Penyebab Gempa Dahsyat Myanmar 2025, Mengapa Kerusakannya Begitu Besar?

Gempa berkekuatan 7,7 mengguncang Myanmar pada 28 Maret 2025, disebabkan oleh Sesar Sagaing yang mengakibatkan kerusakan parah dan banyak korban.

oleh Fadila Adelin Diperbarui 02 Apr 2025, 10:15 WIB
Diterbitkan 02 Apr 2025, 10:15 WIB
Gedung yang Masih Dalam Proses Pembangunan di Thailand Ambruk
Tim penyelamat berupaya mencari korban di sebuah lokasi bangunan yang runtuh di Bangkok pada tanggal 28 Maret 2025, setelah gempa bumi dahsyat mengguncang Myanmar tengah. (Lillian SUWANRUMPHA/AFP)... Selengkapnya

Liputan6.com, Jakarta Gempa bumi yang mengguncang Myanmar pada 28 Maret 2025 dengan kekuatan magnitudo 7,7 menjadi salah satu bencana alam paling mematikan dalam sejarah negara tersebut. Terletak di dekat kota Mandalay, gempa ini terjadi pada pukul 12.50 siang waktu setempat dan memiliki kedalaman hanya 10 kilometer. Aktivitas seismik ini disebabkan oleh pergerakan pada Sesar Sagaing, yang merupakan patahan utama di wilayah tersebut. Getaran gempa dirasakan hingga ke negara-negara tetangga seperti Thailand, China, dan India, menyebabkan kerusakan yang signifikan dan menimbulkan banyak korban jiwa.

Dalam laporan resmi, pemerintah Myanmar menyebutkan bahwa setidaknya hingga saat ini lebih dari 2.700 orang tewas akibat gempa ini, sementara ribuan lainnya mengalami luka-luka. Banyak bangunan yang runtuh, termasuk gedung-gedung pencakar langit di Bangkok, Thailand, akibat fenomena gelombang gempa yang diperkuat oleh tanah lunak. Meskipun gempa ini terjadi jauh dari Indonesia, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan bahwa tidak ada hubungan antara gempa di Myanmar dan aktivitas seismik di Indonesia.

Situasi di Myanmar semakin diperparah oleh konflik internal yang sedang berlangsung, yang menghambat upaya penyelamatan dan distribusi bantuan. Banyak daerah yang sulit dijangkau, dan kurangnya peralatan berat membuat proses evakuasi korban yang terjebak di reruntuhan menjadi lebih lambat. Dalam konteks ini, penting untuk memahami penyebab gempa yang terjadi dan mengapa dampaknya sangat menghancurkan. Berikut ini Liputan6.com rangkum, seperti yang telah dilansir dari Reuters, Rabu (02/04/2025). 

Penyebab Gempa Myanmar dan Thailand

Penyebab utama gempa bumi di Myanmar ini adalah aktivitas Sesar Sagaing, yang merupakan patahan geser utama. Patahan ini membentang sepanjang lebih dari 1.000 kilometer dan terletak di perbatasan antara Lempeng India dan Lempeng Eurasia. Kedua lempeng ini bergerak saling melewati secara horizontal dengan kecepatan yang berbeda, menghasilkan akumulasi tekanan yang cukup besar. Ketika tekanan ini melebihi kekuatan batuan, terjadilah pelepasan energi yang memicu gempa bumi.

Gempa ini juga memiliki dampak yang jauh hingga ke Thailand, di mana getarannya terasa kuat dan menyebabkan kerusakan bangunan. Meskipun jarak episenter gempa cukup jauh dari Bangkok, fenomena resonansi pada tanah lunak di kota tersebut memperkuat gelombang gempa, sehingga mengakibatkan kerusakan yang signifikan. Menurut laporan, setidaknya 43 orang terluka dan satu orang meninggal dunia di Thailand akibat runtuhnya bangunan.

Mengapa Gempa Kali Ini Sangat Destruktif

Gempa Myanmar, Jumlah Korban Tewas Bertambah
Sebelumnya, gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang Myanmar pada Jumat (28/3/2025) siang. (Foto: AFP)... Selengkapnya

Beberapa faktor menjadikan gempa kali ini sangat destruktif. Pertama, kedalaman gempa yang dangkal, hanya sekitar 10 kilometer, membuat energi seismik tidak sempat melemah sebelum mencapai permukaan. Hal ini menyebabkan guncangan terasa sangat kuat di daerah yang padat penduduk, termasuk di kota Mandalay.

Menurut U.S. Geological Survey, gempa ini menghasilkan energi yang lebih besar daripada bom atom yang dijatuhkan di Hiroshima, Jepang, pada akhir Perang Dunia II. Jenis patahan yang terjadi, yakni patahan lurus atau strike-slip, memungkinkan energi gempa tersebar luas, menyebabkan getaran yang sangat terasa bahkan di wilayah yang jauh dari pusat gempa.

Salah satu faktor yang membuat gempa ini semakin langka dan merusak adalah sifat dari gempa itu sendiri, yang disebut "super shear". Gempa super shear terjadi ketika pergerakan patahan lebih cepat daripada gelombang seismik yang dapat merambat melalui Bumi. Pergerakan yang cepat ini membuat dampak gempa menjadi lebih besar

Sesar Sagaing Memiliki Kemiripan dengan Sesar San Andreas

Sesar Sagaing adalah patahan utama yang membelah Myanmar bagian tengah dan merupakan salah satu zona patahan paling aktif di Asia Tenggara. Patahan ini memiliki mekanisme pergerakan horizontal (strike-slip) yang menghasilkan energi gempa yang sangat besar. Aktivitas pada sesar ini telah melepaskan energi gempa yang cukup besar, dan kedalaman gempa yang dangkal memperburuk situasi.

Sama seperti Sesar San Andreas yang terkenal di California, pergerakan di sepanjang Sesar Sagaing telah menyebabkan banyak gempa besar di masa lalu.

Para ahli seismologi terus memantau aktivitas Sesar Sagaing untuk memahami lebih dalam tentang potensi gempa di masa depan. Dengan pemahaman yang lebih baik mengenai mekanisme patahan ini, diharapkan mitigasi risiko bencana dapat dilakukan dengan lebih efektif. Gempa di Myanmar menjadi pengingat betapa rentannya kawasan Asia Tenggara terhadap aktivitas seismik yang dapat terjadi kapan saja.

Lanjutkan Membaca ↓
Loading

Video Pilihan Hari Ini

Produksi Liputan6.com

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya