Pengusaha Tekstil: Impor Kapas AS Jadi Kunci Negosiasi Pangkas Tarif Trump

Kelompok pengusaha yang bergelut di industri tekstil dan produk tekstil (TPT) menawarkan solusi pemakaian lebih banyak kapas impor Amerika Serikat.

oleh Maulandy Rizky Bayu Kencana Diperbarui 04 Apr 2025, 17:31 WIB
Diterbitkan 04 Apr 2025, 17:31 WIB
Didampingi JD Vance, Presiden Amerika Serikat Donald Trump Temui Pendukungnya di Capital One Arena
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump melemparkan pena ke arah kerumunan setelah menandatangani perintah eksekutif selama parade perdana di dalam Capital One Arena, Washington, DC pada 20 Januari 2025. (Jim WATSON/AFP)... Selengkapnya

Liputan6.com, Jakarta Kelompok pengusaha yang bergelut di industri tekstil dan produk tekstil (TPT) menawarkan solusi pemakaian lebih banyak kapas impor Amerika Serikat. Sebagai senjata untuk bernegosiasi mengurangi pengenaan tarif impor resiprokal Presiden AS, Donald Trump kepada produk Indonesia sebesar 32 persen.

Ketua Umum Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filamen Indonesia (APSyFI) Redma Gita Wiraswata mengatakan, kabinet Donald Trump menerapkan aturan tingkat pemakaian dalam negeri (TKDN) minimal 20 persen konten bahan baku kepada negara importir, agar bisa mendapat pemotongan tarif.

"Mengingat AS tidak bisa menyediakan benang dan kain, maka dalam hal ini Indonesia harus lebih banyak menggunakan kapas AS yang dapat dikombinasikan dengan serat polyester dan rayon yang dipintal dan ditenun/dirajut di dalam negeri," ujarnya dalam sesi konferensi pers virtual, Jumat (4/4/2025).

Langkah tersebut dinilai tidak hanya bisa memotong pengenaan tarif impor Trump, tapi juga memperbaiki kinerja industri TPT nasional secara keseluruhan dari hulu sampai hilir. Sekaligus menekan laju importasi barang jadi.

"Kalau kita bisa normalkan lagi linkage industri dari hulu ke hilir, ini bukan ancaman, tapi jadi peluang. Cara menormalkannya lagi, dengan menggunakan kapas Amerika Serikat lebih banyak," kata Redma.

"Di satu sisi kita impor kapas dari Amerika, mereka tidak bisa suplai benang dan kain. Jadi utilisasi di pemintalan akan naik, di tenun, rajut, semua akan naik. Jadi kita bisa sekali kayuh bisa dapat banyak, kalau kita serius sikapi ini," tegasnya.

Kurangi Impor China

Lebih lanjut, ia memaparkan, industri TPT Indonesia dalam keadaan normal mengkonsumsi sekitar USD 600 juta kapas dari AS.

Di sisi lain, Indonesia justru mengimpor benang, kain dan garment senilai USD 6,5 miliar dari China, yang diklaim malah mematikan industri TPT dalam negeri karena bersaing dengan tidak sehat. Mengakibatkan utilisasi mesin produksinya hanya sekitar 45 persen.

"Khusus untuk industri pemintalan, dengan kapasitas 12 juta mata pintal terpasang, saat ini hanya digunakan 4 juta mata pintal. Karena itu kami mendorong pemerintah melakukan negosiasi resiprokal dengan AS, agar kita bisa mengimpor lebih banyak kapas sebagai trade off sekaligus mendorong impor produk-produk AS yang tidak dapat kita produksi," pintanya.

 

Siap Kedepankan Transparansi

50 Bulan Beruntun, Neraca Perdagangan RI Surplus
Surplus yang didapat pada periode Juni 2024 berasal dari nilai transaksi ekspor yang mencapai 20,84 miliar dolar AS, serta impor sebesar 18,45 miliar dolar AS. (Liputan6.com/Angga Yuniar)... Selengkapnya

Menegaskan pernyataan tersebut, Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Jemmy Kartiwa mengaku siap memenuhi permintaan transparansi dari Pemerintah AS.

Terkait roda industri pertekstilan nasional jika nantinya bakal lebih banyak menggunakan kapas impor dari Negeri Paman Sam.

"Kalau kita bisa negosiasi dengan pemerintah Trump, untuk pakaian jadi yang masuk ke Amerika dengan kapas dari Amerika, yang otomatis ditenun di Indonesia untuk dapat tarif lebih ringan, otomatis utilisasi di industri TPT akan terbantu. Kita di sisi industri siap untuk transparansi," sebutnya.

 

 

Win-Win Solution

FOTO: Ekspor Impor Indonesia Merosot Akibat Pandemi COVID-19
Aktivitas bongkar muat kontainer di dermaga ekspor impor Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Rabu (5/8/2020). Menurut BPS, pandemi COVID-19 mengkibatkan ekspor barang dan jasa kuartal II/2020 kontraksi 11,66 persen secara yoy dibandingkan kuartal II/2019 sebesar -1,73. (merdeka.com/Iqbal S. Nugroho)... Selengkapnya

Sehingga, pengenaan tarif masuk untuk barang jadi tekstil dari Indonesia ke Amerika Serikat diperkirakan bisa turun dari 32 persen menjadi 20 persen.

Dengan kondisi ini, Jemmy menilai Indonesia bakal mendapat situasi yang win-win, dengan tarif resiprokal lebih murah dan tetap bisa menjaga setoran ekspor.

"Dengan tarif lebih murah, bukan tindak mungkin ekspor terbantu. Industri TPT yang carut marut juga bisa terbenahi. Jadi bagaimana kita pintar-pintar sikapi ini," pungkas Jemmy.

Lanjutkan Membaca ↓
Loading

Video Pilihan Hari Ini

Produksi Liputan6.com

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya