Korban Gempa Myanmar Ditemukan Selamat Usai 5 Hari Tertimpa Reruntuhan

Di tengah musibah gempa bumi yang mengguncang Myanmar, junta militer didesak untuk menghentikan serangannya.

oleh Benedikta Miranti T.V Diperbarui 02 Apr 2025, 16:03 WIB
Diterbitkan 02 Apr 2025, 16:03 WIB
Gempa Myanmar, Jumlah Korban Tewas Bertambah
Jumlah korban tewas akibat gempa dahsyat di Myanmar pada Jumat (28/3/2025) meningkat menjadi 144 orang, sementara 732 lainnya mengalami luka-luka. (Foto: AFP)... Selengkapnya

Liputan6.com, Naypyidaw - Tim penyelamat berhasil menarik seorang pria hidup-hidup dari reruntuhan hotel di ibu kota Naypyidaw, Myanmar, lima hari setelah gempa bermagnitudo 7,7 mengguncang Myanmar. Kejadian ini memberikan secercah harapan di tengah bencana yang telah menewaskan lebih dari 2.700 orang dan membuat ribuan lainnya kehilangan tempat tinggal.

Mengutip Malay Mail, Rabu (2/4/2025), korban, seorang pekerja hotel berusia 26 tahun, diselamatkan oleh tim gabungan Myanmar-Turki pada tengah malam.

Dalam video yang dibagikan oleh Dinas Pemadam Kebakaran Myanmar, pria itu tampak berdebu namun sadar saat ditarik dari reruntuhan dan segera dibawa dengan tandu.

Hingga Selasa (1/4), pemimpin junta Min Aung Hlaing melaporkan bahwa jumlah korban tewas telah meningkat menjadi 2.719 orang, dengan lebih dari 4.500 orang terluka dan 441 masih hilang. Namun, angka ini diperkirakan akan bertambah karena komunikasi dan infrastruktur yang terganggu menghambat upaya pencarian dan distribusi bantuan.

PBB dan berbagai kelompok hak asasi manusia telah menyerukan penghentian sementara pertempuran antara junta militer dan kelompok bersenjata di Myanmar guna memprioritaskan bantuan kemanusiaan.

"Semua pihak harus berfokus pada perlindungan warga sipil, termasuk pekerja bantuan, serta pengiriman bantuan yang menyelamatkan nyawa," kata Julie Bishop, utusan khusus PBB untuk Myanmar.

Sebelum gempa terjadi, lebih dari 3,5 juta orang telah mengungsi akibat konflik bersenjata di Myanmar. Kini, situasi semakin diperparah dengan banyaknya korban gempa Myanmar yang membutuhkan pertolongan darurat.

Junta Myanmar Tetap Lanjutkan Serangan

Pemimpin Junta Militer Myanmar Min Aun Hlaing dan Panglima Angkatan Laut Rusia Nikolai Anatolyevich Yevmenov.
Foto yang dirilis The Military True News Information Team pada 6 November 2023 menunjukkan Jenderal Min Aun Hlaing, pemimpin junta militer, bersama dengan Panglima Angkatan Laut Rusia Nikolai Anatolyevich Yevmenov selama upacara pembukaan latihan keamanan maritim pertama Myanmar-Rusia di Pelabuhan Thilawa, Yangon, Myanmar. (Dok. The Military True News Information Team via AP)... Selengkapnya

Meski beberapa kelompok bersenjata telah mengumumkan gencatan senjata satu bulan untuk membantu pemulihan pascagempa, junta Myanmar tetap melanjutkan operasi militernya.

"Kami menyadari bahwa beberapa kelompok etnis bersenjata saat ini tidak sedang bertempur, tetapi mereka tengah mengatur dan melatih pasukan untuk melakukan serangan," ujar Min Aung Hlaing, seraya menegaskan bahwa militer Myanmar akan terus menjalankan "aktivitas defensif yang diperlukan".

Tindakan junta ini dikecam oleh berbagai pihak, termasuk pemerintah Australia. Menteri Luar Negeri Penny Wong mengecam serangan udara terhadap kelompok pemberontak yang justru memperburuk penderitaan rakyat Myanmar.

"Kami mengutuk tindakan ini dan mendesak rezim militer untuk segera menghentikan operasi militer serta memberikan akses kemanusiaan penuh ke daerah terdampak," tegasnya.

Infografis Penangkapan Aung San Suu Kyi dan Kudeta Militer Myanmar. (Liputan6.com/Trieyasni)
Infografis Penangkapan Aung San Suu Kyi dan Kudeta Militer Myanmar. (Liputan6.com/Trieyasni)... Selengkapnya
Lanjutkan Membaca ↓
Loading

Video Pilihan Hari Ini

Produksi Liputan6.com

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya