Memahami Arti Ghibah, Dampak dan Cara Menghindarinya dalam Islam

Pelajari arti ghibah, dampaknya terhadap kehidupan sosial, dan cara menghindarinya sesuai ajaran Islam. Tingkatkan kualitas hubungan Anda.

oleh Shani Ramadhan Rasyid Diperbarui 03 Apr 2025, 20:57 WIB
Diterbitkan 03 Apr 2025, 20:57 WIB
arti ghibah
arti ghibah ©Ilustrasi dibuat AI... Selengkapnya

Liputan6.com, Jakarta Ghibah atau menggunjing merupakan salah satu perilaku tercela yang sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Meski terlihat sepele, ghibah memiliki dampak yang sangat serius, baik bagi pelaku maupun korbannya. Dalam artikel ini, kita akan membahas secara mendalam tentang arti ghibah, hukumnya dalam Islam, serta bagaimana cara menghindarinya.

Definisi Ghibah dalam Islam

Ghibah secara bahasa berasal dari kata "ghaba" yang berarti gaib atau tidak hadir. Dalam istilah syariat Islam, ghibah didefinisikan sebagai membicarakan seseorang yang tidak hadir dengan sesuatu yang tidak disukainya, meskipun hal tersebut benar adanya.

Rasulullah SAW menjelaskan definisi ghibah dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim:

"Tahukah kalian apa itu ghibah?" Para sahabat menjawab, "Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui." Beliau bersabda, "Ghibah adalah engkau menyebut saudaramu dengan sesuatu yang ia benci." Ada yang bertanya, "Bagaimana jika yang saya katakan itu benar?" Beliau menjawab, "Jika yang engkau katakan itu benar, maka engkau telah melakukan ghibah. Dan jika yang engkau katakan itu tidak benar, maka engkau telah melakukan fitnah (buhtan)."

Dari hadits ini, kita dapat memahami bahwa ghibah bukan hanya membicarakan keburukan seseorang yang tidak ada, tetapi juga termasuk menyebutkan sifat atau keadaan seseorang yang memang benar adanya namun orang tersebut tidak menyukainya jika hal itu disebutkan.

Hukum Ghibah dalam Islam

Islam memandang ghibah sebagai perbuatan yang sangat tercela dan dilarang keras. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an Surah Al-Hujurat ayat 12:

"Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat, Maha Penyayang."

Ayat ini dengan jelas menunjukkan bahwa ghibah diharamkan dalam Islam. Bahkan, Allah SWT mengumpamakan perbuatan ghibah dengan memakan daging saudara sendiri yang sudah mati, suatu perumpamaan yang sangat mengerikan untuk menggambarkan betapa buruknya perbuatan tersebut.

Para ulama sepakat bahwa hukum asal ghibah adalah haram. Imam An-Nawawi dalam kitabnya Riyadhus Shalihin menyatakan bahwa ghibah termasuk dosa besar yang wajib dijauhi oleh setiap muslim. Beliau juga menukil pendapat Imam Ghazali yang mengatakan bahwa ghibah lebih berat dosanya daripada zina.

Jenis-jenis Ghibah

Ghibah dapat terjadi dalam berbagai bentuk dan situasi. Berikut adalah beberapa jenis ghibah yang sering kita jumpai:

  1. Ghibah Lisan: Ini adalah bentuk ghibah yang paling umum, yaitu membicarakan keburukan orang lain secara langsung dengan mulut.
  2. Ghibah Tulisan: Menuliskan keburukan seseorang, baik di media sosial, buku, atau media lainnya.
  3. Ghibah Isyarat: Menggunakan gerakan tubuh atau mimik wajah untuk menunjukkan keburukan seseorang.
  4. Ghibah Perbuatan: Meniru-niru tingkah laku atau cara bicara seseorang dengan maksud mengejek.
  5. Ghibah Hati: Berprasangka buruk terhadap seseorang tanpa alasan yang jelas.

Semua jenis ghibah ini sama-sama dilarang dalam Islam, karena pada dasarnya semuanya bertujuan untuk merendahkan atau menyakiti orang lain.

Penyebab Terjadinya Ghibah

Ada beberapa faktor yang sering menjadi penyebab seseorang melakukan ghibah:

  1. Iri hati dan dengki: Perasaan tidak senang atas keberhasilan atau kelebihan orang lain sering mendorong seseorang untuk melakukan ghibah.
  2. Ingin terlihat lebih baik: Dengan menceritakan keburukan orang lain, seseorang berharap dirinya akan terlihat lebih baik di mata orang lain.
  3. Melampiaskan amarah: Ghibah sering dijadikan cara untuk melampiaskan kekesalan atau amarah terhadap seseorang.
  4. Mengikuti lingkungan: Terkadang seseorang melakukan ghibah hanya karena ikut-ikutan atau tidak ingin dianggap "kuper" dalam pergaulan.
  5. Kurangnya kesadaran: Banyak orang yang melakukan ghibah tanpa sadar karena menganggapnya sebagai hal yang biasa.

Memahami penyebab-penyebab ini penting agar kita bisa lebih waspada dan menghindari diri dari perbuatan ghibah.

Dampak Negatif Ghibah

Ghibah memiliki dampak negatif yang sangat serius, baik bagi pelaku, korban, maupun masyarakat secara umum:

  1. Merusak hubungan sosial: Ghibah dapat merenggangkan hubungan antar individu dan menciptakan permusuhan.
  2. Menghilangkan kepercayaan: Orang yang suka berghibah akan sulit dipercaya oleh orang lain.
  3. Menurunkan harga diri: Baik pelaku maupun korban ghibah sama-sama mengalami penurunan harga diri di mata masyarakat.
  4. Menimbulkan fitnah: Ghibah sering kali berkembang menjadi fitnah yang lebih berbahaya.
  5. Menghapus amal kebaikan: Dalam perspektif Islam, ghibah dapat menghapus pahala amal kebaikan yang telah dilakukan.

Dampak-dampak ini menunjukkan betapa berbahayanya perbuatan ghibah dan mengapa kita harus berusaha keras untuk menghindarinya.

Cara Menghindari Ghibah

Berikut adalah beberapa cara yang bisa kita lakukan untuk menghindari perbuatan ghibah:

  1. Meningkatkan kesadaran diri: Selalu introspeksi diri dan menyadari bahwa ghibah adalah perbuatan tercela.
  2. Menjaga lisan: Berhati-hati dalam berbicara dan selalu memikirkan dampak dari ucapan kita.
  3. Berprasangka baik: Berusaha untuk selalu berpikir positif terhadap orang lain.
  4. Mengingat akibat ghibah: Selalu mengingat bahwa ghibah memiliki konsekuensi yang berat, baik di dunia maupun di akhirat.
  5. Menyibukkan diri dengan hal positif: Mengisi waktu dengan kegiatan yang bermanfaat sehingga tidak ada kesempatan untuk berghibah.

Dengan menerapkan cara-cara ini, kita bisa lebih mudah menghindari perbuatan ghibah dan menjaga hubungan baik dengan sesama.

Perbedaan Ghibah dan Namimah

Ghibah dan namimah sering kali dianggap sama, padahal keduanya memiliki perbedaan yang signifikan:

  • Ghibah adalah membicarakan keburukan seseorang di belakangnya, meskipun apa yang dibicarakan itu benar.
  • Namimah adalah menyampaikan perkataan seseorang kepada orang lain dengan tujuan mengadu domba atau merusak hubungan di antara mereka.

Perbedaan utamanya terletak pada tujuan dan cara penyampaiannya. Ghibah biasanya dilakukan tanpa sepengetahuan orang yang dibicarakan, sedangkan namimah melibatkan penyampaian informasi dari satu pihak ke pihak lain.

Meski berbeda, keduanya sama-sama dilarang dalam Islam karena berpotensi menimbulkan permusuhan dan kerusakan dalam masyarakat.

Kapan Ghibah Diperbolehkan?

