Liputan6.com, Jakarta Hari Raya Idul Fitri atau Lebaran adalah momen berkumpul dengan keluarga besar. Sering kali disertai dengan pertanyaan-pertanyaan pribadi yang membuat sebagian tidak nyaman.
Mulai dari pertanyaan "Kapan nikah?" hingga "Kapan punya anak?", basa-basi seperti ini bisa terasa mengganggu bagi sebagian orang.
Baca Juga
Menurut psikolog klinis Nena Mawar Sari pertanyaan seperti kapan menikah, kapan punya anak dan lainnya kerap dilontarkan kerabat atau anggota keluarga merupakan pertanyaan yang netral.
Advertisement
"Perlu disadari bahwa pertanyaan-pertanyaan itu adalah netral sebenarnya. Meskipun memang bagi beberapa orang pertanyaan itu dianggap tidak sopan dan melewati batasan," ujar Nena mengutip Antara.
Menurut Nena, mahami bahwa pertanyaan tersebut netral menjadi hal yang penting. Sehingga suasana hati saat libur juga tidak terganggu.
Biasanya yang menanyakan tentang kapan menikah, kapan punya anak dan lain sebagainya adalah orang yang tidak kenal secara personal atau dekat. Sementara bila seseorang memiliki kedekatan secara emosional biasanya akan menanyakan mengenai kabar atau kondisi belakangan.
Jurus Hadapi Pertanyaan Sensitif atau Terlalu Privasi
Menanggapi pertanyaan yang dirasa sensitif, Nena merekomendasikan untuk melakukan beberapa hal, yakni dengan tersenyum dan kemudian menghindar.
"Paling tidak orang tersebut juga tahu bahwa kita tidak nyaman dengan situasi tersebut " tegasnya.
Tanggapi dengan Bercanda
Kedua yakni menanggapinya dengan santai dan bercanda. "Misalnya, kapan nikah? Ya besok kalau tidak kesiangan," katanya.
Kemudian bila menghadapi orang yang dirasa toksik, dapat senyum dan berlalu saja. "Jadi tidak mesti semuanya diberikan jawaban yang lengkap," katanya lagi.
Advertisement
Bila Orang yang Dekat Menanyakan, Harus Jawab Apa?
Bila yang menanyakan orang terdekat bisa saja memilih untuk merespon tersenyum, berlalu dan hanya mengatakan "doakan saja".
Sementara itu, bila yang menanyakan kapan nikah atau kapan punya anak adalah orangtua, psikolog yang praktik di klinik Bali Psikolog bisa menyampaikan alasan meski tidak rinci. Lalu, bisa menyerahkan sepenuhnya pada Tuhan lewat lantunan doa.
