Liputan6.com, Jakarta - Otoritas Pariwisata Thailand (TAT) mengonfirmasi bahwa Festival Songkran di seluruh negeri akan tetap berlangsung sesuai jadwal meski ada kekhawatiran risiko keselamatan usai gempa. Setelah menilai situasi pascagempa, baru-baru ini, TAT melaporkan bahwa kondisi di Bangkok dan wilayah lain telah kembali normal.
Melansir VN Express, Selasa (1/4/2025), Bandara Internasional Don Mueang dan Suvarnabhumi di Bangkok tetap beroperasi penuh setelah gempa Myanmar. Transportasi umum juga terus beroperasi tanpa gangguan, sementara hotel dan tempat hiburan di destinasi wisata utama tetap tidak terpengaruh.
Advertisement
Baca Juga
Demi memastikan keselamatan pengunjung, pihaknya akan berkoordinasi dengan Institut Teknik Thailand dan Departemen Pekerjaan Umum setempat untuk memeriksa hotel-hotel berlokasi di bangunan tinggi. Pihak berwenang meyakinkan masyarakat bahwa Festival Songkran, perayaan menyiram air selama seminggu yang dimulai pada pertengahan April, akan berlangsung sesuai rencana di Bangkok, Chiang Mai, dan lokasi lain.
Advertisement
Jumlah korban tewas di Bangkok telah meningkat jadi 19 setelah gempa magnitudo 7,7 mengguncang Myanmar bagian tengah pada Jumat, 28 Maret 2025, dengan getaran yang sangat terasa di ibu kota Bangkok dan wilayah lain di Vietnam dan China.
Banyak turis asing di Bangkok panik saat getaran mengguncang gedung-gedung tinggi, membuat dinding retak dan menyebabkan air tumpah dari kolam renang di atap. Antara Januari dan 16 Maret 2025, Thailand menyambut 8,3 juta wisatawan mancanegara (wisman), meningkat 3,9 persen dari tahun ke tahun.
Angka Kunjungan Wisman Terancam Turun
Kini, Thailand terancam mencatat penurunan kedatangan wisatawan asing 10 hingga 15 persen selama dua minggu ke depan akibat gempa dahsyat di Myanmar yang menyebabkan getaran di Bangkok. Sekitar 10 persen turis asing meninggalkan hotel lebih awal setelah gempa pekan lalu, kata Presiden Asosiasi Hotel Thailand, Thienprasit Chaiyapatranun, lapor Bangkok Post.
Waktu terjadinya bencana mengancam akan mengganggu musim pariwisata tersibuk di Negeri Gajah Putih. Ini salah satunya mengarah pada Festival Songkran yang biasanya menarik jutaan pengunjung internasional.
Turis asing yang bepergian dalam kelompok tampaknya tidak terlalu khawatir, karena jadwal penerbangan di bandara-bandara besar Thailand tetap normal, kata Sekretaris Jenderal Asosiasi Agen Perjalanan Thailand, Adith Chairattananon.
"Namun, wisatawan yang belum memesan perjalanan ke Thailand mungkin memutuskan membatalkan rencana mereka," katanya. "Dampaknya bisa menjadi lebih nyata selama dua minggu ke depan."
Menanggapi gempa tersebut, beberapa platform perjalanan China kini menawarkan opsi pembatalan dan pengembalian uang bagi wisatawan yang menuju Thailand, Global Times melaporkan.
Advertisement
Risiko Pembatalan Perjalanan
Bagi pemesanan hotel yang dilakukan sebelum 28 Maret 2025, dengan masa inap antara 28 Maret dan 4 April 2025 di Myanmar, Thailand, dan Laos, platform ini menawarkan pengembalian uang penuh dan perubahan tiket pesawat yang fleksibel jika kebijakan maskapai mengizinkannya.
Demi memulihkan kepercayaan, pemerintah Thailand telah meyakinkan para pengunjung bahwa tetap aman untuk bepergian ke negara tersebut. Terpisah, polisi menangkap empat pria China yang memasuki area reruntuhan gedung 30 lantai yang masih dibangun dan luluh lantak akibat terdampak gempa. Insiden itu terjadi pada Minggu, 30 Maret 2025.
Mengutip The Thaiger, Selasa, Wakil Kepala Kepolisian Metropolitan Bangkok Mayjen Polisi Napasil Poonsawat mengonfirmasi hal itu. Ia menyebut, polisi segera dihubungi warga untuk menindak keempat pria China tersebut dengan salah satunya mengaku sebagai direktur proyek.
Saat diamankan, keempat pria kedapatan mengambil 32 berkas dokumen, termasuk file kontraktor konstruksi dan laporan teknik. Dalam proses interogasi oleh polisi, mereka mengaku memasuki lokasi tersebut untuk mengambil dokumen asuransi dari kontainer di tempat parkir.
Area Bencana Publik
Polisi kemudian memverifikasi sejumlah dokumen pribadi mereka, seperti visa, izin kerja, dan paspor. Keempat pria itu dikonfirmasi dipekerjakan secara legal oleh subkontraktor yang berafiliasi dengan Italian-Thai Development Plc, perusahaan yang bertanggung jawab adalan proyek konstruksi patungan ITD-CREC.
Polisi telah menyita dokumen perusahaan yang diambil untuk pemeriksaan lebih lanjut. Kantor polisi setempat juga menghubungi kantor Gubernur Bangkok untuk mengecek apakah para pria tersebut memiliki otorisasi untuk berada di lokasi tersebut.
Sebelumnya, Gubernur Bangkok Chadchart Sittipunt mendeklarasikan lokasi tersebut sebagai area bencana publik, membatasi akses berdasarkan Undang-Undang Pencegahan dan Mitigasi Bencana. Itu berarti hanya personel berwenang yang diizinkan masuk.
Kini, keempat pria China itu dibebaskan sementara. Jika terbukti bersalah, mereka menghadapi hukuman penjara hingga tiga bulan atau denda hingga 6.000 baht, atau sekitar Rp2,9 juta. Publik kembali diingatkan untuk tidak memasuki area tersebut tanpa izin karena pembatasan hukum.
Gedung tinggi itu sedianya akan digunakan sebagai Kantor Audit Negara (SON) setelah jadi. Tapi, insiden tersebut memperlama proses pemindahan kantor, bahkan menyebabkan korban jiwa dan hilang yang mencapai lebih dari 100 orang.
Advertisement
