 hektar per tahun atau sama dengan 2578 hektar per hari, telah menghancurkan kehidupan satwa, menghilangkan biomass, merusak ekosistem, melepaskan karbon, dan asap kebakaran hutan telah mengggangu kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat

Wakil rakyat kelahiran Bone ini juga mengingatkan bahwa pada 2020 kala terjadi pandemi Covid-19, saat yang bersamaan hutan dan lahan kita yang terbakar mencapai 269.942 hektar. Hampir 150.000 hektar kebakaran hutan dan lahan terjadi Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, dan Papua.

"Jadi ini saat ini telah tampak kerusakan yang terjadi di darat dan udara akibat ulah manusia yang mengakibatkan perubahan iklim, dan menurunnya kemampuan dataran untuk menerima kondisi alam, termasul meluasnya lahan kritis, yang ujungnya timbul bencana alam seperti banjir besar," ujar politisi Fraksi PKS itu.

Ia memaparkan, total luas lahan kritis nasional mencapai 14 Juta hektar. Proporsinya terhadap total luas lahan adalah sebesar 7,46%. Luas lahan kritis tertinggi pada tingkat provinsi ada di Provinsi Sumatera Utara yaitu seluas 1.338.810 hektar, berikutnya adalah Kalimantan Barat seluas 1.015.631 hektar, dan Provinsi Jawa Barat luas lahan kritisnya hampir mencapai satu juta hektar yaitu seluas 911.192 hektar.

"Sudah saatnya pemerintah saat ini berbenah total tanpa menyalahkan masa keadaan masa lalu. Yang paling penting bagaimana di masa depan lingkungan kita menjadi membaik sehingga meningkatkan kualitas hidup makhluk hidup di dalamnya termasuk ummat manusia," tutup Andi.

 

(*)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya