Liputan6.com, Jakarta - Kepadatan lalu lintas terjadi di jalur Puncak, Bogor, Jawa Barat pada Selasa, 1 April 2025Â atau H+1 Lebaran Idul Fitri 1446 H. Ribuan kendaraan membanjiri kawasan tersebut, terutama karena libur Lebaran dan meningkatnya wisatawan yang ingin menikmati keindahan alam di Puncak.
Polisi pun langsung bertindak cepat menerapkan sejumlah rekayasa lalu lintas, mulai dari pembatasan kendaraan dengan sistem ganjil genap, pemberlakuan contraflow, hingga one way untuk mengurai kemacetan yang mencapai 1,5 hingga 2 kilometer di sekitar Simpang Gadog.
Polisi mencatat, hingga pukul 07.00 WIB tadi pagi, sudah ada sekitar 9.000 kendaraan yang telah memasuki kawasan Puncak Bogor. Hal ini menunjukkan tingginya minat masyarakat untuk menghabiskan waktu liburan di kawasan Puncak, baik untuk wisata maupun bersilaturahmi.
Advertisement
Adapun sistem ganjil genap sudah diberlakukan mulai pukul 06.00 WIB. Kebijakan pembatasan kendaraan ini akan berlangsung hingga 8 April 2025 atau selama Operasi Ketupat untuk mengantisipasi lonjakan wisatawan saat libur Lebaran.
"Tadi pagi pukul 06.00 WIB sudah terlihat adanya peningkatan baik itu kendaraan yang akan menuju kawasan wisata puncak untuk rekreasi maupun arus silaturahmi dari warga masyarakat di luar masyarakat Kabupaten Bogor," ujar KBO Satlantas Polres Bogor Iptu Ardian Novianto.
Langkah-langkah ini diambil untuk memastikan kelancaran arus lalu lintas dan kenyamanan para wisatawan selama periode libur Lebaran Idul Fitri 2025.
Rekayasa Lalu Lintas di Jalur Puncak
Polisi menerapkan berbagai rekayasa lalu lintas untuk mengatasi kemacetan di jalur Puncak. Selain sistem ganjil genap, contraflow diberlakukan dari Exit Tol Ciawi hingga KM 46+400 untuk kendaraan menuju Ciawi dan Sukabumi. Langkah ini bertujuan untuk memperlancar arus kendaraan dari arah Jakarta menuju Puncak.
Namun, kepadatan lalu lintas tetap terjadi, bahkan mencapai 1,5 hingga 2 kilometer di Simpang Gadog. "Pengamatan secara visual memang antrean kendaraan bertambah kurang lebih 1 setengah sampai 2 KM menjelang simpang Gadog, sehingga kami berlakukan rekayasa one way dari Jakarta menuju Puncak," ungkap Iptu Ardian. One way diberlakukan untuk mengurai kemacetan yang cukup parah tersebut.
Untuk memastikan efektivitas rekayasa lalu lintas, sebanyak 285 petugas diterjunkan ke lapangan. Petugas gabungan dari Satlantas, Samapta, dan Brimob berjaga di titik-titik rawan kemacetan, seperti Simpang Pasir Muncang, Megamendung, Simpang Pasar Cisarua, Simpang Taman Safari, dan Rest Area Gunung Mas.
"Apabila memang ada peningkatan arus atau kepadatan di jalur Puncak, itu personel kami sebar di kategorikan, personel pengaturan dan personel patroli untuk tim-tim urai yang menggunakan roda dua," tambah Iptu Ardian.
Advertisement
Masyarakat Diimbau Perhatikan Nopol Kendaraan
Penerapan sistem ganjil genap di jalur Puncak bertujuan untuk membatasi jumlah kendaraan yang masuk ke kawasan wisata. Sistem ini diberlakukan hingga 8 April 2025 atau sampai berakhirnya masa Operasi Ketupat. Hal ini diharapkan dapat mengurangi kepadatan lalu lintas dan mencegah kemacetan yang lebih parah.
Meskipun sistem ganjil genap diterapkan, kemacetan masih terjadi di beberapa titik. Hal ini menunjukkan bahwa sistem ganjil genap saja tidak cukup untuk mengatasi lonjakan kendaraan yang signifikan. Diperlukan strategi terpadu dan koordinasi yang lebih baik antara pihak kepolisian dan instansi terkait.
Karena itu, polisi mengimbau masyarakat mematuhi setiap aturan dan arahan yang disampaikan petugas. Selain itu, masyarakat juga diimbau memperhatikan nomor polisi (nopol) kendaraan yang digunakan agar sesuai dengan tanggal ganjil atau genap.
"Mohon perhatikan waktu keberangkatan yang disesuaikan dengan pelat nomor kendaraan, karena kami akan menerapkan sistem ganjil genap sampai dengan tanggal 8 April nanti atau sampai berakhirnya masa operasi ketupat, kemudian pergunakan kendaraan yang betul-betul prima," ucap Iptu Ardian kepada masyarakat. Imbauan ini penting untuk meminimalisir potensi kemacetan dan memastikan keselamatan para pengguna jalan.
Titik Rawan Macet dan Pengamanan
Beberapa titik di jalur Puncak dikenal sebagai titik rawan macet. Titik-titik tersebut antara lain Simpang Pasir Muncang, Megamendung, Simpang Pasar Cisarua, Simpang Taman Safari, dan Rest Area Gunung Mas. Polisi telah menempatkan personel di setiap titik rawan tersebut untuk mengantisipasi dan mengurai kemacetan.
Di setiap titik rawan, terdapat sekitar 10 personel yang bertugas mengatur lalu lintas. Petugas tersebut terdiri dari personel pengaturan dan personel patroli yang menggunakan sepeda motor untuk membantu mengurai kemacetan secara cepat dan efektif. Keberadaan petugas ini diharapkan dapat membantu memperlancar arus lalu lintas dan mencegah terjadinya kemacetan yang berkepanjangan.
Dengan adanya penambahan personel dan strategi pengaturan lalu lintas yang terencana, diharapkan dapat meminimalisir dampak kemacetan dan memberikan kenyamanan bagi para pengguna jalan di jalur Puncak. Koordinasi yang baik antar instansi terkait juga sangat penting untuk memastikan kelancaran arus lalu lintas.
Advertisement
Antisipasi Kemacetan di Masa Mendatang
Kejadian kemacetan di jalur Puncak pada 1 April 2025 menjadi pelajaran penting untuk mengantisipasi kejadian serupa di masa mendatang. Perencanaan yang matang dan kolaborasi yang baik antara berbagai pihak sangat diperlukan. Peningkatan kapasitas jalan dan infrastruktur pendukung juga perlu dipertimbangkan.
Selain itu, sosialisasi kepada masyarakat tentang pentingnya mematuhi aturan lalu lintas dan merencanakan perjalanan dengan baik juga sangat penting. Dengan kesadaran dan kerjasama semua pihak, diharapkan kemacetan di jalur Puncak dapat diminimalisir di masa mendatang. Evaluasi terhadap sistem ganjil genap juga perlu dilakukan untuk meningkatkan efektivitasnya.
Edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya kepatuhan terhadap aturan lalu lintas dan perencanaan perjalanan yang baik juga perlu digalakkan. Dengan demikian, diharapkan kemacetan di jalur Puncak dapat diminimalisir dan kenyamanan pengguna jalan dapat terjaga.