Meskipun pada dasarnya ghibah diharamkan, ada beberapa situasi di mana ghibah diperbolehkan dengan syarat-syarat tertentu:

  1. Mengadukan kezaliman: Seseorang yang dizalimi boleh menceritakan kezaliman yang dialaminya kepada pihak yang berwenang untuk mencari keadilan.
  2. Meminta fatwa: Boleh menyebutkan aib seseorang jika tujuannya untuk meminta fatwa atau solusi atas masalah yang dihadapi.
  3. Memberi peringatan: Jika ada seseorang yang berbuat maksiat secara terang-terangan, boleh memperingatkan orang lain agar tidak terjerumus dalam perbuatan yang sama.
  4. Mengenalkan seseorang: Boleh menyebutkan ciri-ciri seseorang jika diperlukan untuk mengenalinya, misalnya dalam transaksi atau perjodohan.
  5. Memberikan kesaksian: Dalam proses peradilan, seseorang boleh memberikan kesaksian meskipun itu berarti harus menyebutkan keburukan orang lain.

Namun, perlu diingat bahwa kebolehan ini harus disertai dengan niat yang benar dan tidak boleh melebihi batas kebutuhan.

Cara Bertaubat dari Ghibah

Jika seseorang telah terlanjur melakukan ghibah, ia harus segera bertaubat dengan cara:

  1. Menyesali perbuatan: Menyadari kesalahan dan benar-benar menyesalinya.
  2. Bertekad tidak mengulangi: Memiliki tekad kuat untuk tidak melakukan ghibah lagi di masa depan.
  3. Meminta maaf: Jika memungkinkan, meminta maaf langsung kepada orang yang dighibahi.
  4. Memperbanyak istighfar: Memohon ampun kepada Allah SWT atas dosa yang telah dilakukan.
  5. Memperbanyak amal saleh: Melakukan banyak kebaikan untuk mengimbangi kesalahan yang telah diperbuat.

Penting untuk diingat bahwa taubat harus dilakukan dengan sungguh-sungguh dan disertai dengan tekad untuk memperbaiki diri.

Pandangan Ulama tentang Ghibah

Para ulama sepakat bahwa ghibah termasuk dosa besar yang harus dihindari. Berikut adalah beberapa pandangan ulama terkemuka tentang ghibah:

  1. Imam Al-Ghazali: Beliau menyatakan bahwa ghibah lebih berbahaya daripada zina, karena zina bisa diampuni dengan taubat, sedangkan ghibah memerlukan pengampunan dari orang yang dighibahi.
  2. Imam An-Nawawi: Dalam kitabnya Riyadhus Shalihin, beliau menegaskan bahwa ghibah termasuk dosa besar yang wajib dijauhi oleh setiap muslim.
  3. Ibnu Hajar Al-Asqalani: Beliau menjelaskan bahwa ghibah tidak hanya terbatas pada perkataan, tetapi juga bisa berupa isyarat atau tulisan.
  4. Syaikh Utsaimin: Beliau menekankan bahwa ghibah bisa terjadi bahkan ketika seseorang hanya mendengarkan dan menyetujui pembicaraan yang mengandung ghibah.

Pandangan para ulama ini semakin menegaskan betapa seriusnya larangan ghibah dalam Islam dan pentingnya kita untuk menjaga diri dari perbuatan tersebut.

Ghibah di Era Media Sosial

Di era digital saat ini, ghibah telah mengambil bentuk baru melalui platform media sosial. Beberapa bentuk ghibah di media sosial antara lain:

  1. Komentar negatif: Menulis komentar yang merendahkan atau mengkritik seseorang secara berlebihan di postingan orang lain.
  2. Menyebarkan gosip: Membagikan informasi yang belum tentu benar tentang seseorang melalui status atau pesan pribadi.
  3. Cyberbullying: Melakukan intimidasi atau pelecehan terhadap seseorang secara online.
  4. Meme dan konten satir: Membuat atau membagikan meme yang mengejek atau merendahkan seseorang.
  5. Ekspos privasi: Membagikan informasi pribadi seseorang tanpa izin.

Untuk menghindari ghibah di media sosial, kita perlu:

  • Berhati-hati dalam menulis status atau komentar
  • Tidak mudah mempercayai dan menyebarkan informasi yang belum terverifikasi
  • Menghargai privasi orang lain
  • Menggunakan media sosial untuk hal-hal yang positif dan bermanfaat

Dengan kesadaran dan kehati-hatian, kita bisa menjadikan media sosial sebagai sarana untuk menebar kebaikan, bukan sarana untuk berghibah.

Tips Menasihati Tanpa Ghibah

Menasihati seseorang tanpa terjebak dalam ghibah memang bukan hal yang mudah. Berikut beberapa tips yang bisa diterapkan:

  1. Niat yang tulus: Pastikan niat kita benar-benar untuk membantu, bukan untuk merendahkan atau mempermalukan.
  2. Bicara empat mata: Jika memungkinkan, berikan nasihat secara pribadi, bukan di depan umum.
  3. Gunakan bahasa yang santun: Pilih kata-kata yang lembut dan tidak menyinggung perasaan.
  4. Fokus pada perilaku, bukan orangnya: Kritik perilaku yang salah, bukan menyerang pribadi orangnya.
  5. Berikan solusi: Jangan hanya mengkritik, tapi juga tawarkan solusi atau bantuan.
  6. Introspeksi diri: Sebelum menasihati orang lain, pastikan kita sudah memperbaiki diri sendiri terlebih dahulu.

Dengan menerapkan tips-tips ini, kita bisa memberikan nasihat yang efektif tanpa terjebak dalam perbuatan ghibah.

Hadits-hadits tentang Ghibah

Berikut beberapa hadits yang berbicara tentang larangan dan bahaya ghibah:

  1. Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda: "Tahukah kalian apakah ghibah itu?" Para sahabat menjawab, "Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui." Beliau bersabda, "Ghibah adalah engkau menyebut saudaramu dengan sesuatu yang ia benci." Ada yang bertanya, "Bagaimana jika yang saya katakan itu benar?" Beliau menjawab, "Jika yang engkau katakan itu benar, maka engkau telah melakukan ghibah. Dan jika yang engkau katakan itu tidak benar, maka engkau telah melakukan fitnah (buhtan)." (HR. Muslim)
  2. Dari Anas bin Malik RA, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda, "Ketika aku di-mi'raj-kan, aku melewati suatu kaum yang mencakar wajah dan dada mereka dengan kuku-kuku tembaga. Aku bertanya, 'Siapakah mereka wahai Jibril?' Jibril menjawab, 'Mereka adalah orang-orang yang memakan daging manusia (melakukan ghibah) dan mencela kehormatan mereka.'" (HR. Abu Dawud)
  3. Dari Abu Barzah Al-Aslami RA, Rasulullah SAW bersabda: "Wahai orang-orang yang beriman dengan lisannya namun iman belum masuk ke dalam hatinya! Janganlah kalian mengghibahi orang-orang muslim dan jangan pula mencari-cari aib mereka. Sebab siapa yang mencari-cari aib mereka, maka Allah akan mencari-cari aibnya. Dan siapa yang Allah cari-cari aibnya, Allah akan mempermalukannya meskipun ia berada di dalam rumahnya." (HR. Abu Dawud)

Hadits-hadits ini menunjukkan betapa seriusnya larangan ghibah dalam Islam dan betapa beratnya konsekuensi bagi pelakunya, baik di dunia maupun di akhirat.

Kisah Teladan Menghindari Ghibah

Berikut adalah beberapa kisah teladan dari para ulama dan orang saleh yang menunjukkan bagaimana mereka sangat berhati-hati untuk menghindari ghibah:

  1. Kisah Imam Ahmad bin Hanbal: Suatu hari, seseorang datang kepada Imam Ahmad untuk mengadukan tetangganya. Imam Ahmad langsung menutup telinganya dan berkata, "Wahai saudaraku, tutuplah aib saudaramu itu. Jangan engkau buka aibnya di hadapanku."
  2. Kisah Imam Syafi'i: Ketika ditanya mengapa beliau tidak pernah mengghibah orang lain, Imam Syafi'i menjawab, "Aku tidak ingin malaikat pencatat amal menuliskan dalam buku catatanku bahwa aku telah memakan daging saudaraku sendiri."
  3. Kisah Hasan Al-Bashri: Seorang lelaki datang kepada Hasan Al-Bashri dan berkata, "Aku mendengar seseorang mengghibahimu." Hasan Al-Bashri menjawab, "Dia telah memberikan kebaikannya kepadaku, maka aku akan mengirimkan hadiah untuknya sebagai balasan."
  4. Kisah Abu Dzar Al-Ghifari: Ketika seseorang mencoba mengghibah di hadapannya, Abu Dzar berkata, "Berhentilah! Demi Allah, bau mulutmu lebih busuk daripada bangkai keledai."

Kisah-kisah ini menunjukkan bagaimana para ulama dan orang saleh sangat berhati-hati dalam menjaga lisannya dan berusaha keras menghindari ghibah. Mereka tidak hanya menghindari ghibah untuk diri mereka sendiri, tetapi juga berusaha mencegah orang lain dari melakukannya.

FAQ Seputar Ghibah

  1. Q: Apakah membicarakan kebaikan seseorang juga termasuk ghibah? A: Tidak, membicarakan kebaikan seseorang tidak termasuk ghibah. Bahkan, hal ini dianjurkan dalam Islam sebagai bentuk apresiasi dan motivasi untuk berbuat baik.
  2. Q: Bagaimana jika saya tidak sengaja melakukan ghibah? A: Jika tidak sengaja, segera beristighfar dan bertekad untuk tidak mengulanginya. Jika memungkinkan, minta maaflah kepada orang yang dighibahi.
  3. Q: Apakah mendengarkan ghibah juga berdosa? A: Ya, mendengarkan ghibah dengan sengaja dan menikmatinya juga termasuk dosa. Kita diwajibkan untuk mencegah atau meninggalkan majelis yang di dalamnya terjadi ghibah.
  4. Q: Bagaimana cara menegur orang yang sedang berghibah? A: Tegurlah dengan lembut dan bijaksana. Bisa dengan mengalihkan pembicaraan atau mengingatkan tentang larangan ghibah dalam Islam.
  5. Q: Apakah ghibah bisa diampuni? A: Ya, ghibah bisa diampuni dengan bertaubat sungguh-sungguh, meminta maaf kepada orang yang dighibahi (jika memungkinkan), dan memperbanyak amal saleh.

Dengan memahami jawaban atas pertanyaan-pertanyaan umum ini, diharapkan kita bisa lebih waspada dan bijak dalam menyikapi masalah ghibah dalam kehidupan sehari-hari.

Kesimpulan

Ghibah merupakan perbuatan tercela yang memiliki dampak serius bagi kehidupan individu dan masyarakat. Islam dengan tegas melarang perbuatan ini dan menyerukannya sebagai dosa besar. Memahami arti ghibah, bentuk-bentuknya, serta cara menghindarinya adalah langkah penting dalam menjaga hubungan baik dengan sesama dan meningkatkan kualitas diri sebagai seorang muslim.

Dalam era digital yang penuh tantangan ini, kita perlu lebih waspada terhadap berbagai bentuk ghibah yang mungkin terjadi, terutama di media sosial. Dengan kesadaran dan upaya yang sungguh-sungguh, kita bisa menciptakan lingkungan yang lebih positif dan harmonis, baik di dunia nyata maupun di dunia maya.

Marilah kita bersama-sama berusaha untuk menjaga lisan dan perilaku kita dari perbuatan ghibah. Dengan demikian, kita tidak hanya menjaga hubungan baik dengan sesama manusia, tetapi juga meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah SWT. Semoga artikel ini bermanfaat dan menjadi pengingat bagi kita semua untuk senantiasa menjaga diri dari perbuatan ghibah.

Lanjutkan Membaca ↓
Loading

Disclaimer: Artikel ini ditulis ulang oleh redaksi dengan menggunakan Artificial Intelligence

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya