Tari Tjokronegoro, Warisan Budaya Asal Kabupaten Sidoarjo Kental dengan Nilai Luhur

Proses penciptaan Tari Tjokronegoro melibatkan perjalanan spiritual yang mendalam oleh penciptanya sehingga menjadi salah satu warisan budaya

oleh Panji Prayitno Diperbarui 06 Apr 2025, 04:00 WIB
Diterbitkan 06 Apr 2025, 04:00 WIB
Tari Tjokronegoro, Warisan Budaya Asal Kabupaten Sidoarjo Kental Dengan Nilai Luhur
Monumen Jayandaru yang menjadi Ikon Kabupaten Sidoarjo. Foto (sidoarjokab.go.id)... Selengkapnya

Liputan6.com, Jakarta - Tari Tjokronegoro merupakan salah satu warisan budaya yang kaya akan nilai historis dan artistik dari Kabupaten Sidoarjo Jawa Timur. Diciptakan pada tahun 1975 oleh seniman tari terkemuka Munali Fatah atas permintaan Bupati Sidoarjo ke-13 Soewandi.

Dirangkum dari berbagai sumber, tarian ini dirancang untuk menggambarkan dan menghormati watak serta kepemimpinan Bupati pertama Sidoarjo, R.T.P. Tjokronegoro.

Sebagai manifestasi dari karakter kepemimpinan yang gagah berani dan berwibawa, Tari Tjokronegoro tidak hanya menjadi simbol penghormatan terhadap tokoh pendiri, tetapi juga cerminan semangat dan identitas masyarakat Sidoarjo.

Proses penciptaan Tari Tjokronegoro melibatkan perjalanan spiritual yang mendalam. Munali Fatah, dalam upayanya untuk menangkap esensi karakter R.T.P. Tjokronegoro, melakukan serangkaian meditasi intensif di berbagai lokasi, termasuk di bawah pohon jambu, rumpun bambu di belakang rumahnya, ruang tamu, hingga kamar gelap gulita.

Melalui meditasi ini, Fatah mencari ilham dan koneksi batin dengan sosok Tjokronegoro, yang akhirnya membimbingnya dalam merangkai gerakan-gerakan tari yang autentik dan sarat makna. Dedikasi dan pendekatan spiritual ini memastikan bahwa setiap gerakan dalam tarian mencerminkan sifat kepemimpinan, keberanian, dan kebijaksanaan yang dimiliki oleh Tjokronegoro.

Secara visual, Tari Tjokronegoro menampilkan kostum yang sederhana namun penuh simbolisme. Penari mengenakan baju dan celana hitam dengan aksen strip kuning pada ujung kerah, tangan, dan celana, yang melambangkan kewibawaan dan keagungan.

Di pinggang, terdapat kain batik motif parang yang diikat di samping, sementara kepala dihiasi dengan ikat kepala khas Sidoarjo yang disebut modang, menambah kesan elegan dan otoritatif.

Properti utama yang digunakan adalah clangkreng atau nenggala, sebuah tombak sepanjang sekitar 1,5 meter berwarna merah, simbol keberanian dan tanggung jawab.

Nilai Luhur

Kombinasi elemen-elemen ini tidak hanya memperkaya estetika tarian, tetapi juga memperdalam makna filosofis yang terkandung di dalamnya. Dari segi koreografi, Tari Tjokronegoro terdiri dari tiga bagian utama: pendahuluan, isi, dan penutup.

Bagian pendahuluan menekankan gerakan yang mencerminkan kebijakan dan kekuasaan seorang pemimpin, sementara bagian isi menampilkan dinamika gerakan yang menunjukkan semangat dan keberanian. Bagian penutup ditandai dengan gerakan yang melambangkan penghormatan dan kerendahan hati.

Iringan musik tradisional gamelan Jawa dengan gendhing Alas Kobong dan gendhing Tjokronegoro menambah kedalaman emosional dan spiritual pada setiap penampilan, menciptakan harmoni antara gerakan dan musik yang memukau penonton.

Meskipun memiliki nilai budaya dan historis yang tinggi, Tari Tjokronegoro sempat kurang dikenal luas oleh masyarakat Sidoarjo. Namun, upaya revitalisasi terus dilakukan, seperti yang terjadi pada tahun 2022 ketika siswa SMAN 1 Sidoarjo melakukan penelitian mendalam untuk menghidupkan kembali tarian ini.

Mereka mempelajari literatur, mewawancarai mantan penari, dan berkolaborasi dengan keluarga Munali Fatah untuk merekonstruksi gerakan dan esensi tarian. Inisiatif ini tidak hanya berhasil menghidupkan kembali Tari Tjokronegoro, tetapi juga meningkatkan kesadaran generasi muda akan pentingnya melestarikan warisan budaya lokal.

Tari Tjokronegoro kini kembali menjadi simbol kebanggaan bagi masyarakat Sidoarjo, mewakili semangat kepemimpinan, keberanian, dan identitas kultural yang kaya.

Melalui tarian ini, nilai-nilai luhur dari pendiri Kabupaten Sidoarjo terus diwariskan dan dihayati oleh generasi penerus, memastikan bahwa warisan budaya ini tetap hidup dan relevan dalam kehidupan modern.

Penulis: Belvana Fasya Saad

 
Lanjutkan Membaca ↓
Loading

Video Pilihan Hari Ini

Produksi Liputan6.com

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya