Glaukoma: Penyebab Kebutaan Tertinggi Setelah Katarak, Penting Lakukan Deteksi Dini

Glaukoma, penyakit mata yang menyebabkan kerusakan saraf optik, tidak dapat disembuhkan tetapi dapat dikelola dengan berbagai metode pengobatan untuk memperlambat perkembangannya dan menjaga penglihatan.

oleh Benedikta Desideria Diperbarui 02 Apr 2025, 15:33 WIB
Diterbitkan 02 Apr 2025, 15:04 WIB
Point of View Pasien Glaukoma Saat Melihat yang Diterangkan dokter spesialis mata konsultan oftalmologi, Iwan Soebijantoro dari JEC Eye Hospitals and Clinics.
Point of View Pasien Glaukoma Saat Melihat yang Diterangkan dokter spesialis mata konsultan oftalmologi, Iwan Soebijantoro dari JEC Eye Hospitals and Clinics.... Selengkapnya

Liputan6.com, Jakarta Seseorang yang mengalami glaukoma harus segera mendapatkan intervensi medis. Bila tidak penurunan fungsi penglihatan pada penderita glaukoma bisa berakhir dengan kebutaan permanen.

"Hal ini menjadikan glaukoma sebagai penyebab kebutaan tertinggi kedua setelah katarak," kata dokter spesialis mata konsultan oftalmologi, Iwan Soebijantoro dari JEC Eye Hospitals and Clinics.

Kebutaan akibat glaukoma bersifat irreversible alias tidak dapat diubah atau dikembalikan ke keadaan semula.

Hal ini berbeda dengan katarak. Pada pasien katarak, usai menjalani operasi prosedur bedah untuk mengangkat lensa mata yang keruh akibat katarak dan menggantinya dengan lensa buatan pasien bisa kembali melihat.

"Tapi tidak begitu dengan glaukoma," tegas Iwan.

Glaukoma Tanpa Gejala di Tahap Awal, Maka Deteksi Dini Penting

Iwan mengatakan glaukoma sering berkembang tanpa gejala di tahap awal. Maka deteksi dini menjadi sangat penting pada kasus glaukoma.

Pemeriksaan mata secara teratur sangat penting untuk mendeteksi glaukoma sejak dini. Deteksi dini memungkinkan pengobatan dimulai lebih cepat, sehingga dapat memperlambat perkembangan penyakit dan mencegah kerusakan saraf optik yang lebih parah.

Selama pemeriksaan, dokter akan memeriksa tekanan intraokular dan memeriksa kondisi saraf optik untuk mendeteksi tanda-tanda glaukoma.

"Mengingat kebutaan akibat glaukoma tidak bisa dikembalikan, jadi penting untuk deteksi dini. Jangan tunggu diperiksa pas sudah tidak ada penglihatan," kata Iwan.

Promosi 1

Siaya yang Disarankan Deteksi Dini Glaukoma?

Deteksi dini glaukoma penting terutama dilakukan pada kelompok berikut:

  • Berusia di atas 40 tahun
  • Orang yang menggunakan pengobatan steroid, biasanya orang dengan asma, alergi, autoimun menggunakan obat steroid.
  • Pernah menjalani operasi bola mata seperti operasi retina
  • Orang dengan tekanan bola mata tinggi
  • Orang dengan diabetes, migrain dan hipertensi
  • Faktor genetik dengan glaukoma
  • Orang dengan rabun jauh dan rabun dekat tinggi

Pengobatan Glaukoma: Pilihan dan Metode

Pengobatan glaukoma disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien dan tingkat keparahan penyakit.

"Pengobatan tergantung kasus masing-masing pasien. Ada yang hanya menggunakan obat tetes tekanan pada bola mata terkontrol. Ketika di pemeriksaan selanjutnya tekanan baik, berarti pada pasien tersebut obat cukup," terang Iwan.

 

Beberapa pengobatan yang umum digunakan meliputi:

  • Obat Tetes Mata: Merupakan lini pertama pengobatan glaukoma. Obat tetes mata bekerja dengan mengurangi produksi cairan di dalam mata atau meningkatkan drainase cairan, sehingga menurunkan tekanan intraokular.
  • Obat Oral: Dalam beberapa kasus, dokter mungkin meresepkan obat oral sebagai tambahan obat tetes mata untuk lebih menurunkan tekanan intraokular. Obat oral biasanya digunakan jika pengobatan dengan obat tetes mata saja tidak cukup efektif.
  • Terapi Laser: Prosedur laser, seperti laser peripheral iridotomy (LPI), dapat membuka saluran drainase cairan di dalam mata. Terapi ini sering digunakan pada glaukoma sudut tertutup untuk meningkatkan aliran cairan dan menurunkan tekanan intraokular.
  • Operasi: Jika pengobatan lain tidak efektif, operasi mungkin diperlukan untuk menciptakan saluran drainase baru bagi cairan mata. Ada berbagai jenis operasi glaukoma, masing-masing dengan risiko dan manfaatnya sendiri. Pemilihan jenis operasi akan disesuaikan dengan kondisi pasien.
Lanjutkan Membaca ↓
Loading

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya