Liputan6.com, Jakarta Penerbangan mungkin menjadi pilihan transportasi yang praktis bagi banyak orang, tetapi bagi pasien dengan penyakit jantung, penerbangan bisa berisiko. Beberapa kondisi medis tertentu pada pasien jantung memang mengharuskan mereka untuk menunda perjalanan udara. Dr. Mega Febrianora, spesialis penyakit jantung, mengungkapkan bahwa ada kategori pasien jantung yang sebaiknya menghindari penerbangan.
Dr. Mega menjelaskan bahwa bagi pasien yang masih berada dalam kondisi akut, termasuk yang baru saja mengalami serangan jantung, sangat tidak disarankan untuk terbang. "Secara garis besar, pasien-pasien dengan kondisi kesehatan jantung yang masih akut artinya belum stabil, belum direkomendasikan seperti pasien yang habis serangan jantung dalam dua minggu terakhir itu jangan dulu karena jika sudah dipasang ring dan dibuka sumbatan pembuluh arah sudah secara sempurna atau belum," ujarnya, dikutip dari ANTARA.
Kemudian beberapa jenis penyakit jantung, seperti gagal jantung berat, aritmia yang belum terkontrol, atau sindrom Eisenmenger, juga menjadi pertimbangan untuk menunda perjalanan udara. Keberadaan fasilitas medis yang terbatas di pesawat menjadikan penerbangan berisiko tinggi bagi pasien dalam kondisi tersebut.
Advertisement
1. Pasien dengan Serangan Jantung Baru-Baru Ini
Pasien yang baru mengalami serangan jantung, terutama dalam dua minggu terakhir, tidak disarankan untuk naik pesawat. Dalam kasus ini, pembuluh darah yang tersumbat mungkin belum sepenuhnya terbuka, dan jika kondisi tersebut tidak tertangani dengan baik, bisa berisiko tinggi di pesawat. "jika sudah dipasang ring dan dibuka sumbatan pembuluh arah sudah secara sempurna atau belum," kata Dr. Mega.
Penting untuk dicatat bahwa di pesawat, tidak ada fasilitas medis yang memadai untuk menangani serangan jantung secara langsung. Jika terjadi masalah medis selama penerbangan, pasien mungkin memerlukan penanganan segera yang sulit dilakukan di udara.
Advertisement
2. Pasien dengan Gagal Jantung Berat
Pasien dengan gagal jantung dalam kondisi berat, yang bahkan mengalami sesak napas saat beristirahat, juga tidak dianjurkan untuk melakukan penerbangan. Dr. Mega menjelaskan bahwa pasien dengan kondisi seperti ini membutuhkan perawatan medis lanjutan di rumah sakit, bukan penerbangan jauh yang dapat memperburuk kondisi kesehatan mereka.
Pasien dengan gagal jantung yang parah sebaiknya melakukan perawatan intensif di rumah sakit, dan tidak memaksakan diri untuk bepergian dengan pesawat hingga kondisinya membaik.
3. Pasien yang Baru Menjalani Pembedahan Jantung
Bagi pasien yang baru menjalani pembedahan jantung atau prosedur terkait katup jantung dalam tiga minggu terakhir, disarankan untuk tidak melakukan perjalanan udara. Pasien yang baru menjalani prosedur bedah jantung memerlukan waktu untuk pemulihan yang cukup sebelum melakukan aktivitas fisik yang berat, termasuk perjalanan udara.
Dr. Mega mengingatkan, “Pasien yang baru saja menjalani tindakan medis pada jantung memerlukan stabilitas kondisi tubuh yang lebih baik sebelum terbang." Jika pasien dipaksa untuk terbang terlalu cepat, bisa berisiko terhadap kesembuhan mereka.
Advertisement
4. Pasien dengan Gangguan Irama Jantung (Aritmia)
Gangguan irama jantung atau aritmia yang belum mendapatkan pengobatan yang tepat juga menjadi alasan utama pasien dengan kondisi jantung untuk menghindari penerbangan. Tanpa terapi yang memadai, aritmia dapat memperburuk kondisi jantung pasien, terlebih dalam kondisi penerbangan di mana oksigen di udara lebih terbatas dan tekanan kabin berubah.
Pasien yang memiliki gangguan irama jantung harus mendapatkan terapi medis yang tepat dan melakukan pemeriksaan lebih lanjut sebelum mempertimbangkan perjalanan udara.
5. Sindrom Eisenmenger dan Penyakit Jantung Bawaan
Pasien yang mengidap sindrom Eisenmenger atau kelainan jantung bawaan yang menyebabkan gangguan pernapasan juga harus menghindari penerbangan. Kondisi ini dapat menyebabkan penurunan oksigen dalam tubuh, dan perubahan tekanan udara di dalam pesawat dapat memperburuk masalah pernapasan.
Sindrom Eisenmenger, yang merupakan salah satu bentuk penyakit jantung bawaan, memerlukan perawatan medis khusus, dan penerbangan udara dapat memperburuk gejalanya, yang membuatnya berisiko bagi pasien tersebut.
Advertisement
Pertanyaan yang Sering Diajukan (PAA)
Apakah semua pasien jantung tidak boleh naik pesawat?
Tidak semua pasien jantung dilarang naik pesawat. Keputusan ini tergantung pada kondisi kesehatan masing-masing pasien. Pasien dengan kondisi akut atau yang baru saja menjalani prosedur medis besar perlu menghindari penerbangan.
Apa yang harus dilakukan jika saya seorang pasien jantung dan perlu bepergian dengan pesawat?
Jika Anda merupakan pasien dengan kondisi jantung, sangat penting untuk berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu untuk menilai apakah perjalanan udara aman bagi Anda.
Bagaimana dengan pasien yang memakai pacu jantung?
Pasien dengan pacu jantung umumnya bisa terbang, namun mereka tetap perlu memastikan kondisi jantung mereka stabil dan berkonsultasi dengan dokter untuk memastikan tidak ada masalah selama penerbangan.
Apakah penurunan kondisi kesehatan bisa terjadi saat terbang?
Ya, perubahan tekanan udara dan oksigen di kabin pesawat dapat mempengaruhi pasien jantung, terutama bagi mereka yang dalam kondisi tidak stabil.
