Keluarga Jenderal Ahmad Yani Sambut Baik Pemutaran Film G30S/PKI

Keluarga besar Jenderal Ahmad Yani turut angkat bicara menyikapi polemik pemutaran ulang film G30S/PKI.

oleh Mevi Linawati diperbarui 21 Sep 2017, 16:59 WIB
Diterbitkan 21 Sep 2017, 16:59 WIB

Liputan6.com, Jakarta - Bekas tembakan di kaca pintu dan beberapa bagian di sebuah rumah di Jalan Latuharhary, Menteng, Jakarta Pusat, tidak berubah selama 52 tahun terakhir. Ya, di rumah itulah jejak kekejaman Partai Komunis Indonesia (PKI) terlihat jelas di tempat tinggal Jenderal Ahmad Yani beserta delapan putra-putrinya yang kini dijadikan museum.

Seperti ditayangkan Liputan6 Petang SCTV, Kamis (21/9/2017), di ruang tamu bangunan bersejarah itu pula ditandai letak jatuhnya Jenderal Ahmad Yani setelah diberondong peluru dari senjata pasukan Cakrabirawa.

Pascareformasi, seiring jatuhnya rezim orde baru, film kekejaman PKI berhenti ditayangkan di stasiun televisi. Kini, 19 tahun berlalu, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo menginstruksikan para prajurit untuk menonton kembali film yang merenggut nyawa para pahlawan revolusi itu.

Namun demikian, sikap itu menuai beragam reaksi. Bahkan, keluarga besar Jenderal Ahmad Yani juga turut angkat bicara. Mereka khawatir pengemasan ulang sejarah kekejaman PKI sesuai kondisi saat ini justru akan mengaburkan sejarah itu sendiri.

Sementara itu, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyoroti unsur kekerasan dan sadisme dalam film tersebut. KPAI menilai hal tersebut kurang tepat ditonton anak-anak.

Film G30S/PKI versi lama berdurasi 271 menit. Setelah diproduksi selama masa orde baru yang dipimpin Presiden Soeharto, film tersebut selalu diputar dan wajib ditonton jelang Hari Kesaktian Pancasila atau tanggal 30 September. Namun, sejak September 1998, pemutaran film G30S/PKI dihentikan.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya