Liputan6.com, Jakarta - Pemerintah China telah mengambil langkah balasan cepat atas kebijakan tarif terbaru yang diberlakukan oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.
Pemerintah China mengumumkan pembatasan ekspor atas tujuh unsur strategis atau unsur tanah jarang penting, serta menetapkan tarif tambahan sebesar 34 persen untuk seluruh impor asal AS, mulai 10 April mendatang.
Baca Juga
Diterima Liputan6.com, adapun langkah balasan ini diumumkan secara resmi oleh Kementerian Perdagangan dan Administrasi Umum Bea Cukai China pada Jumat, April 2025.
Advertisement
Tujuh unsur tanah jarang yang dibatasi ekspornya oleh China meliputi samarium, gadolinium, dan disprosium yang kerap digunakan dalam industri pertahanan, dirgantara, hingga teknologi energi hijau.
China menjelaskan, pembatasan dilakukan untuk melindungi keamanan nasional, mengingat unsur-unsur ini bersifat dual-use, yakni bisa digunakan untuk kepentingan sipil maupun militer.
Selain itu, pemerintah China juga memasukkan total 16 perusahaan asal AS ke dalam daftar entitas yang dibatasi, termasuk High Point Aerotechnologies dan Universal Logistics Holdings Inc.
“Dengan aturan baru ini, perusahaan-perusahaan China dilarang mengekspor barang-barang dengan penggunaan ganda (dual-use) ke 16 entitas asal AS tersebut. Seluruh kegiatan ekspor terkait yang masih berlangsung harus segera dihentikan,” demikian keterangan Kementerian Perdagangan China tersebut dikutip Sabtu (5/4/2025).
Gugat ke WTO
Tak hanya itu, sebagai respons tambahan, China juga resmi mengajukan gugatan ke Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) terkait kebijakan tarif timbal balik yang diumumkan Donald Trump.
“Amerika Serikat secara serius melanggar aturan WTO, merusak hak dan kepentingan sah para anggota WTO, serta merusak sistem perdagangan multilateral yang berbasis aturan dan tatanan ekonomi serta perdagangan internasional,” kata juru bicara Kementerian Perdagangan China tersebut.
Menurut Kementerian Perdagangan China, tarif timbal balik yang ditetapkan AS terhadap seluruh mitra dagangnya itu adalah praktik sepihak yang mencerminkan tindakan intimidasi. Tindakan ini dianggap bisa membahayakan stabilitas tatanan ekonomi dan perdagangan global.
“China dengan tegas menentang hal ini,” ujarnya.
Oleh sebab itu, China mendesak AS untuk segera memperbaiki tindakannya dan mencabut kebijakan tarif sepihak tersebut.
Advertisement
